Muna Barat – Dua kali guncangan gempa bumi mengguncang Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara, dalam waktu kurang dari delapan jam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kendari memastikan kedua gempa itu berasal dari aktivitas sesar aktif di timur laut wilayah tersebut.
Gempa pertama terjadi pada Minggu malam, 12 Oktober 2025, pukul 22.41 WITA, dengan magnitudo 4,4. Episenter gempa berada di darat pada koordinat 4,75 Lintang Selatan dan 122,64 Bujur Timur, sekitar 22 kilometer arah timur laut Muna Barat, dengan kedalaman 10 kilometer.
“Gempa pertama memiliki magnitudo 4,4 dan bersumber dari aktivitas sesar aktif di darat,” kata Kepala Stasiun Geofisika Kendari, Rudin, Senin (13/10).
Beberapa jam kemudian, Senin pagi pukul 06.08:59 WITA, gempa kedua dengan kekuatan magnitudo 4,6 mengguncang kembali wilayah yang sama. Titik pusat gempa berada di koordinat 4,77 LS dan 122,59 BT, atau 16 kilometer arah timur laut Muna Barat, dengan kedalaman 5 kilometer.
“Gempa kedua ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif di timur laut Muna Barat,” ujar Rudin.
Berdasarkan hasil peta guncangan (shakemap) dan laporan masyarakat, gempa dirasakan cukup kuat di wilayah Muna Barat dan Kabupaten Muna dengan skala intensitas III–IV MMI. Getaran dirasakan banyak orang di dalam rumah, menyebabkan gerabah pecah serta pintu dan jendela berderik.
BMKG memastikan kedua gempa itu tidak berpotensi tsunami dan hingga pukul 06.35 WITA belum tercatat adanya gempa susulan maupun laporan kerusakan bangunan.
“Hasil pemodelan menunjukkan gempa bumi tidak berpotensi tsunami,” tegas Rudin.
Ia mengimbau masyarakat tetap tenang dan hanya mengikuti informasi dari sumber resmi BMKG.
“Hindari bangunan yang retak atau rusak, dan pastikan kondisi rumah aman sebelum kembali ke dalam,” imbaunya.
Masyarakat diminta memantau pembaruan informasi melalui kanal resmi BMKG di @infoBMKG, situs bmkg.go.id, inatews.bmkg.go.id, Telegram InaTEWS_BMKG, atau aplikasi InfoBMKG dan WRS-BMKG.
Editor: Redaksi








