Diduga Lakukan Pemerasan, Dua Oknum Mengaku TNI Resahkan Penjual LPG di Muna dan Muna Barat

Ilustrasi pemerasan. Foto: Dok. Istimewa.

Kendari – Sejumlah penjual gas LPG 3 kilogram di Kabupaten Muna dan Muna Barat mengaku menjadi korban pemerasan oleh dua pria yang mengklaim sebagai anggota TNI aktif dari Kodam XIV Hasanuddin.

Modus yang digunakan adalah dengan mengatasnamakan tugas penertiban dari pihak Pertamina terhadap distribusi gas subsidi, di tengah belum jelasnya regulasi distribusi LPG di wilayah tersebut.

Pengakuan dari para pedagang memperlihatkan adanya pola intimidasi dan permintaan uang dengan dalih penyelesaian persoalan hukum.

Salah satunya diungkapkan oleh E, seorang penjual LPG, yang menyebut bahwa dirinya bersama tiga orang lainnya dimintai uang saat berjualan di wilayah Tondasi, Tiworo Utara.

“Disini kan belum ada izinnya, keuntungan kita dapat empat ribu, tadi itu di Tondasi, awalnya dimintai tiga juta, tapi empat orang hanya menyetor tiga ratus per kepala, 1,2 juta totalnya, mereka mengaku dari Intel Kodam dan bekerjasama dengan migas,” katanya, Sabtu (5/4).

Ia juga menyebut sempat diperas secara pribadi.

“Kalau saya kemarin (30/3) besoknya lebaran saya dimintai 2 Juta,” tambahnya.

Dalam pengakuannya, E menjelaskan aktivitas penjualannya dilakukan dari rumah dan disalurkan ke kios-kios kecil. Ia merasa tertekan dan takut lantaran diancam akan dilaporkan ke media dan diproses hukum apabila tidak memenuhi permintaan.

“Kalau tidak dikasih mereka mau angkut ini mobil, kalau kita tidak kasih juga dia mau kirim ke media dan uang ini untuk hapus laporannya ke media,” tuturnya.

Ketika ditanya tentang legalitas tugas oknum tersebut, E mengaku tidak berani mempertanyakannya. “Kita tidak berani tanyakan, tapi untuk oknum inisial A,” tutupnya.

Tak hanya E, warga lain berinisial I juga mengaku mengalami hal serupa. Ia mengatakan dimintai uang dengan ancaman akan dibawa ke Kota Kendari jika tidak menyanggupi.

“Kemarin itu dimintai satu juta, tetapi dikasih bapaknya delapan ratus, kalau tidak dikasih mobil kami mau dibawa di Kendari,” katanya.

Menurut I, penjualan LPG yang dilakukannya hanya terbatas untuk kebutuhan lokal. “Hanya disekitar sini saja untuk penuhi kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.

Fenomena ini rupanya menyebar ke beberapa titik. Seorang penjual perempuan yang berjualan di Raha bahkan mengaku ketakutan saat didatangi dua pria asing.

“Saat itu saya gemetar, saya takut, pertama dia mintai tiga juta, dia gunakan mobil warna hitam, dua orang, saya bilang nda bisa bayar tiga juta, karena anak saya sementara berkuliah, jadi saya kasih hanya satu juta dua ratus,” ungkapnya.
“Saya menjual dibagian Raha,” tambahnya.

Penjual lainnya, A, yang berdagang di wilayah pesisir, menyampaikan bahwa para oknum mengancam akan menutup aktivitas penjualan LPG subsidi apabila tidak diberikan uang.

“Saya jual dan muat-muat di laut, pertama dimintai satu juta, kemudian turun lima ratus, tetapi kita hanya sanggup kasih tiga ratus,” katanya.
“Kalau tidak ada solusi mereka mau tutup penjualan tabung LPG 3 Kilo Gram di wilayah Muna dan Muna Barat,” ungkapnya.
“Awalnya tadi gara-gara ada yang didapat sementara muat di mobilnya, akhirnya kita ikut semua,” pungkasnya.

Merespons laporan ini, Asisten Intelijen Kodam XIV Hasanuddin Kolonel Inf Robinson Tallupadang menegaskan bahwa keterlibatan pihaknya sebatas membantu penertiban, bukan melakukan pungutan uang.

“Kita monitoring dan penertiban, semua kita bantu, tapi kalau untuk minta uang tidak boleh, kalau penertiban iya, semua pemerintah kita bantu untuk menertibkan yang ilegal,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa jika terbukti ada oknum yang melakukan pungli, tindakan tegas akan diambil. “Kalau minta uang tidak boleh, kalau kita dapat kita tindak tegas,” pungkasnya.

Terkait dugaan ini, pihak Korem 143 Halu Oleo juga menyatakan akan segera melakukan penelusuran. Danrem 143 Halu Oleo Brigjen TNI R Wahyu mengatakan, “Saya cek ya, terimakasih infonya.”

Sementara itu, Kapenrem 143 Halu Oleo Mayor Inf La Ode Sadiran mengatakan hal senada. “Coba saya konfirmasi dulu,” katanya.


Editor: Redaksi

error: Content is protected !!