Hauling PT Toshida Terus Dipalang, DPRD Sultra Pertanyakan Ketegasan Aparat


Kolaka - Aktivitas hauling PT Toshida Indonesia di Kabupaten Kolaka kembali menjadi sorotan. Meski persoalan tersebut telah dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra) bersama aparat penegak hukum dan instansi terkait, aksi pemalangan di lapangan disebut masih terus berlangsung.
Anggota Komisi III DPRD Sultra, Suwandi Andi, menyayangkan belum adanya penyelesaian yang mampu menghentikan gangguan terhadap operasional perusahaan.
Padahal, menurutnya, DPRD telah mengeluarkan rekomendasi resmi yang melibatkan berbagai pihak untuk mencari jalan keluar atas persoalan tersebut.
"Secara kelembagaan negara, RDP sudah pernah kita laksanakan. Kita hadirkan Polda Sultra dan hasil rekomendasinya sudah kita serahkan. Kita juga menghadirkan Kejaksaan, Kejari Kolaka, dan Polres Kolaka. Saat itu semua sepakat melakukan pembenahan agar tidak ada lagi gangguan terhadap aktivitas perusahaan," kata Suwandi kepada media ini melalui sambungan telepon, Selasa (2/6).
Namun, fakta di lapangan menunjukkan aktivitas pemalangan masih terjadi. Kondisi itu memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas tindak lanjut hasil RDP sekaligus peran negara dalam menjamin kepastian hukum bagi dunia usaha.
Suwandi menilai aparat penegak hukum sebenarnya memiliki kemampuan untuk bertindak tegas ketika menemukan dugaan pelanggaran hukum. Ia mencontohkan sejumlah kasus lain yang menurutnya mendapat respons cepat dari negara.
"Ketika ada tindakan yang dianggap melanggar hukum, negara bisa bertindak tegas. Tapi kenapa terhadap pemalangan yang terjadi secara terbuka ini belum ada tindakan yang jelas," ujarnya.
Politisi tersebut juga menyoroti informasi mengenai adanya dugaan pungutan sebesar 1,5 dolar yang disebut-sebut berkaitan dengan aktivitas pemalangan.
Menurutnya, jika benar terjadi, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi berdampak pada penerimaan negara.
"Kalau ada yang memalang lalu meminta 1,5 dolar tanpa ada pajak dan kewajiban lainnya kepada negara, jangan sampai negara seolah menghalalkan praktik seperti itu. Pertanyaannya, siapa yang bermain di sana sehingga bisa bebas melakukan pemalangan," tegasnya.
Suwandi menegaskan bahwa PT Toshida Indonesia telah menjalankan kewajibannya kepada negara, termasuk terkait penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Karena itu, ia meminta seluruh pihak fokus pada akar persoalan yang menyebabkan aktivitas perusahaan terus terganggu.
Menurutnya, pembiaran terhadap aksi pemalangan dapat menimbulkan dampak lebih luas, tidak hanya terhadap investasi tetapi juga terhadap para pekerja yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perusahaan.
"Bagaimana kehadiran negara untuk melindungi investor. Operasional perusahaan terganggu, gaji karyawan ikut terancam. Jangan sampai konflik yang lebih besar terjadi baru kemudian ada tindakan. Negara harus hadir sebelum itu terjadi," katanya.
Ia juga membandingkan penanganan kasus serupa di lokasi lain yang disebutnya mendapat respons cepat dari aparat penegak hukum.
"Di tempat lain pelaku langsung ditangkap. Kenapa di sini tidak? Padahal pemalangan dilakukan secara terang-terangan. Negara tidak boleh membiarkan hal seperti ini terus berlangsung," tambahnya.
Diketahui, aksi pemalangan terhadap aktivitas hauling PT Toshida Indonesia masih terjadi hingga saat ini.
Padahal, dalam RDP DPRD Sultra pada 9 Maret 2026 telah dijelaskan bahwa aspek perizinan serta kerja sama penggunaan jalan hauling telah terjalin antara PT Sulawesi Lintas Gemilang (SLG) sebagai pemilik jalan hauling, PT Putra Mekongga Sejahtera (PMS) sebagai pemegang IPPKH, dan PT Toshida Indonesia sebagai pengguna fasilitas tersebut.
Editor: Muh Fajar
Berita BerikutnyaPolda Sultra Didesak Usut Tuntas Dugaan Hilangnya Barang Bukti di Polres Baubau
Baca Juga
Dua Jurnalis Jadi Terlapor Usai Liput Demo, AJI Desak Kapolresta Kendari Dicopot
Kendari – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Sulawesi Tenggara (Sultra) mendesak Kapolresta Kendari Kombes Pol. Safi’i Nafsikin dan Kasat Reskrim Kompol Welliwanto Malau…
Sudah Disegel dan Didenda Rp590 Juta, Dua Galangan Kapal di Konsel Diduga Masih Beroperasi
Kendari – Dua galangan kapal di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), kembali disorot setelah diduga masih beroperasi meski telah disegel dan dikenai denda administratif total Rp590…
Pekerja Mundur, Progres Lambat, Proyek RSUD Muna Barat Rp158,3 Miliar Disorot KSP
Muna Barat – Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muna Barat, Sulawesi Tenggara, senilai Rp158,3 miliar menghadapi persoalan serius. Progres pekerjaan fisik yang diperkirakan belum mencapai 25 persen,…
KUHP Baru Perluas Peran PK, IPKEMINDO Sultra Siapkan Strategi
Kendari – Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru memperluas peran Pembimbing Kemasyarakatan (PK) dalam sistem peradilan pidana. Ikatan Pembimbing Kemasyarakatan Indonesia (IPKEMINDO) Sulawesi Tenggara (Sultra) menyiapkan penguatan…
Ombudsman: Ridwan Badallah Banyak Sebar Ujaran Kebencian di TikTok
Kendari – Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara (Sultra), Ridwan Badallah, disorot Ombudsman RI Perwakilan Sultra setelah ditemukan banyak ujaran kebencian dalam konten TikTok pribadinya, @eRBe#bersuara. Ujaran tersebut tidak…
Ruksamin Menang Sengketa Mesin Crusher, Jalil Siapkan Perlawanan di Pengadilan Tinggi
Kendari – Sengketa kepemilikan satu unit mesin crusher antara mantan Bupati Konawe Utara (Konut), Ruksamin, dan Jalil berlanjut ke tingkat banding. Kuasa hukum Jalil, Imam Rifaldi memastikan pihaknya…







