Kendari – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat tren penurunan angka kemiskinan di wilayah Bumi Anoa. Pada September 2025, persentase penduduk miskin di Sultra tercatat sebesar 10,14 persen.
Data ini disampaikan Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, MA, dalam siaran pers yang digelar di Kantor BPS Sultra, Kamis (5/2).
Hadi menjelaskan, angka kemiskinan pada September 2025 turun sebesar 0,40 persen poin dibandingkan Maret 2025. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni September 2024, tingkat kemiskinan juga mengalami penurunan sebesar 0,49 persen poin.
Dari sisi jumlah penduduk, pada September 2025 tercatat sebanyak 295,31 ribu orang masuk dalam kategori penduduk miskin. Jumlah tersebut berkurang 9,12 ribu orang dibandingkan Maret 2025, serta turun 9,96 ribu orang dibandingkan September 2024.
Sementara itu, Garis Kemiskinan di Sultra pada September 2025 tercatat sebesar Rp 519.411 per kapita per bulan. Angka ini terdiri atas Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp 386.850 atau 74,48 persen, serta Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp 132.561 atau 25,52 persen.
BPS juga mencatat, rata-rata rumah tangga miskin di Sultra memiliki 6,04 anggota rumah tangga. Dengan komposisi tersebut, besaran Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata mencapai Rp3.137.242 per bulan.
Lebih lanjut, Hadi mengungkapkan adanya perbedaan tren kemiskinan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Menurutnya, kemiskinan di wilayah perkotaan justru mengalami peningkatan, sementara di perdesaan menunjukkan penurunan.
“Jika pemerintah ingin fokus mengentaskan kemiskinan, maka saat ini perhatian perlu diarahkan ke wilayah perkotaan. Kebutuhan hidup di perkotaan berbeda dengan di perdesaan dan cenderung meningkat,” kata Hadi.
“Karena itu, penanganan kemiskinan di perkotaan sebaiknya menjadi perhatian bersama, tidak hanya pemerintah,” pungkasnya.
Editor: Muh Fajar








