Isi Kesepakatan Historis-Yuridis Sultra dan Sulsel Terkait Sengketa Pulau Kawi-Kawia


Kendari - Sengketa status Pulau Kakabia atau Kawi-Kawia antara Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan akhirnya menemui titik terang. Kedua gubernur sepakat menyelesaikan persoalan tersebut melalui pendekatan yuridis dan historis dalam pertemuan yang difasilitasi Kementerian Dalam Negeri.
Kesepakatan itu dicapai pada Jumat, 20 Februari 2026, dalam rapat yang digelar di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung H Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Jakarta Pusat.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari rapat sebelumnya pada 18 Februari 2026 di Komplek Widya Candra yang dihadiri Gubernur Sulawesi Selatan, Gubernur Sulawesi Tenggara, dan Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan.
Pembahasan difokuskan pada status Pulau Kakabia/Kawi-Kawia yang selama ini menjadi perdebatan antara Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan, dan Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Dalam forum tersebut, kedua gubernur menyatakan sepakat menyelesaikan permasalahan dengan berpijak pada dua aspek utama, yakni yuridis dan historis.
Dari aspek yuridis, kesepakatan merujuk pada sejumlah regulasi yang dinilai menjadi dasar hukum penetapan wilayah. Di antaranya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2014 tentang Pembentukan Kabupaten Buton Selatan di Provinsi Sulawesi Tenggara, serta Undang-Undang Nomor 140 Tahun 2024 tentang Kabupaten Kepulauan Selayar di Provinsi Sulawesi Selatan.
Selain itu, turut menjadi rujukan yakni Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 45 Tahun 2011 tentang Wilayah Administrasi Pulau Kakabia, SK Menteri Kehutanan Nomor 92/Kpts-II/2001 tanggal 26 Februari 2001 tentang Konservasi Taman Nasional Laut Taka Bone Rate dan sekitarnya, Kepmendagri Nomor 300.2.2-2138 Tahun 2025 tentang Pemberian dan Pemutakhiran Kode, Data Wilayah Administrasi Pemerintahan dan Pulau, serta Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 24/PUU-XVI/2018.
Sementara dari aspek historis, disampaikan bahwa dalam catatan sejarah Kesultanan Buton, jauh sebelum masa penjajahan Belanda, wilayah Selayar disebut pernah menjadi bagian dari pengaruh Kesultanan Buton. Secara etimologis, nama Kawi-Kawia juga diyakini berasal dari bahasa Buton.
Kata “kawi” berarti pertemuan, sementara imbuhan “a” dimaknai sebagai tempat. Dengan demikian, Kawi-Kawia diartikan sebagai “Tempat Pertemuan”. Penamaan ini merujuk pada kondisi geografis pulau yang berada di pertemuan arus Laut Flores, yang sejak dahulu dikenal para pelaut Buton.
Selain faktor geografis, sejarah lisan masyarakat Buton juga menyebut Pulau Kawi-Kawia sebagai lokasi pertemuan antara Ulama Syaikh Said Abdul Wahid-pembawa ajaran Islam di Buton-dengan gurunya, Imam Pasai.
Berdasarkan pertimbangan yuridis dan historis tersebut, Pulau Kakabia/Kawi-Kawia disepakati untuk ditetapkan dalam cakupan wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara.
Namun demikian, untuk kepentingan administrasi keuangan dan pemerintahan, posisi pulau ini tetap menjadi landasan dalam pengaturan kedua provinsi. Adapun pengelolaan Pulau Kakabia/Kawi-Kawia yang merupakan kawasan konservasi nasional tetap berada di bawah kewenangan Kementerian Kehutanan dengan melibatkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Kesepakatan ini diharapkan menjadi solusi atas polemik panjang yang selama ini mengemuka, sekaligus memperkuat sinergi antar daerah dalam menjaga kawasan strategis dan konservasi nasional tersebut.
Editor: Muh Fajar
Berita BerikutnyaSetelah Bertahun-tahun, Sengketa Pulau Kawi-Kawia Antara Sultra dan Sulsel Berakhir
Baca Juga
Promo 11.11 Gadget Day Blibli Histeria, Ini Kelebihan iPhone 18 Pro Max yang Semakin Canggih!
Kendari - Pernah membayangkan memiliki smartphone dengan performa tinggi, kamera profesional, dan baterai yang mampu menemani aktivitas sepanjang hari? Kehadiran Promo 11.11 dari Blibli Histeria bisa menjadi momen…
Mantan Karutan Kendari Herianto Raih Doktor dengan IPK Sempurna 4,00 di UHO
Kendari – Mantan Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Kendari, Herianto, berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen di Program Pascasarjana Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara,…
Darwin Ajak Empat Pilar Budaya Bersatu, Peringatkan Provokasi Antarsuku di Sultra
Kendari – Ketua Umum Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara (Sultra), La Ode Darwin, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi isu-isu yang berpotensi memicu konflik antarsuku dan…
Mahasiswa Geruduk Rektorat UHO, Desak Audit Dana Penelitian dan Evaluasi Dekan FISIP
Kendari – Aliansi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) mendesak Rektor UHO, Prof. Takdir Saili, mengaudit pengelolaan dana penelitian mahasiswa tahun anggaran…
La Ode Darwin Sapa Warga Muna di Morowali, Ini Pesan Pentingnya untuk Perantau
Morowali – Ketua Umum Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara (Sultra) periode 2026–2031, La Ode Darwin, menyapa masyarakat Muna di Kabupaten Morowali dalam perayaan Hari Ulang Tahun…
Basarnas Kendari Latih 70 Pegawai dan Warga Binaan Lapas Perempuan Hadapi Bencana
Kendari – Sebanyak 70 pegawai dan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Kendari mengikuti simulasi penanggulangan bencana dan evakuasi darurat bersama Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas)…







