Polda Sultra Selidiki Dugaan Penipuan RS Hermina, Status Pasien Diduga Dimanipulasi


Kendari - Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) resmi menindaklanjuti laporan dugaan tindak pidana pemalsuan dan penipuan yang menyeret nama Rumah Sakit (RS) Hermina Kendari.
Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sultra memastikan pihak manajemen rumah sakit akan segera diperiksa.
Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Sultra, Kompol Indra Asrianto, menegaskan pemanggilan RS Hermina Kendari sudah dijadwalkan penyidik untuk mengklarifikasi laporan pasien.
“Tahap selanjutnya pihak Rumah Sakit Hermina akan dilakukan pemeriksaan,” katanya, Sabtu (6/9).
Ia menegaskan, kasus tersebut masih berada di tahap penyelidikan.
“Laporan kasus ini masih dalam penyelidikan. Untuk mengetahui apakah benar atau tidak sama sekali atau adanya kesalahan administrasi,” imbuh Kompol Indra.
Laporan ini sebelumnya diajukan oleh Ahmad Ariansyah, suami dari eks pasien Yayuk Sapta Bela, pada 26 Agustus 2025. Ia didampingi kuasa hukumnya, Andri Darmawan.
Menurut Andri, inti aduan kliennya menyangkut dugaan pemalsuan dan penipuan oleh RS Hermina Kendari.
“Aduan klien kami itu dugaan pemalsuan dan penipuan,” tegasnya.
Kasus ini bermula saat Yayuk dirujuk untuk operasi sesar pada 24 Juli 2025. Awalnya terdaftar sebagai pasien BPJS Kesehatan, pihak rumah sakit kemudian menyarankan pengalihan status ke jalur umum agar memperoleh pelayanan lebih cepat.
Ahmad pun membayar biaya perawatan Rp17,9 juta ke rekening resmi RS Hermina Kendari.
Namun, bukti kwitansi pembayaran yang dikirim pihak rumah sakit justru mencatat pasien masih berstatus dijaminkan BPJS Kesehatan.
Hal ini memicu kecurigaan keluarga pasien, terlebih setelah upaya klarifikasi kepada staf admin rumah sakit tidak membuahkan jawaban.
“Semua chatnya (suami pasien) tanyakan soal billing ini, tapi dapat dilihat chatnya, si admin tidak menanggapi, bahkan admin hanya mengatakan nanti konfirmasi ke kasir, selebihnya tidak ada lagi,” beber Andri.
Merasa dirugikan, Ahmad akhirnya mengadukan persoalan itu ke Kantor BPJS Kesehatan Cabang Kendari.
“BPJS menyampaikan akan memblokir. Itu ada saksinya, empat orang, karena suami pasien ini ditemani beberapa teman,” ungkap Andri.
Di sisi lain, manajemen RS Hermina Kendari membantah keras tuduhan adanya praktik penipuan maupun klaim ganda. Mereka menyebut persoalan itu murni kesalahan teknis administrasi di sistem rumah sakit.
“Seharusnya status itu langsung diedit di sistem. Tapi karena lupa, maka masih tercatat sebagai pasien BPJS. Mestinya sebelum kwitansi diberikan ke pasien, data diverifikasi ulang. Jadi murni masalah administratif, bukan manipulasi,” jelas pihak rumah sakit dalam konferensi pers, Jumat (29/8).
BPJS Kesehatan Kendari pun memastikan tidak ada sanksi pemblokiran terhadap RS Hermina.
“Tidak benar ada pemblokiran. Kami sudah konfirmasi langsung, dan memang tidak ada pengajuan klaim pembayaran dari pihak rumah sakit untuk kasus itu,” kata dr. Indah, Manajer Pelayanan BPJS Kesehatan Kendari.
Meski manajemen rumah sakit menyebut hanya ada masalah teknis, penyidik Polda Sultra terus mendalami kemungkinan adanya indikasi pidana. Pemeriksaan resmi terhadap manajemen RS Hermina Kendari menjadi langkah krusial untuk mengurai benang kusut dugaan manipulasi status pasien ini.
Editor: Redaksi
Berita BerikutnyaDetik-detik Kecelakaan Maut di Kendari: Satu Pemotor Tewas, Satu Luka-luka
Baca Juga
Dua Jurnalis Jadi Terlapor Usai Liput Demo, AJI Desak Kapolresta Kendari Dicopot
Kendari – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Sulawesi Tenggara (Sultra) mendesak Kapolresta Kendari Kombes Pol. Safi’i Nafsikin dan Kasat Reskrim Kompol Welliwanto Malau…
Sudah Disegel dan Didenda Rp590 Juta, Dua Galangan Kapal di Konsel Diduga Masih Beroperasi
Kendari – Dua galangan kapal di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), kembali disorot setelah diduga masih beroperasi meski telah disegel dan dikenai denda administratif total Rp590…
Pekerja Mundur, Progres Lambat, Proyek RSUD Muna Barat Rp158,3 Miliar Disorot KSP
Muna Barat – Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muna Barat, Sulawesi Tenggara, senilai Rp158,3 miliar menghadapi persoalan serius. Progres pekerjaan fisik yang diperkirakan belum mencapai 25 persen,…
KUHP Baru Perluas Peran PK, IPKEMINDO Sultra Siapkan Strategi
Kendari – Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru memperluas peran Pembimbing Kemasyarakatan (PK) dalam sistem peradilan pidana. Ikatan Pembimbing Kemasyarakatan Indonesia (IPKEMINDO) Sulawesi Tenggara (Sultra) menyiapkan penguatan…
Ombudsman: Ridwan Badallah Banyak Sebar Ujaran Kebencian di TikTok
Kendari – Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara (Sultra), Ridwan Badallah, disorot Ombudsman RI Perwakilan Sultra setelah ditemukan banyak ujaran kebencian dalam konten TikTok pribadinya, @eRBe#bersuara. Ujaran tersebut tidak…
Ruksamin Menang Sengketa Mesin Crusher, Jalil Siapkan Perlawanan di Pengadilan Tinggi
Kendari – Sengketa kepemilikan satu unit mesin crusher antara mantan Bupati Konawe Utara (Konut), Ruksamin, dan Jalil berlanjut ke tingkat banding. Kuasa hukum Jalil, Imam Rifaldi memastikan pihaknya…







