Muna Barat – Anggota DPRD Muna Barat, La Ode Burhanudin, mendorong nelayan menggunakan metode penangkapan ikan yang lebih ramah lingkungan melalui pemanfaatan rumpon berbahan ban bekas.
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga Ketua Komisi I DPRD Muna Barat itu bahkan menggunakan dana pribadinya untuk membuat satu unit rumpon bersama kelompok nelayan di Desa Santiri, Kecamatan Tiworo Utara.
Burhanudin menjelaskan, rumpon tersebut dirancang berbeda dari rumpon yang selama ini dibuat sebagian nelayan. Jika umumnya menggunakan tali dan daun kelapa, inovasi yang diperkenalkannya memanfaatkan ban bekas dan tali agar lebih kuat serta memiliki masa pakai lebih panjang.
“Biasanya rumpon yang dibuat nelayan hanya menggunakan tali dan daun kelapa. Kali ini saya ajarkan menggunakan ban bekas dan tali,” kata Burhanudin saat diwawancarai, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, rumpon konvensional umumnya hanya mampu bertahan sekitar enam bulan. Sementara rumpon berbahan ban bekas yang dibuat bersama nelayan tersebut ditargetkan dapat digunakan hingga lima tahun.
“Kalau dulu ketahanannya paling lama enam bulan. Ini bisa bertahan sampai lima tahun,” ujarnya.
Rumpon merupakan alat bantu penangkapan ikan yang menggunakan atraktor untuk menarik dan mengumpulkan ikan di sekitar lokasi pemasangan. Penggunaannya diharapkan dapat membantu nelayan menemukan gerombolan ikan dengan lebih mudah.
Bagi Burhanudin, program tersebut bukan hanya bertujuan membantu nelayan meningkatkan hasil tangkapan. Ia ingin menyediakan alternatif agar nelayan tidak bergantung pada praktik penangkapan yang dapat merusak ekosistem laut.
“Harapan saya, program ini bisa mengatasi kesulitan masyarakat dalam menangkap ikan sehingga tidak lagi menggunakan alat tangkap ilegal. Dengan begitu, laut kita bisa terhindar dari kerusakan,” katanya.
Ia mengatakan laut merupakan sumber penghidupan utama bagi nelayan kecil. Karena itu, kerusakan terumbu karang dan padang lamun akibat praktik penangkapan yang merusak dapat berdampak terhadap keberlanjutan sumber daya ikan.
Burhanudin menyoroti penggunaan bahan peledak, racun atau sianida, serta alat tangkap yang merusak sebagai praktik yang dapat mengancam habitat ikan.
“Laut adalah sumber kehidupan nelayan. Kalau habitatnya rusak, nelayan kecil juga yang paling dulu merasakan dampaknya,” ujarnya.
Untuk tahap awal, satu unit rumpon telah dibuat untuk satu kelompok nelayan di Desa Santiri. Burhanudin akan melihat hasil penggunaannya sebelum memperluas program tersebut ke desa-desa kepulauan lainnya di Muna Barat.
“Kalau ini berhasil, saya akan terapkan ilmunya ke desa-desa kepulauan lain di Muna Barat,” katanya.
Ia berharap inovasi tersebut dapat membantu nelayan meningkatkan hasil tangkapan sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem laut.
“Ke depan, Insyaallah akan lebih banyak lagi. Kita ingin nelayan tetap bisa mendapatkan ikan, tetapi laut juga tetap terjaga,” tutupnya.
Editor: Denyi Risman








