Muna – Kabar membanggakan datang dari dunia arkeologi Indonesia. Lukisan cadas yang ditemukan di Gua Metanduno, Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, resmi diakui oleh Guinness World Records (GWR) sebagai “oldest painting, non-figurative art” atau seni non-figuratif tertua di dunia.
Pengakuan ini menjadi penanda penting atas tingginya nilai sejarah dan kebudayaan yang tersimpan di Pulau Muna. Lukisan purba tersebut kini dinobatkan sebagai salah satu bukti awal ekspresi simbolik manusia prasejarah.
Temuan bersejarah ini merupakan hasil kerja sama riset antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Griffith University serta Southern Cross University, Australia. Penelitian tersebut sebelumnya telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Nature pada 21 Januari 2026.
Riset itu dipimpin peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr Adhi Agus Oktaviana, bersama ilmuwan dari Griffith University Australia, Prof Adam Brumm dan Prof Maxime Aubert, serta melibatkan sejumlah ahli lainnya.
Berdasarkan hasil studi, lukisan tersebut diperkirakan berusia 67.800 tahun.
Penentuan usia dilakukan dengan metode uranium-series berbasis laser untuk mengukur lapisan mineral yang terbentuk di atas pigmen gambar.
Dari pengujian tersebut, lukisan dipastikan memiliki usia minimum puluhan ribu tahun dan menjadi salah satu temuan paling krusial dalam kajian seni prasejarah dunia.
Penyerahan sertifikat Guinness World Records dilakukan di BRIN Pusat, Jakarta, pada Selasa (19/5/2026). Agenda tersebut berlangsung bertepatan dengan kegiatan BRIN Goes to Industry 4.
Pencapaian ini memperkuat posisi Sulawesi Tenggara sebagai wilayah dengan jejak peradaban manusia purba tertua. Temuan di Muna ini bahkan disebut melampaui usia sejumlah lukisan prasejarah lain yang selama ini dikenal dalam dunia arkeologi.
Pengakuan dari GWR membuka peluang besar bagi pengembangan arkeowisata di Indonesia, khususnya di situs prasejarah.
Meski demikian, BRIN memberikan peringatan keras terkait upaya pelestarian situs tersebut. Seni cadas sangat rentan mengalami kerusakan akibat berbagai faktor, di antaranya perubahan suhu dan kelembapan yang ekstrem, dampak perubahan iklim ,serta aktivitas manusia atau wisatawan yang tidak terkontrol.
Pemerintah dan pengelola situs diharapkan dapat menyusun sistem pengelolaan yang terstruktur dan ketat.
Hal ini penting agar warisan dunia yang tak ternilai harganya tersebut tetap terjaga dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang.
Editor: Redaksi








