Dari Putus Sekolah hingga Jadi Kapten Kapal Internasional: Kisah Inspiratif Capt. Rahmat dari Muna Barat


Kendari - Tidak semua orang memulai hidup dengan ruang untuk memilih. Ada yang dibesarkan oleh kesempatan, ada pula yang ditempa oleh keterbatasan. Namun, bagi Capt. Rahmat, Ketua Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) sekaligus Perwakilan International Transport Worker’s Federation (ITF) Wilayah Sulawesi Tenggara, keterbatasan bukan tembok penghalang, melainkan pintu lain yang harus diketuk lebih keras.
Rahmat lahir di Desa Madampi, Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna (kini Muna Barat) pada 17 Juli 1977. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana, dengan kehidupan yang serupa perahu kecil di tengah gelombang ekonomi yang tak selalu bersahabat. Saat masih kecil, keluarganya pindah ke Desa Wawosunggu, Kabupaten Konawe Selatan, berharap menemukan daratan yang lebih lapang. Namun setelah menamatkan SD pada tahun 1989, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa ia tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi.
“Waktu itu, sekolah bukan sesuatu yang mudah. Kalau orang tua tidak mampu, kita hanya bisa menerima,” kenangnya.
Harapan untuk terus belajar belum padam. Tahun 1991, ia berangkat ke Kendari dan tinggal di rumah keluarga agar dapat bersekolah di SMP Negeri 7 Kendari. Namun, kehidupan kembali menunjukkan kerasnya. Tahun 1992 ia terpaksa berhenti. Sejak itu, hidupnya menjadi perjalanan panjang mencari nafkah. Ia menjadi buruh bangunan, nelayan, hingga penjual roti keliling, berjalan kaki dari kampung ke kampung dengan keringat dan tekad sebagai bekal utama. Hidupnya seperti mendayung tanpa perahu, tetapi ia memilih terus bergerak.
Pada Juli 1998, Rahmat memberanikan diri merantau ke Malaysia. Ia ingin mengubah nasib. Namun baru beberapa bulan, ia ditangkap karena bekerja tanpa izin. Tiga bulan lamanya ia berada dalam penjara negeri orang, jauh dari keluarga, tanpa kepastian. Namun tembok penjara itu tidak mampu memenjarakan semangatnya.
“Saya tahu hidup harus terus berjalan,” ucapnya.
Setelah dideportasi ke Dumai pada Desember 1998, ia kembali memulai dari awal. Ia menjadi sopir becak dan cleaning service di Hotel Lengogeni sambil tetap menarik becak demi menambah uang makan. Hidup baginya bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang terus mencoba berdiri setiap kali jatuh.
Pada September 1999, ia berhasil mengurus paspor. Sebulan kemudian, ia kembali ke Malaysia dengan cara yang sah. Ia bekerja sebagai kuli bangunan di Pulau Pinang dan Alor Setar. Dalam kesederhanaan yang keras itu, ia menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya, dan pada September 2001 ia pulang ke Indonesia membawa tabungan Rp 15 juta. Bukan jumlah yang luar biasa bagi sebagian orang, namun sangat besar bagi seseorang yang mengumpulkannya dari keringat dan kesabaran yang panjang.
Kesempatan belajar yang pernah terhenti kini kembali ia kejar. Dengan tabungan itu ia mengikuti ujian persamaan setara SMP, lalu berangkat ke Jakarta untuk mencari kampus pelayaran. Pendaftaran telah berakhir, namun ia memilih tidak pulang. Ia melanjutkan perjalanan ke Semarang dan di sanalah ia diterima sebagai taruna pelayaran pada Juli 2002. Empat bulan kemudian ia memperoleh ijazah internasional ANT V dan mulai berlayar sebagai perwira tiga dengan rute Pekanbaru, Singapura, dan Malaysia. Impiannya yang dulu tampak jauh kini mulai menyala.
