Kendari – Kawasan karst Sulawesi Tenggara yang membentang hampir 6.000 kilometer dikenal sebagai salah satu lanskap geologi paling penting di Indonesia.
Batuan raksasa itu mencakup empat massa batuan utama, yakni Matarombeo, Tangkelemboke, Sombori, dan Pegunungan Mekongga.
Kekayaan alam tersebut kini didorong untuk mendapatkan perlindungan maksimal. Pada Senin, 5 Januari 2026, dalam forum bertajuk Konferensi Wallacea Expeditions di Kendari, kawasan karst Sultra secara resmi diusulkan berstatus Taman Nasional sekaligus warisan dunia melalui skema Cagar Biosfer dan Geopark UNESCO.
Upaya ini dilakukan untuk menjaga nilai ekologis, geologis, serta sejarah budaya yang dinilai tak ternilai harganya.
Pengusulan kawasan lindung ini lahir dari kolaborasi panjang para ilmuwan dan lembaga riset, baik nasional maupun internasional.
Inisiatif tersebut digagas Universitas Halu Oleo bersama NGO internasional Naturevolution, dengan dukungan Universitas Muhammadiyah Kendari, Universitas Gadjah Mada, International Cooperative Biodiversity Group, University of California–Davis, serta Institut Teknologi Bandung.
Direktur Naturevolution International, Evrard Wendenbaum, dalam keterangannya seperti dikutip dari Mongabay Indonesia menjelaskan, bahwa selama lebih dari satu dekade, kerja sama ilmiah lintas negara telah dilakukan untuk menyusun basis data terpadu sebagai fondasi pengusulan kawasan lindung berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.
Melalui rangkaian Ekspedisi Wallacea yang berlangsung selama sepuluh tahun, sebanyak 327 peserta, termasuk 73 ilmuwan lokal, terlibat langsung dalam penelitian lapangan selama total 183 hari.
Penelitian ini melibatkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari arkeologi dan hidrogeologi hingga biologi, mencakup botani, mamalogi, ornitologi, herpetologi, entomologi, iktiologi, mikologi, dan genetika.
Sebagian besar riset dilakukan di wilayah terpencil yang sebelumnya belum pernah tersentuh penelitian ilmiah.
Dalam ekspedisi tersebut, para peneliti menerapkan protokol ilmiah ketat, seperti pemanfaatan bioakustik, pemasangan kamera jebak, penggunaan berbagai jenis perangkap, pengumpulan spesimen, hingga analisis DNA lingkungan.
Metode ini membuka tabir kekayaan hayati, jejak budaya, serta peninggalan arkeologis yang tersembunyi di kawasan karst Sultra.
“Sejumlah ekspedisi dilakukan atas permintaan otoritas lokal untuk memahami hutan primer terbesar di pulau ini, yang merupakan hotspot keanekaragaman hayati luar biasa namun sangat terancam,” ujar Evrard dilansir dari Mongabay Indonesia.
“Tujuannya agar kawasan ini mendapat pengakuan sebagai kawasan lindung nasional sekaligus warisan dunia,” imbuhnya.
Konferensi Wallacea Expeditions juga menjadi ruang bagi para ilmuwan mempresentasikan proposal resmi kawasan lindung bertajuk lanskap Wallacea kepada masyarakat dan pemangku kepentingan lokal.
Berbagai temuan penting dipaparkan, mulai dari asal-usul sumber air utama yang menopang kehidupan ratusan ribu penduduk, data ekologis komprehensif, hingga warisan budaya dan arkeologi yang memperkaya sejarah Indonesia.
Menurut Evrard, kawasan karst Sulawesi Tenggara tidak hanya memiliki keunikan ekologis dan geologis, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan arkeologis yang tinggi, serta peluang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan.
Ia menambahkan, rangkaian Ekspedisi Wallacea telah menghasilkan laporan ilmiah yang menyeluruh, sekaligus proposal pembentukan kawasan lindung esensial baru seluas sekitar 6.000 kilometer persegi.
Dokumen tersebut diharapkan menjadi pijakan kuat bagi pemerintah dalam mewujudkan kawasan lindung nasional berkelanjutan yang diakui dunia.
Sumber: Mongabay Indonesia
Editor: Muh Fajar








