Daerah  

Baru 6 Bulan Diresmikan Gubernur Sultra, Terminal Lacaria Kolut Sudah Rusak-Kumuh

Kondisi bagian depan Terminal Lacaria Kolaka Utara. Foto: Dok. Istimewa.

Kolaka Utara – Ironi kembali terjadi dalam pembangunan infrastruktur di Sulawesi Tenggara (Sultra). Terminal Tipe B Kolaka Utara atau dikenal dengan Terminal Lacaria yang baru diresmikan enam bulan lalu oleh Gubernur Andi Sumangerukka kini sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

Pantauan di lokasi memperlihatkan kondisi yang jauh dari kata layak. Atap seng di bagian gerbang terminal tampak menganga terbuka, meski bangunan ini bahkan belum sempat difungsikan secara maksimal.

Area sekitar terminal juga mulai terlihat kumuh, ditumbuhi rumput liar dan lumut yang menempel di pintu gerbang masuk. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin proyek bernilai miliaran rupiah bisa rusak secepat ini dan kumuh.

Terminal Lacaria diketahui menelan anggaran dari APBD Sultra Tahun 2024 sebesar Rp 2,79 miliar. Anggaran sebesar itu tentu bukan jumlah kecil. Harapan masyarakat, terminal ini dapat menjadi simpul transportasi yang modern dan mendukung mobilitas warga serta mendorong pertumbuhan ekonomi di Kolaka Utara.

Namun yang terlihat justru sebaliknya, bangunan baru tersebut kini bak monumen terbengkalai.

Saat media mencoba mengonfirmasi ke Kepala Dinas Perhubungan Sultra, Muhamad Rajulan, terkait kondisi terminal, pesan yang dikirim sejak Senin (25/8) belum juga direspons. Bahkan hingga berita ini diterbitkan pada Jumat (29/8), Rajulan tetap bungkam.

Padahal, dalam peresmian pada awal 2025 lalu, Gubernur Andi Sumangerukka menegaskan bahwa Terminal Lacaria harus dikelola dengan serius agar tidak sekadar menjadi bangunan tanpa fungsi.

“Saya meminta agar terminal ini segera dilengkapi dengan fasilitas yang memadai agar memiliki daya tarik bagi pengguna,” tegasnya kala itu.

Senada, Bupati Kolaka Utara, Nurrahman Umar juga sempat menyampaikan optimisme besar terhadap keberadaan terminal tersebut.

Ia meyakini terminal akan menjadi penggerak ekonomi baru di daerah, terutama untuk mendukung aktivitas para pelaku usaha lokal. “Kami berharap terminal ini dapat menjadi simpul transportasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi,” ucapnya.

Namun realitas hari ini justru memperlihatkan kontras yang tajam antara harapan dan kenyataan.

Proyek yang diharapkan menjadi ikon transportasi Kolaka Utara kini terancam menjadi simbol pemborosan anggaran.

Warga sekitar pun mulai melontarkan kritik. Beberapa menyebut bangunan itu tak ubahnya “proyek asal jadi” yang hanya bagus di atas kertas, tetapi rapuh di lapangan.


Editor: Muh Fajar

error: Content is protected !!