Kendari – Meski telah berusia lebih dari satu dekade, Kabupaten Muna Barat masih menyimpan ironi di sektor energi. Sebanyak 11 desa di wilayah kepulauan hingga kini belum menikmati aliran listrik PLN.
Kondisi ini membuat 2.456 rumah tangga hidup dalam kegelapan di tengah gencarnya program nasional elektrifikasi.
Fakta ini diungkap langsung oleh Bupati Muna Barat, La Ode Darwin, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Diseminasi RUPTL 2025–2034 PLN di Ballroom Hotel Claro, Kendari, Senin (25/8).
“Total ada 2.456 rumah tangga di wilayah kepulauan Muna Barat yang sampai hari ini belum teraliri listrik PLN,” kata Darwin.
Darwin menegaskan, pemerintah daerah menempatkan listrik sebagai prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029.
Ia menilai listrik bukan hanya persoalan energi, tetapi kunci pertumbuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan, sekaligus pintu masuk kemajuan desa-desa terpencil.
“Bagi kami, listrik bukan sekadar energi. Ia adalah penggerak utama pertumbuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan, sekaligus pintu masuk bagi kemajuan desa-desa terpencil,” tegasnya.
Hasil penelusuran menunjukan, desa-desa yang hingga kini belum teraliri listrik tersebar di tiga kecamatan kepulauan.
Di Kecamatan Tiworo Utara meliputi Desa Santiri, Tiga, Bero, Mandike, dan Santigi. Di Kecamatan Maginti, ada Desa Gala, Pasipadanga, Maginti, dan Kangkunawe. Sementara di Kecamatan Tiworo Kepulauan, masih ada Desa Katela.
Untuk menutup ketertinggalan itu, Pemda Muna Barat bersama PLN menyusun tahapan pembangunan listrik hingga 2027.
Tahun 2025, proyek akan menyasar Desa Bero, Mandike, Santigi, dan Gala dengan target 428 rumah serta 32 fasilitas umum.
Tahun 2026, pembangunan dilanjutkan di Desa Tasipi, Pasipadanga, dan Katela dengan sasaran 503 rumah dan 21 fasilitas umum.
Puncaknya pada 2027, giliran Desa Santiri, Tiga, Maginti, dan Kangkunawe yang akan dialiri listrik dengan jumlah terbesar, 1.444 rumah dan 31 fasilitas umum.
Pemda mengklaim telah menyiapkan anggaran Rp 500 juta melalui APBD untuk menanggung biaya sambungan listrik rumah tangga.
Sementara itu, di sektor pembangkit, PLN bersama Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) akan membangun jaringan listrik tenaga surya (PLTS) di empat desa terluar Muna Barat pada 2025.
“Melalui kerja sama dengan UP2K, pada 2025 akan dibangun jaringan listrik tenaga surya di empat desa terluar Mubar, yaitu Desa Bero, Mandike, Santigi, dan Gala,” ungkap Darwin.
Investigasi lapangan juga menemukan, keterlambatan akses listrik di Muna Barat bukan hanya soal teknis jaringan, tetapi juga faktor geografis karena sebagian besar desa berada di pulau-pulau terluar.
Selain itu, ketergantungan penuh pada program PLN membuat banyak desa harus menunggu lama meski kebutuhan listrik sudah mendesak.
Darwin menegaskan, Pemda akan memberikan dukungan penuh, mulai dari perizinan, penyediaan lahan, hingga dukungan sosial di lapangan.
Ia berharap, komitmen ini menjadi momentum percepatan transisi energi bersih sekaligus pemerataan pembangunan.
“Pemda Muna Barat siap bersinergi dengan PLN, mulai dari perizinan, penyediaan lahan, hingga dukungan sosial di lapangan. Kami ingin memastikan seluruh rencana strategis benar-benar terealisasi tepat waktu dan tepat sasaran,” pungkas Darwin.
Editor: Redaksi








