Fenomena Sherly Tjoanda Laos: Gubernur Maluku Utara Lebih Populer dari Politisi Sultra

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, menjadi rebutan swafoto masyarakat Sultra saat menghadiri Rakornas Produk Hukum Daerah di Kendari, Rabu (27/8). Foto: Dok. Instagram/@s_tjo.

Kendari – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, berhasil mencuri panggung politik di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Kehadirannya dalam Rakornas Produk Hukum Daerah (PHD) yang berlangsung 26–28 Agustus 2025 menjadi magnet perhatian publik, bahkan mengalahkan pamor politisi lokal Sultra.

Sherly tidak sekadar hadir, melainkan tampil sebagai figur politik baru yang mampu mengubah persepsi publik. Popularitasnya melesat, melampaui politisi Sultra yang selama ini mengandalkan pengaruh konvensional dan riwayat jabatan.

Sejak kedatangannya, Sherly langsung disambut dengan antusiasme besar. Ia menjadi pusat perhatian, diburu untuk berswafoto, hingga viral di media sosial. Foto-fotonya dengan ucapan “Selamat Datang” menyebar cepat, menegaskan bahwa popularitas politik kini menembus batas geografis.

Pengamat politik Universitas Halu Oleo (UHO), La Ode Efrianto, menilai keberhasilan Sherly bukan kebetulan. Ia menegaskan kekuatan tim media di belakang Sherly menjadi faktor penting yang membangun citranya.

“Tim ini berhasil mengemas sosok Sherly dari seorang pendatang baru menjadi figur yang mudah diakses dan menarik di mata masyarakat,” tuturnya, Rabu (27/8).

Menurutnya, fenomena ini menunjukkan perbedaan mencolok dengan politisi Sultra.

“Sementara politisi kita masih cenderung menggunakan cara-cara konvensional, belum begitu menganggap media sosial sebagai instrumen berpolitik. Padahal masyarakat Sultra sudah sangat ter-update dalam cara mengakses informasi,” ujarnya.

Efrianto juga menekankan bahwa sebagian politisi di Sultra memang menggunakan media sosial, tetapi belum sesuai dengan kebutuhan publik.

“Kelompok muda saat ini ingin menikmati politik dalam bentuk konten yang santai, bukan dalam konteks yang kaku dan serius. Itu yang dilakukan Ibu Sherly, sehingga ia lebih diterima,” jelasnya.

Selain strategi media, Sherly juga memiliki latar belakang politik yang unik. Popularitasnya tumbuh dari kasus tragis yang viral secara nasional, yakni kematian suaminya, Benny Laos, saat proses kampanye Pilgub Maluku Utara periode kedua.

“Faktor sejarah ini membuat Sherly lebih dikenal luas. Ia melanjutkan estafet politik mendiang suaminya, dan justru berhasil membangun legitimasi baru yang lebih emosional di mata publik,” tambah Efrianto.

Pandangan serupa disampaikan pengamat politik Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), Andi Awaluddin Ma’ruf. Menurutnya, media sosial telah mendemokratisasi popularitas politik lintas wilayah.

“Seorang politisi dari Maluku Utara, yang secara geografis jauh, bisa menarik perhatian publik di Kendari. Ini terjadi karena media sosial memecah sekat-sekat teritorial, memungkinkan informasi dan citra menyebar dengan cepat tanpa hambatan,” ungkapnya.

Awaluddin menegaskan, fenomena Sherly menjadi pelajaran penting bagi politisi Sultra yang kerap gagal membangun daya tarik publik di era digital.

“Membangun citra yang kuat, menciptakan konten populer, dan mengelola interaksi dengan publik secara efektif bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa politik modern tidak hanya dimenangkan di bilik suara, melainkan juga di ruang-ruang digital.

“Fenomena ini adalah pengingat bahwa di era digital, popularitas dan koneksi emosional yang dibangun melalui media sosial bisa menjadi modal politik sekaligus modal investasi sosial. Politisi yang tidak mau beradaptasi akan semakin tertinggal, sementara mereka yang mampu menguasai arena digital akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan,” pungkasnya.


Editor: Redaksi

error: Content is protected !!