Pada tahun 2008, ia melanjutkan pendidikan Paket C. November 2010 ia meraih ijazah internasional ANT IV dan resmi menjadi kapten kapal. Dari seorang anak desa yang putus sekolah, ia kini berdiri di atas anjungan kapal, menakhodai perjalanan melewati Singapura, Malaysia, Kamboja, Myanmar, Vietnam, hingga Thailand. Laut yang dulu tampak luas dan menakutkan, kini menjadi ruangnya memimpin.
Perjuangannya tidak berhenti. Tahun 2023, ia kembali melanjutkan pendidikan untuk meraih ANT III atau setara A.md Pelayaran, dan menyelesaikannya pada 2024 sebagai bagian dari perjalanan menuju gelar Sarjana Terapan Pelayaran. Kini, pada tahun 2025, ia sedang menjalani proses Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) untuk penguatan jenjang akademik dan profesional.
Pada Juli 2024, ia menerima Surat Keputusan sebagai Ketua KPI Sulawesi Tenggara. Dari mengendalikan kapal di tengah samudera, ia kini memimpin perjuangan pelaut agar hak-haknya dihargai dan kesejahteraannya diperjuangkan.
Pesannya kepada generasi muda sederhana, tetapi menikam tepat ke jantung kenyataan.
“Yang menjadi penghalang bukan biaya sekolah, tapi kemauan kita sendiri. Bermimpilah setinggi mungkin. Tuhan akan bersama orang yang bersungguh-sungguh.”
Perjalanan Capt. Rahmat bukan kisah keberuntungan. Ini adalah cerita tentang seseorang yang menolak menyerah, tentang keyakinan bahwa pendidikan dapat ditemukan kembali, bahkan ketika pernah hilang, dan bahwa mimpi tidak mengenal batas usia atau keadaan.
Ia membuktikan bahwa kemiskinan tidak harus diwariskan, dan bahwa kemenangan adalah milik mereka yang terus melangkah, bahkan ketika jalan di depan terasa paling gelap.
Editor: Redaksi
Berita BerikutnyaObat Kedaluwarsa Masih Disimpan? Mahasiswa Apoteker UHO Ingatkan Risiko Keracunan
Baca Juga
Promo 11.11 Gadget Day Blibli Histeria, Ini Kelebihan iPhone 18 Pro Max yang Semakin Canggih!
Kendari - Pernah membayangkan memiliki smartphone dengan performa tinggi, kamera profesional, dan baterai yang mampu menemani aktivitas sepanjang hari? Kehadiran Promo 11.11 dari Blibli Histeria bisa menjadi momen…
Mantan Karutan Kendari Herianto Raih Doktor dengan IPK Sempurna 4,00 di UHO
Kendari – Mantan Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Kendari, Herianto, berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen di Program Pascasarjana Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara,…
Darwin Ajak Empat Pilar Budaya Bersatu, Peringatkan Provokasi Antarsuku di Sultra
Kendari – Ketua Umum Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara (Sultra), La Ode Darwin, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi isu-isu yang berpotensi memicu konflik antarsuku dan…
Mahasiswa Geruduk Rektorat UHO, Desak Audit Dana Penelitian dan Evaluasi Dekan FISIP
Kendari – Aliansi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) mendesak Rektor UHO, Prof. Takdir Saili, mengaudit pengelolaan dana penelitian mahasiswa tahun anggaran…
La Ode Darwin Sapa Warga Muna di Morowali, Ini Pesan Pentingnya untuk Perantau
Morowali – Ketua Umum Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara (Sultra) periode 2026–2031, La Ode Darwin, menyapa masyarakat Muna di Kabupaten Morowali dalam perayaan Hari Ulang Tahun…
Basarnas Kendari Latih 70 Pegawai dan Warga Binaan Lapas Perempuan Hadapi Bencana
Kendari – Sebanyak 70 pegawai dan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Kendari mengikuti simulasi penanggulangan bencana dan evakuasi darurat bersama Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas)…







