Kendari – Indonesia kembali menemukan potensi besar logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE) yang tersebar di sejumlah wilayah, termasuk di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Temuan ini diumumkan Badan Industri Mineral (BIM) yang mengidentifikasi delapan blok potensial di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Berbeda dari temuan sebelumnya yang umumnya merupakan hasil sampingan tambang mineral lain, delapan lokasi ini dikategorikan sebagai sumber daya primer.
Artinya, kandungan logam tanah jarang di wilayah tersebut menjadi komoditas utama, bukan sekadar produk ikutan. Status ini dinilai strategis karena dapat menjadi fondasi penting dalam memperkuat kedaulatan industri nasional.
Kepala BIM, Brian Yuliarto, menyebut kedelapan blok tersebut memiliki cadangan bernilai tinggi dengan luasan area yang sangat prospektif.
“Ada delapan blok yang kami nilai memiliki potensi sangat besar. Ini semuanya adalah primary resources, bukan by-product resources,” ujar Brian dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin, 9 Februari 2026, dikutip dari RMOL.
Berdasarkan data teknis BIM, potensi terbesar di Bangka Belitung tersebar di empat blok. Blok Toboali seluas 10.000 hektare tercatat mengandung Tungsten 8.287 ppm, REE 2.391 ppm, serta Tantalum. Blok Keposang seluas 5.000 hektare memiliki kandungan REE sekitar 1.000 ppm.
Sementara Blok Mentikus dan Batubesi menonjol dengan kandungan Timah (Sn) dan Tungsten, di mana Mentikus mencatat kadar Sn hingga 23.400 ppm di area 200 hektare.
Di Kalimantan Barat, Blok Melawi menjadi sorotan dengan luas 54.000 hektare dan total kandungan REE mencapai 81.720 ppm. Selain itu, Blok Boyan Hulu seluas 8.492 hektare memiliki potensi Antimony dengan kadar sangat tinggi, berkisar antara 70 hingga 95 persen.
Untuk wilayah Sulawesi, cadangan strategis berada di Blok Mamuju, Sulawesi Barat, dengan kandungan REE sekitar 2.000 ppm di lahan 23.000 hektare.
Adapun Blok Bombana di Sulawesi Tenggara menjadi salah satu yang terluas, mencapai 64.000 hektare. Di wilayah ini teridentifikasi potensi campuran REE sebesar 220 ppm serta Antimony 6.170 ppm.
Guna menjaga dan mengoptimalkan aset mineral strategis tersebut, BIM tengah berkoordinasi intensif dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Rekomendasi yang disiapkan mengarah pada prioritas pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP) kepada BUMN, sesuai arahan Presiden untuk memperkuat ketahanan industri dan pertahanan negara.
“Delapan blok ini sedang kami teliti secara intensif. Selanjutnya kami akan berkoordinasi dengan Kementerian ESDM agar pengelolaan IUP dapat diberikan kepada BUMN sebagaimana diminta Presiden,” kata Brian.
BIM optimistis Indonesia mampu merebut pangsa pasar rare earth dunia sebesar 1 hingga 5 persen. Jika hilirisasi berjalan optimal, sektor ini diproyeksikan menyumbang devisa hingga 7,42 miliar dolar AS pada 2030.
Sebagai langkah awal, BIM berencana mengaktifkan proyek percontohan teknologi hilirisasi di Mamuju. Fasilitas ini akan menguji kemampuan teknologi dalam negeri untuk memisahkan elemen logam tanah jarang sebelum diterapkan lebih luas di seluruh blok potensial.
Keunggulan Logam Tanah Jarang
Logam tanah jarang sendiri merupakan komponen kunci dalam berbagai teknologi modern, energi terbarukan, hingga sistem pertahanan. Unsur seperti neodymium, dysprosium, dan praseodymium digunakan untuk membuat magnet permanen pada motor kendaraan listrik dan turbin angin.
Gadolinium dimanfaatkan sebagai agen kontras dalam pemeriksaan MRI, sementara unsur lainnya digunakan pada layar smartphone, lampu LED, radar, satelit, hingga sistem panduan rudal.
Keunggulan logam tanah jarang terletak pada kemampuannya menghasilkan komponen yang lebih ringan, kuat, dan efisien, sehingga sangat penting dalam mendukung transisi energi hijau dan target net zero emission.
Dengan potensi besar yang tersebar di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara, Indonesia dinilai memiliki peluang strategis untuk memperkuat industri dalam negeri sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global.
Namun demikian, pengolahan LTJ memerlukan teknologi tinggi dan investasi besar agar nilai tambahnya benar-benar dapat dinikmati di dalam negeri.
Editor: Redaksi








