News  

Nilai Ekspor Sulawesi Tenggara Anjlok, Impor Melonjak, Neraca Perdagangan Defisit

Ilustrasi. Foto: Dok. Istimewa.

Kendari – Kinerja perdagangan luar negeri Sulawesi Tenggara pada Mei 2026 menunjukkan kontras yang cukup tajam. Di satu sisi, nilai ekspor mengalami penurunan signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, impor justru melonjak hingga lebih dari empat kali lipat, membuat neraca perdagangan provinsi ini mengalami defisit.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 1 Juli 2026, nilai ekspor Sulawesi Tenggara pada Mei 2026 tercatat sebesar US$215,93 juta. Angka tersebut turun 29,76 persen dibandingkan Mei 2025 yang mencapai US$307,43 juta.

Penurunan juga terjadi pada volume ekspor yang hanya mencapai 136,67 ribu ton atau merosot 41,49 persen dibandingkan volume ekspor Mei 2025 yang mencapai 233,59 ribu ton.

Komoditas besi dan baja yang selama ini menjadi andalan ekspor Sulawesi Tenggara menjadi penyumbang terbesar penurunan tersebut. Nilai ekspor komoditas ini turun 30,22 persen, dari US$300,15 juta pada Mei 2025 menjadi US$209,43 juta pada Mei 2026.

Meski demikian, sepanjang Januari hingga Mei 2026, sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor Sulawesi Tenggara dengan nilai mencapai US$1,599 miliar atau berkontribusi 99,83 persen terhadap total ekspor.

Sementara itu, Tiongkok tetap menjadi negara tujuan utama ekspor Sulawesi Tenggara. Selama Januari–Mei 2026, nilai ekspor ke negeri tersebut mencapai US$1,544 miliar atau sekitar 96,41 persen dari total ekspor provinsi.

Berbanding terbalik dengan ekspor, nilai impor Sulawesi Tenggara pada Mei 2026 justru melonjak drastis menjadi US$379,76 juta atau naik 442,47 persen dibandingkan Mei 2025 yang hanya sebesar US$70,01 juta.

Volume impor juga mengalami lonjakan tajam menjadi 776,11 ribu ton, meningkat 226,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat 237,81 ribu ton.

Peningkatan terbesar berasal dari golongan mesin-mesin atau pesawat mekanik yang nilai impornya naik hingga 913,48 persen atau bertambah sebesar US$101,10 juta dibandingkan Mei tahun sebelumnya.

Selain mesin mekanik, komoditas impor Sulawesi Tenggara juga didominasi bahan bakar mineral, mesin dan peralatan listrik, bijih, kerak dan abu logam, serta perabot dan perlengkapan penerangan rumah.

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Tiongkok menjadi pemasok barang impor terbesar ke Sulawesi Tenggara dengan nilai mencapai US$1,014 miliar. Posisi berikutnya ditempati Singapura sebesar US$371,97 juta dan Malaysia sebesar US$148,70 juta.

Jika dilihat berdasarkan penggunaan barang, impor barang modal mengalami kenaikan paling tinggi, yakni mencapai US$740,24 juta atau melonjak 1.531,78 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Impor bahan baku dan barang penolong juga meningkat 381,58 persen, sedangkan barang konsumsi naik 685,65 persen.

Akibat tingginya impor yang tidak diimbangi ekspor, neraca perdagangan Sulawesi Tenggara pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar US$20,96 juta.

Data BPS juga menunjukkan, selama periode Januari 2024 hingga Mei 2026, nilai impor tertinggi Sulawesi Tenggara terjadi pada April 2026 yang mencapai US$453,05 juta. Sementara volume impor tertinggi sepanjang periode tersebut tercatat pada Mei 2026 dengan total 776,11 ribu ton.


Editot: Muh Fajar

error: Content is protected !!