Opini  

Muhammadiyah dan Green Economy: Bisnis yang Tak Mengabaikan Kelestarian Alam

Ilustrasi. Foto: Dok. Chat GPT.

Oleh: Sumanti Suhardin

Tantangan Bisnis Hijau di Era Perubahan Iklim

Di tengah ekonomi global yang semakin dipengaruhi oleh perubahan iklim, konsep “ekonomi hijau” muncul sebagai pendekatan bisnis yang menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan upaya perlindungan lingkungan.

Bisnis hijau menekankan model bisnis yang berkelanjutan, seperti berinvestasi pada energi terbarukan, mengurangi emisi karbon, dan menerapkan produksi ramah lingkungan.

Namun, tantangan utama adalah memastikan bahwa bisnis tersebut tidak mengabaikan pelestarian lingkungan, yang seringkali dikorbankan demi keuntungan cepat.

Di Indonesia, Muhammadiyah—sebuah organisasi Islam modernis yang telah lama berkontribusi pada pembangunan sosial—memiliki potensi besar untuk memimpin bisnis ekonomi hijau yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

Artikel ini, dari perspektif teknik lingkungan, menjelaskan bagaimana Muhammadiyah dapat mengembangkan bisnis hijau sambil menjaga kelestarian lingkungan, yang didukung oleh referensi akademik terbaru.

Nilai-Nilai Muhammadiyah dalam Bisnis Berkelanjutan

Muhammadiyah, didirikan pada tahun 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan, dikenal dengan prinsip tajdid atau pembaruan, serta usaha-usaha yang berfokus pada kemajuan sosial dan ekonomi.

Dalam dunia bisnis, organisasi ini telah mendirikan koperasi, usaha kesehatan, dan lembaga pendidikan yang sering mengintegrasikan nilai-nilai Islam seperti khilafah (tanggung jawab manusia terhadap bumi) dan rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang untuk seluruh makhluk).

Gagasan ini menekankan bahwa bisnis sebaiknya bijak dalam menggunakan sumber daya alam, tidak merusaknya, yang sejalan dengan ekonomi hijau yang mendorong model seperti pertanian organik atau energi surya tanpa mengganggu ekosistem.

Muhammadiyah telah menunjukkan komitmennya melalui program-program seperti mengembangkan bisnis ramah lingkungan di kampus-kampusnya, misalnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang menggunakan teknologi panel surya.

Namun, dari perspektif teknik lingkungan, tantangannya adalah memperluas ini ke bisnis berskala besar, seperti mendukung industri hijau yang melindungi keanekaragaman hayati dan sumber daya air, sambil menghindari dampak negatif seperti deforestasi atau pencemaran sungai yang sering terjadi di Indonesia.

Integrasi Green Economy Bisnis Tanpa Mengabaikan Kelestarian

Ekonomi bisnis hijau memerlukan tindakan konkret seperti inovasi teknologi hijau, pengelolaan limbah, dan rantai pasok yang berkelanjutan. Muhammadiyah dapat mengambil peran kepemimpinan dengan mengintegrasikan etika Islam dalam praktik bisnis, Dari perspektif rekayasa lingkungan contohya:

Pendidikan dan Inovasi Teknologi: Melalui jaringan universitas Muhammadiyah, kurikulum rekayasa lingkungan dapat dikembangkan yang menekankan bisnis hijau berdasarkan ajaran Al-Qur’an (QS. Al-A’raf: 56, yang mendorong manusia untuk tidak merusak bumi). Hal ini dapat menumbuhkan wirausahawan yang menciptakan bisnis seperti produksi bahan bangunan ramah lingkungan atau sistem pengolahan air tanpa merusak hutan atau ekosistem laut.

Usaha Bisnis Berkelanjutan: Muhammadiyah dapat mempromosikan bisnis seperti koperasi pertanian organik, ekowisata, atau perusahaan energi terbarukan. Misalnya, bisnis Muhammadiyah dapat fokus pada produk halal sekaligus ramah lingkungan, memastikan pertumbuhan ekonomi tidak merusak lingkungan, seperti yang terlihat pada studi kasus deforestasi di Kalimantan.

 Kolaborasi dan Kebijakan: Bekerja sama dengan pemerintah dan sektor swasta untuk kebijakan bisnis ekonomi hijau, seperti mendukung moratorium pertambangan di wilayah konservasi atau program reboisasi. Ini tidak hanya melestarikan alam tetapi juga mengurangi risiko bencana lingkungan, seperti banjir yang sering disebabkan oleh erosi tanah.

Namun, dari perspektif teknik lingkungan, penting untuk menghindari greenwashing—klaim bisnis hijau yang tidak didukung oleh data ilmiah. Muhammadiyah harus memastikan bisnis ekonomi hijau menggunakan indikator seperti jejak karbon rendah dan audit lingkungan, sesuai dengan prinsip Berkelanjutan Islam tentang keseimbangan atau mizan

Muhammadiyah sebagai Model Bisnis Hijau

Muhammadiyah memiliki kesempatan unik untuk menjadi pelopor ekonomi hijau di Indonesia dengan menggabungkan nilai-nilai Islam yang mendalam dengan praktik rekayasa lingkungan modern. Dengan fokus pada keberlanjutan lingkungan, organisasi ini tidak hanya mendorong kesejahteraan ekonomi tetapi juga melindungi bumi untuk generasi mendatang.

Jika Muhammadiyah terus mengembangkan inisiatif ini, organisasi ini dapat menginspirasi bisnis lain untuk mengadopsi model yang hijau, berkelanjutan, dan etis. Sebagai penulis dari program studi rekayasa lingkungan, saya percaya bahwa integrasi ini adalah kunci untuk masa depan yang lebih baik. ***


*) Penulis adalah Mahasiswi Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah Kendari.

error: Content is protected !!