Berita  

Dikbud Sultra Bakal Polisikan Kades di Kolaka yang Bentak Siswa-Guru

Kadis Dikbud Sultra, Yusmin, bersama guru dan Kepsek SMKN 9 Kolaka. Foto: Dok. Istimewa.

Kendari – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengambil langkah tegas terhadap Kepala Desa Pesouha, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, yang membentak guru dan siswa SMKN 9 Kolaka.

“Saya sudah panggil guru dan perwakilan OSIS untuk menjelaskan kejadian itu, dan setelah saya dengar, saya minta kepala sekolah untuk bikin kronologi dan kumpulkan bukti, kita laporkan ke polisi,” kata Kadisdikbud Sultra, Yusmin, Senin (2/10).

Yusmin mengecam keras tindakan kades tersebut di hadapan para siswa dan guru-guru yang menyuarakan keluhan mereka terkait debu akibat aktivitas truk pengangkut timbunan perumahan.

“Kades itu sempat bilang kan, kalau tidak bubar tabrak, di depan siswa dan guru lagi, di situ banyak sopir truk juga, kalau sampai ditabrak betul karena mendengar perkataan kades itu bagaimana, tidak benar seperti itu, sudah kayak preman,” kata Yusmin.

Yusmin menerangkan, berdasarkan keterangan para guru, aksi itu bermula sejak Kamis, saat itu siswa dan guru mengeluhkan debu yang masuk hingga ke ruang laboratorium.

“Kamis itu guru-guru sampaikan, debunya berdampak ke sekolah, baru ada guru yang ada penyakit Asma, mereka minta dilakukan penyiraman, tapi sampai Senin, pas kejadian itu, ternyata tidak disiram juga, sehingga siswa dan guru spontan melakukan protes,” ungkapnya.

Namun protes itu malah disikapi dengan arogan oleh kepala desa. “Tidak boleh cara-cara seperti itu. Kan kayak preman begitu, apalagi di depan anak-anak kita,” tandasnya.

Kepala SMKN 9 Kolaka, La Ode Kowareono, menjelaskan bahwa awalnya aksi siswa dan guru berlangsung tenang. Para siswa hanya ingin menyampaikan agar dilakukan penyiraman sebelum beraktivitas.

“Tapi pas datang itu kepala desa, langsung begitu, bilang kalau tidak bubar tabrak,” kata La Ode dikonfirmasi Sultranesia, Senin (2/10).

Menurut La Ode sudah sejak semingga belakangan sekolahnya terdampak debu akibat aktivitas truk pengangkut timbunan perumahan. Pihak sekolah sudah beberapa kali mengajukan keluhan ke pihak kontraktor.

“Sudah disampaikan keluhannya, hanya kurang ditanggapi, makanya pas Senin itu siswa guru aksi spontan,” ungkapnya.

Menurut La Ode, siswa dan guru tak melarang aktivitas tersebut, namun harus dilakukan penyiraman secara berkala sebelum truk-truk melintas. “Karena memang debunya pak mengganggu sekali,” pungkasnya.


Editor: Wiwid Abid Abadi

error: Content is protected !!