Jakarta – Aksi unjuk rasa yang digelar Himpunan Pemuda Pemerhati Lingkungan dan Anti Korupsi Sulawesi Tenggara di depan Kantor Pusat PT Bumi Konawe Minerina (BKM) – Aquila Nickel Group – Jakarta Selatan, berlangsung tegang hingga memicu kericuhan.
Puluhan massa dari Konawe Utara mendatangi kantor PT BKM yang berlokasi di Mandiri Inhealth Tower lantai 15, Jalan Prof. DR. Satrio, Kuningan. Mereka menuntut Direktur Utama PT BKM bertanggung jawab atas dugaan aktivitas pertambangan ilegal, termasuk produksi dan pengapalan ore nikel tanpa Surat Persetujuan RKAB.
Pimpinan aksi, Sahril Gunawan, dalam orasinya menyebut kehadiran mereka di Jakarta adalah untuk meminta klarifikasi langsung dari pimpinan dan pemilik saham perusahaan.
“Kami datang dari Konawe Utara untuk memastikan pimpinan PT BKM tidak hanya meraup keuntungan, tapi berani bertanggung jawab. Kami menuntut penjelasan terkait dugaan pertambangan ilegal hingga penjualan ore dengan dalih kuota RKAB khusus,” ujar Sahril.
Sahril juga menantang manajemen PT BKM untuk membuka dokumen Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dan Corporate Social Responsibility (CSR). Ia menilai penting untuk memastikan apakah program tersebut benar-benar tersalurkan di wilayah lingkar tambang atau hanya formalitas di atas kertas.
“Kami ingin memastikan tidak ada permainan dalam penyaluran CSR maupun PPM. Tunjukkan dokumennya,” tegasnya.
Selain itu, Sahril meminta Kejaksaan Agung RI mengusut dugaan keterlibatan PT BKM dalam aktivitas angkutan ore nikel pada awal 2023 di dalam IUP PT Antam Tbk (eks PT Sriwijaya Raya), Blok Mandiodo. Ia menuding adanya komunikasi tiga pihak dalam proses penjualan ore yang diduga tanpa izin.
Setelah berorasi, massa memaksa masuk ke area Mandiri Inhealth Tower sambil membawa spanduk bertuliskan “Hentikan Aktivitas Pertambangan dan Selidiki CSR PT BKM”. Aparat keamanan yang berjaga langsung menghadang, sehingga saling dorong tak terhindarkan. Suasana semakin ricuh hingga membuat ratusan pegawai gedung berlarian masuk untuk menyelamatkan diri.
Melihat situasi memanas, aparat penegak hukum mengambil langkah persuasif dan meminta massa menenangkan diri, mengingat gedung tersebut dihuni banyak perusahaan lain, bukan hanya PT BKM.
Meski situasi akhirnya kondusif, tak satu pun perwakilan PT BKM turun menemui massa. Hal ini membuat Sahril semakin geram dan berjanji akan kembali menggelar aksi jilid II di lokasi yang sama dalam waktu dekat.
Editor: Muh Fajar








