Kendari – Bupati Kolaka, Amri Djamaluddin, mengakui bahwa keberadaan Smelter Merah Putih PT Ceria Corp berkontribusi nyata bagi daerah dan masyarakatnya.
“Keberadaan smelter ini akan memberikan kontribusi nyata bagi Kabupaten Kolaka,” kata Amri dikutip dari Antara.
Dijelaskannya bahwa sebelumnya kawasan Kolaka didominasi oleh hutan, dan cenderung sepi.
Namun kemudian pada 2022, dengan dukungan Bank Mandiri, PT Ceri Corp hadir di Kolaka.
Wilayah Kolaka kemudian berkembang pesat hingga memiliki Rotary Kiln Electric Furnace atau RKEF dan Rectangular Electric Furnace Line 1 berkapasitas 72 MVA dan bangunan gedung-gedung perkantoran maupun mess karyawan Ceria Corp.
Amri juga mengakui bahwa kehadiran PT Ceria telah memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar tambang, baik berupa pemanfaatan lingkungan hingga Corporate Social Responsibility (CSR).
Perusahaan juga menghadirkan teknologi baru green nikel yang ramah lingkungan dan nantinya dapat di contoh perusahaan lain yang akan membangun smelter di Kolaka
Dampak juga terlihat dari sisi alokasi dana bagi hasil (DBH). Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Kolaka mendapat dana bagi hasil dari sektor pertambangan sebesar Rp 900 miliar, meningkat dari sebelumnya di rentang Rp 100 miliar hingga Rp 200 miliar.
“Semoga dengan beroperasinya smelter Merah Putih, dana bagi hasil dari sektor pertambangan semakin meningkat khususnya di Kabupaten Kolaka,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, PT Ceria Nugraha Indotama (Ceria Corp) dan Bank Mandiri, resmi mengawal ekspor perdana produk low-carbon ferronickel (FeNi) dari smelter Merah Putih milik Ceria yang berlokasi di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Rabu 3 Juli 2025.
Sebanyak 10 kontainer pertama dari total 65 kontainer ferronikel dikirim secara simbolik ke pasar Asia. Produk yang dikirim berasal dari Smelter Rectangular Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) Line I milik Ceria yang telah ditetapkan sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) sekaligus Objek Vital Nasional (Obvitnas).
Ferronikel yang diekspor memiliki kandungan 22 persen logam nikel, setara dengan 13.900 ton logam nikel per tahun dari total kapasitas produksi sebesar 63.200 ton ferronickel per tahun.
Produk ini juga telah memenuhi standar keberlanjutan melalui kepemilikan Renewable Energy Certificate (REC) dari PT PLN (Persero), menandai seluruh rantai produksinya berbasis energi bersih. Proses produksi juga didukung oleh teknologi kecerdasan buatan (AI) dan sistem robotik, memungkinkan pengawasan real-time yang efisien dan aman.
Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menyampaikan bahwa dukungan terhadap ekspor ini adalah bagian dari komitmen Bank Mandiri dalam mendorong hilirisasi mineral dan transisi energi nasional.
“Bank Mandiri berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari pembangunan proyek strategis nasional, terutama yang dijalankan oleh investor domestik. Sinergi kami dengan Ceria menjadi contoh konkret bagaimana akselerasi ekonomi dapat diwujudkan melalui kolaborasi antara sektor perbankan dan industri dalam negeri,” ujar Darmawan, Sabtu 5 Juli 2025.
Sebelumnya, pada April 2025, Ceria telah melakukan produksi perdana dari smelter tersebut. Uniknya, Ceria menjadi satu-satunya perusahaan pemurnian nikel nasional yang berhasil membangun fasilitas pengolahan melalui pendanaan sindikasi perbankan nasional.
Pada tahun 2022, Bank Mandiri bersama Bank BJB dan Bank Sulselbar menyalurkan pembiayaan sindikasi sebesar USD 277,69 juta guna membiayai pembangunan smelter dan infrastruktur penunjangnya. Pendanaan ini mencerminkan kepercayaan industri keuangan terhadap prospek hilirisasi mineral dan rantai pasok nikel Indonesia.
CEO Ceria Corp, Derian Sakmiwata, menyampaikan apresiasi terhadap komitmen berkelanjutan Bank Mandiri.
“Smelter merupakan simbol semangat kemandirian dan kebangkitan industri nasional. Kolaborasi strategis dengan perbankan telah membuka banyak peluang, termasuk penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah bagi daerah maupun perekonomian nasional,” ujar Derian.
Ceria menargetkan ekspansi lanjutan melalui pembangunan RKEF Line II serta fasilitas High-Pressure Acid Leaching (HPAL) Line I. Pengembangan ini diarahkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik (EV).
Target jangka panjang Ceria mencakup peningkatan kapasitas produksi hingga 252.800 ton ferronickel per tahun atau setara 55.600 ton logam nikel, serta produksi 293.200 ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dari dua fase pabrik HPAL, yang mengandung 110.940 ton logam nikel dan 11.400 ton kobalt.
“Dengan dukungan perbankan nasional, kami optimistis Indonesia akan memainkan peran kunci dalam industri baterai global. Sinergi seperti ini menjadi pilar kemajuan sektor energi terbarukan dan hilirisasi,” imbuh Derian. Rilis.
Editor: Wiwid Abid Abadi








