Kendari – Pemerintah Kota Kendari menargetkan prevalensi stunting turun hingga nol persen pada 2029. Saat ini, angka stunting masih berada di 20 persen berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
“Jadi kita harus menurunkan sampai nol persen di 2029,” ujar Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk-KB) Kota Kendari, Jahudding, Selasa (5/8).
Untuk mengejar target itu, Pemkot memperkuat sinergi lintas sektor. Salah satu fokusnya adalah intervensi terhadap 1.018 keluarga berisiko stunting yang terdata secara rutin setiap tahun.
“Inilah yang menjadi fokus utama kita dalam melakukan intervensi, baik secara spesifik maupun sensitif,” jelasnya.
Enam indikator menjadi acuan risiko stunting, di antaranya sanitasi tidak layak, akses air bersih terbatas, serta faktor “4 Terlalu”: terlalu muda atau terlalu tua saat hamil, terlalu banyak anak, dan jarak kelahiran terlalu rapat.
“Faktor-faktor ini, jika tidak diintervensi dengan edukasi dan pendampingan yang tepat, akan memicu lahirnya generasi baru dengan risiko stunting,” kata Jahudding.
Sebagai inovasi, Pemkot meluncurkan program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Intervensi Stunting), yang melibatkan masyarakat mampu sebagai pendamping keluarga berisiko.
“Kalau dulu kita kenal istilah Persaudaraan Madani, sekarang kita sebut Orang Tua Asuh,” ujarnya.
Jahudding menekankan pentingnya pemanfaatan data presisi dan evaluasi program secara menyeluruh antar-OPD untuk memastikan intervensi tepat sasaran.
“Kolaborasi lintas sektor dan evaluasi menyeluruh terhadap program setiap OPD adalah kunci,” pungkasnya.
Editor: Redaksi








