Kendari – Angka inflasi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melonjak tajam pada Januari 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra mencatat inflasi year on year (yoy) sebesar 5,10 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 110,37.
Capaian tersebut menempatkan Sultra sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi kedua secara nasional, tepat di bawah Provinsi Aceh. Secara nasional, inflasi Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen (yoy), tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir.
Berdasarkan wilayah, inflasi tertinggi di Sultra terjadi di Kabupaten Kolaka dengan angka 6,75 persen (IHK 112,65). Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Konawe sebesar 3,79 persen (IHK 109,58).
Selain inflasi tahunan, Sultra juga mengalami inflasi month to month (m-to-m) dan year to date (y-to-d) masing-masing sebesar 0,69 persen pada Januari 2026.
Kelompok Pengeluaran Penyumbang Inflasi
BPS mencatat inflasi yoy dipicu oleh kenaikan indeks pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Kelompok yang memberikan andil terbesar antara lain:
Makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,03 persen, Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 17,35 persen.
Kemudian kesehatan 2,35 persen, transportasi 1,76 persen, pendidikan 4,96 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,45 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 12,39 persen.
Sementara itu, dua kelompok pengeluaran tercatat mengalami deflasi, yakni pakaian dan alas kaki sebesar 0,69 persen serta perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,12 persen.
Faktor Pendorong Inflasi
Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto menjelaskan lonjakan inflasi tahunan dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama. Di antaranya kenaikan harga listrik, emas, beras, ikan-ikanan, hingga biaya pendidikan perguruan tinggi.
Menurutnya, tingginya inflasi juga tidak lepas dari efek low base effect. Pada Januari 2025 lalu, pemerintah masih memberlakukan kebijakan diskon tarif listrik hingga 50 persen, sehingga angka inflasi pada periode tersebut relatif rendah.
“Periode pembanding Januari 2025 bukan pembanding yang kuat karena masih ada diskon listrik dari pemerintah. Tahun ini diskon tersebut sudah tidak ada, sehingga inflasi terlihat lebih tinggi,” ujarnya.
Editor: Muh Fajar








