Kendari – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI mencatat sebanyak 28 titik panas (hotspot) terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia dalam 24 jam terakhir.
Data ini diperoleh melalui sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi. Jumlah tersebut mengalami penurunan signifikan, yakni berkurang 36 titik dibandingkan periode sebelumnya.
Pemantauan dilakukan menggunakan citra satelit Terra Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Minggu, 4 Januari 2026, pukul 11.36 WIB.
“Dari total 28 titik panas yang terdeteksi, seluruhnya berada pada kategori tingkat kepercayaan sedang,” tulis keterangan resmi KLHK RI dikutip dari Databoks.
Tingkat kepercayaan hotspot dibagi ke dalam tiga kategori, yakni skala rendah dengan rentang 0–29, skala sedang 30–79, dan skala tinggi 80–100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar pula potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.
Berdasarkan sebarannya, Sulawesi Tenggara menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 8 titik. Posisi kedua ditempati Nusa Tenggara Timur dengan 5 titik, disusul Sulawesi Tengah yang juga mencatat 5 titik panas.
Selain itu, masing-masing 2 titik panas terdeteksi di Papua Pegunungan dan Provinsi Riau. Sementara Kalimantan Timur terpantau memiliki 2 titik panas, dan Jawa Timur 1 titik panas.
KLHK menegaskan bahwa titik panas merupakan koordinat wilayah yang memiliki suhu permukaan lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya, sehingga tidak serta-merta menunjukkan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Meski demikian, keberadaan titik panas dalam jumlah banyak dan terkonsentrasi di satu wilayah dapat menjadi indikasi kuat adanya aktivitas kebakaran hutan dan lahan.
Oleh karena itu, pemantauan hotspot melalui satelit penginderaan jauh dinilai masih menjadi metode paling efektif untuk mengawasi potensi kebakaran di wilayah yang luas.
Editor: Muh Fajar








