Kendari – Laju inflasi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terus menunjukkan tren kenaikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara yang dirilis pada 1 Juli 2026, inflasi tahunan (year on year) Sultra pada Juni 2026 mencapai 4,68 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,60. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat 3,34 persen.
Dari seluruh wilayah penghitungan IHK di Sultra, Kota Baubau mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,60 persen dengan IHK 116,58. Sementara Kabupaten Konawe menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 2,12 persen dengan IHK 113,78.
Kenaikan inflasi dipicu oleh meningkatnya harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan 5,88 persen.
Transportasi juga melonjak hingga 6,59 persen, sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi mencapai 8,55 persen.
Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 3,81 persen, pendidikan 3,81 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga 2,37 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran 2,66 persen.
Lalu informasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,22 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 1,24 persen, kesehatan 0,37 persen, serta pakaian dan alas kaki 0,08 persen.
Secara bulanan (month to month), Sulawesi Tenggara mengalami inflasi sebesar 1,29 persen. Sementara inflasi tahun kalender (year to date) mencapai 4,55 persen.
Sebagai perbandingan, BPS mencatat inflasi nasional pada Juni 2026 sebesar 0,44 persen secara bulanan, 3,34 persen secara tahunan, dan 1,79 persen secara tahun kalender.
Pada tingkat nasional, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 3,42 persen dengan andil 0,66 persen terhadap inflasi tahunan. Komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan inflasi nasional antara lain bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, serta bahan bakar rumah tangga.
Tingginya inflasi di Sulawesi Tenggara menjadi perhatian karena berada di atas rata-rata nasional, mencerminkan masih kuatnya tekanan harga, terutama pada kebutuhan pokok, transportasi, dan sejumlah sektor jasa yang berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.
Editor: Muh Fajar








