Berita  

Pak Engka, Penemu Pertama Emas Bombana

Engka, penemu pertama emas Bombana. Foto: Dok. Abdi Mahatma.

Penulis: Abdi Mahatma

Kendari – Tahun 2008 lalu, Bombana mendadak begitu ramai. Kabupaten di Sulawesi Tenggara yang usianya baru lima tahun saat itu, heboh oleh temuan butiran emas berkadar tinggi di sepanjang aliran sungai di daratan Rarowatu. Ribuan orang dari berbagai penjuru negeri ini datang ke Bombana, berburu kilau emas. Tapi tak banyak yang tahu, bagaimana hamparan logam mulia itu ditemukan, dan siapa orang pertama yang keciprat rezeki itu.

Orang-orang menyebutnya Pak Engka. Saat ini, ia hidup bertani di Desa Totole, Kecamatan Matausu. Kebun sawit miliknya menghampar di lahan-lahan yang sudah ia bebaskan sejak belasan tahun lalu. “Belum lama saya tanam itu. Tunggu dua tiga tahun lagi, sudah bisa belajar berbuah,” katanya saat kami tak sengaja bersua di sebuah kedai tepi jalan, di jalur jalan hauling PT Jhonlin Batu Mandiri, Sabtu lalu.

Dari kerabat yang menemani, saya tahu jika Pa Engka adalah orang pertama di Bombana yang menemukan emas. Saat hal itu disinggung, lelaki yang usianya ditaksir 50 an tahun ini rupanya mau bercerita. Bersemangat pula. Saya tertarik mendengarnya. Detail ia berkisah bagaimana semuanya dimulai.

“Semua berawal dari mimpi. Ada sosok buaya dengan cahaya di tubuhnya yang menuntun saya di sebuah tempat. Namanya Padang Po’ea di Desa Rau-rau. Disanalah pertama kali saya menemukan emas itu,” tuturnya.

Sejatinya, ia bukan sedang mencari emas. 10 tahun sebelum emas ia temukan, Pak Engka justru berpikir tentang adanya nikel di daerahnya. Logika yang dipakainya, jika di Pomalaa, Kolaka ada nikel, harusnya di Bombana yang sedaratan juga ada. Sejak saat itu, selain bertani dan beternak, sesekali ia mencari bebatuan yang menurut akal sederhananya mengandung nikel. Segala upaya ia lakukan, demi membuktikan keyakinannya.

Dalam upayanya mencari batu bermineral itulah, Pak Engka berkenalan dengan seorang kawan yang diajaknya untuk membuktikan keyakinan itu. Berkomunikasi dengan beberapa orang yang memiliki pengetahuan tentang mineral berharga, sampai kemudian ada yang menyampaikan bahwa jika nikel tak ada, maka bisa saja ada emas.

“Saya kadang dianggap gila, karena tiap hari masuk hutan, ambil batu lalu malamnya saya pecahkan. Saya cari nikel,” tutur Pa Engka, sembari menghisap rokoknya.

Penulis, Abdi Mahatma (kiri) saat berbincang bersama Pak Engka sang penemu pertama emas Bombana. Foto: Dok. Abdi Mahatma.

Suatu hari, sekira tahun 2008, ia bersama sang kawan mengundang seorang pengusaha jual beli emas untuk mengecek sebuah lokasi yang mereka curigai memiliki kandungan emas. Sang pengusaha datang bersama dua ahli geologi. Berhari-hari mengambil sampel di sekitar sungai Raurau, hasilnya nihil. Sang pengusaha pulang, Pak Engka nyaris putus asa. Ia berniat kembali bertani dan beternak saja.

“Malam Jumat saya mimpi, ada buaya yang menuntun saya ke lokasi yang pernah diteliti itu. Bangun tengah malam, saya merenung. Ini pertanda atau hanya bunga tidur,” gumamnya kala itu.

Esok hari, saat siang, hujan mengguyur kawasan yang sebelumnya diteliti tersebut. Anehnya, menurut Pak Engka, radiusnya hanya kurang lebih 500 meter tapi sudah cukup membuat air meluap hebat. Anak-anak sungai yang sebelumnya kering, mendadak mengalirkan air.

Semua bekas-bekas galian yang dilakukan demi mendapatkan sampel disapu air. Saat itulah ia melihat ada yang aneh dengan permukaan air. Diambilnya wajan, pasir dan tanah yang ditampungnya perlahan ia pisahkan. Orang-orang menyebut itu mendulang. Di satu titik, ia melihat ada benda kecil berkilau di dasar wajan yang massa jenisnya terlihat berbeda. Penasaran, pria dua anak ini mengambil gagang parang. Dihancurkannya material kecil itu, tapi justru dasar wajan yang tergores.

