OJK Catat Aset Perbankan di Sultra Tembus Rp62,29 Triliun pada Triwulan I 2026

Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara. Foto: Dok. Istimewa.

Kendari – Industri perbankan di Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan tren pertumbuhan yang solid di awal tahun 2026.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sultra mencatat total aset perbankan di daerah ini berhasil menembus angka Rp62,29 triliun pada Triwulan I 2026.

Angka tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,76 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian ini menjadi sinyal positif di tengah dinamika ekonomi nasional yang penuh tantangan.

Kepala OJK Provinsi Sultra, Bismi Maulana Nugraha, mengungkapkan bahwa sektor jasa keuangan di Sultra tetap terjaga stabil.

Hal ini didorong oleh berbagai faktor pendukung, mulai dari intermediasi perbankan yang berjalan baik hingga meningkatnya literasi investasi masyarakat.

“Stabilitas sektor jasa keuangan daerah terjaga dengan baik ditopang pertumbuhan intermediasi perbankan, peningkatan aktivitas investasi masyarakat di pasar modal, serta berkembangnya layanan keuangan digital,” ujar Bismi dalam keterangan resminya, Rabu (20/5/2026).

Tak hanya dari sisi aset, kepercayaan masyarakat untuk menyimpan uang di bank juga terus meningkat. Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat mencapai Rp33,76 triliun dengan pertumbuhan 5,25 persen secara yoy.

Data OJK menunjukkan pola perilaku menabung masyarakat Sultra masih sangat kuat, dimana porsi tabungan masih menjadi penyumbang terbesar DPK, yakni mencapai 67,4 persen.

Perbankan juga tercatat telah menyalurkan kredit sebesar Rp54,43 triliun, naik 4,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara kredit konsumsi mendominasi penyaluran dengan porsi 48,5 persen, yang mencerminkan tingginya aktivitas belanja dan kebutuhan konsumtif masyarakat.

Meskipun penyaluran kredit terus menunjukkan angka kenaikan, OJK memastikan kondisi perbankan di Sultra tetap sehat.

Hal ini dibuktikan dengan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang tetap terjaga rendah di angka 1,85 persen.

Rasio NPL di bawah 2 persen ini menandakan bahwa manajemen risiko perbankan di Bumi Anoa berjalan dengan baik.

Kondisi ini memperkuat posisi sektor perbankan sebagai motor penggerak ekonomi daerah, terutama di tengah percepatan digitalisasi layanan keuangan yang kian diminati oleh masyarakat Sultra.


Editor: Redaksi

error: Content is protected !!