Kendari – Dugaan keterlibatan Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, dalam bisnis judi online di Kamboja terus menjadi sorotan publik. Namun hingga kini, politisi Partai Gerindra itu memilih bungkam. Tak ada bantahan, tak ada klarifikasi. Diamnya Dasco justru memunculkan tanda tanya besar: mengapa seorang pejabat setinggi dirinya enggan menjawab tuduhan yang berpotensi mengguncang fondasi partai penguasa?
Laporan investigasi media pada April 2025 berjudul: Pengusaha dan Politikus Pengendali Judi Online di Kamboja menyebut nama Dasco tercatat dalam dokumen perusahaan Golden Princess Hotel dan Casino, yang beroperasi di kawasan Bavet City, perbatasan Kamboja–Vietnam. Isu tersebut semakin relevan di tengah maraknya kasus perdagangan orang serta eksploitasi digital terhadap ribuan WNI yang dijadikan pekerja scam di lokasi serupa.
Redaksi Tempo mengaku telah mencoba meminta tanggapan Dasco sebelum menerbitkan laporan itu. Namun seluruh pesan, panggilan, hingga surat resmi tak pernah dibalas. Hanya sejumlah kader Gerindra yang tampil membela, menyebut laporan itu sebagai “fitnah politik menjelang konsolidasi kabinet”.
Ketua Harian Gerindra, Ahmad Muzani, bahkan menilai tudingan tersebut sebagai “insinuasi tingkat tinggi”. Meski begitu, dokumen bisnis tetap menunjukkan nama Dasco tercantum dalam jaringan perusahaan berafiliasi di Kamboja.
Sikap bungkam Dasco memicu berbagai tafsir. Di tengah maraknya kasus perdagangan manusia dan judi daring lintas negara, diamnya seorang pejabat publik dianggap bukan lagi kebijaksanaan, melainkan keangkuhan.
“Diamnya bukan strategi cerdas, tapi gejala feodalisme elite,” kata aktivis antikorupsi, Wanda Assyura, yang juga dikenal sebagai simpatisan Prabowo. “Wakil rakyat yang diam ketika rakyat disiksa di Kamboja adalah pengkhianat demokrasi,” ujarnya, yang juga menjabat Ketua Pemuda Aceh–Jakarta.
Tagar #DascoBukaSuara menggema di media sosial. Para aktivis mendesak PPATK melakukan audit rekening Dasco serta mendorong KPK memeriksa ulang LHKPN miliknya. Sementara itu, video penyiksaan WNI di kompleks judi Bavet City viral di TikTok dan X, memancing kemarahan publik. Peran komunikasi politik Gerindra pun terlihat lebih banyak diambil alih oleh Sjafrie Sjamsoeddin, menandai meredupnya figur Dasco dalam lingkar inti partai.
Wanda Assyura menegaskan bahwa isu ini tidak boleh dianggap sepele. “Sebagai pendukung Prabowo, saya khawatir Dasco jadi batu sandungan moral. Gerindra harus bersih. Kalau tidak, kepercayaan publik bisa runtuh,” katanya.
Menurutnya, integritas Partai Gerindra akan diuji dari cara Prabowo menangani dugaan ini. Pemerintah saat ini tengah membentuk Satgas Judi Online sebagai simbol ketegasan negara memberantas kejahatan digital lintas batas.
“Jika benar ada elite politik ikut bermain, kredibilitas kebijakan itu terancam runtuh,” ujar Wanda. “Satgas akan kehilangan wibawa jika aparatnya menyentuh publik, tapi tidak menyentuh elite,” imbuhnya.
Hingga kini, Dasco tetap tidak menunjukkan tanda-tanda ingin memberikan klarifikasi. Ia masih aktif mengikuti agenda DPR, namun menghindari pertanyaan media. Sikap ini menimbulkan kesan adanya strategi diam agar isu mereda dengan sendirinya. “Ini impunitas klasik. Bicara berisiko muncul bukti baru, maka bungkam dianggap aman,” ucap Wanda.
Sementara itu, sumber hukum di PPATK membenarkan bahwa lembaganya telah menerima permintaan pemantauan transaksi lintas negara terkait jaringan kasino di Kamboja.
Namun belum ada keterangan resmi apakah nama Dasco termasuk dalam radar pemantauan. Di sisi lain, beberapa anggota Komisi III DPR mendesak KPK segera bertindak untuk memastikan kejelasan hukum kasus ini.
Dalam grup internal Gerindra, pembahasan soal Dasco menjadi topik sensitif. Sebagian kader memilih diam, sementara lainnya berharap Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas jika tudingan tersebut terbukti.
“Gerindra harus menang dengan moral yang bersih,” kata Wanda. “Dasco bom waktu. Kalau tidak segera ditangani, bisa merusak reputasi partai dan presiden sendiri,” imbuhnya.
Publik kini menunggu keputusan. Jika Dasco merasa tak bersalah, ia bisa membuka seluruh data: rekening, aset keluarga, hingga rekam transaksi luar negeri. Namun jika tetap membisu, persepsi publik dapat berubah menjadi keyakinan. Dalam dunia politik, diam bukan selalu emas—kadang justru menjadi sinyal bahaya yang berdetak pelan, menunggu saat untuk meledak.
Editor: Redaksi