“Saya coba ambil lagi pasir dan tanah, saya hancurkan. Tapi yang satu itu tidak bisa dihancurkan. Sudah menjelang magrib saat itu, saya ambil senter. Kenapa ini beda cahayanya. Saya simpulkan ini emas,” kisahnya. Sejak itulah, mereka mulai mengumpulkan butir demi butir. Berhari-hari mereka melakukan itu berdua dengan sang kawan, hingga terkumpul sangat banyak.

Orang-orang di Bombana pasti mengenal kawan Pak Engka. Saya sengaja tak menulisnya, karena tak sempat mengonfirmasi kisah ini ke yang bersangkutan.

Versi Pak Engka, setelah dua pekan mereka mendulang dan mengumpulkan banyak butiran emas, sang kawan mendadak hilang. Belakangan, ketahuan jika kawannya itu menyampaikan temuan ini ke pihak berwenang dan berkongsi agar dikelola perusahaan besar.

“Dari Jakarta da telepon saya, katanya ada mi perusahaan yang mau olah itu emas. Saya diminta membeli semua lahan-lahan yang ada dengan harga 5 juta satu hektar. Lahanku harganya 50 juta sendiri. Nanti dia pulang, pengusaha akan datang. Awalnya saya hitung-hitung, bisa langsung kaya saya ini tapi setelah saya pikir-pikir, kalau ini jatuh ke perusahaan, mau dapat apa keluarga saya. Jadi, saya ajaklah satu dua orang keluarga ikut mendulang. Masih saya sembunyikan informasi itu ke banyak orang,”

Saat itu Pak Engka adalah aparat desa. Saking seringnya meninggalkan tugas karena diam-diam ke hutan dan mendulang, ia ditegur sang Kades. Apalagi, sang Kades melihat usaha kios miliknya sudah kehabisan stok dan tak diurusi. Pak Engka diam saja, karena ia tahu sebentar lagi sang Kades pasti kaget dengan hal yang ia lakukan. “Sudah 5 kilo kayaknya itu emas di rumahku,”

Pak Engka rupanya kepikiran terhadap rencana kawannya yang hendak menjual lahan itu ke perusahaan. Makanya, suatu hari ia ke pasar dan bercerita ke orang-orang soal temuannya. Diajaknya mereka mendulang juga. Seperti bisa diduga, ia malah dianggap tak waras. Seorang anggota Polsek, yang menyampaikan ini ke pimpinannya juga ikut dianggap gila bahkan dikurung.

“Lama-lama akhirnya banyak yang ikut ke hutan, mendulang juga. Sampai akhirnya ketahuan dan masuk koran. Hebohlah Bombana. Teman saya itu marah sekali, kami pecah kongsi. Saat itu saya cuma berpikir, kalau ini dikuasai perusahaan kaya di Papua, warga lokal tidak ada yang menikmati. Makanya, saya bongkar. Kades saya, malam-malam saya bawakan satu gelas plastik emas. Kaget dia,”

Sejak saat itulah, temuan emas Bombana terungkap ke publik. Pemerintah ikut cawe-cawe, membuat regulasi bagi mereka yang ingin ikut mendulang. Ribuan orang datang dengan wajan di punggung, masuk hutan berburu emas. Aliran sungai disusuri dan memang bongkahan demi bongkahan emas ditemukan. Saat emas di permukaan sudah habis, tanah digali lebih dalam. Kini, bekas-bekas galian itu dibiarkan.

Kini, Pak Engka sudah tak lagi mengurusi emas. Hasil panennya saat itu, dibelikannya banyak lahan yang kemudian saat ini ia tanami berbagai komoditas. Ternaknya juga sudah banyak. Uniknya, ia memilih tinggal jauh dari pusat kota, memilih menepi di kawasan yang ia buka sendiri sembari mengajak kerabatnya untuk tinggal dan menggarap lahan. Baginya, temuan soal emas itu cukup jadi cerita saja bahwa ia bisa membuktikan, ucapan orang yang menganggapnya gila, ternyata berbalik. “Malah mereka yang gila setelah lihat emas”


*) Penulis adalah seorang pegiat sosial, jurnalis senior dan tokoh pers di Sulawesi Tenggara. Tulisan ini sebelumnya telah diposting di akun Facebook resmi, Abdi Mahatma.

error: Content is protected !!