Muna Barat – Program peternakan ayam petelur yang diinisiasi Pemerintah Daerah Kabupaten Muna Barat di bawah kepemimpinan Bupati La Ode Darwin dan Wakil Bupati Ali Basa mulai menarik perhatian serius pemerintah pusat.
Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros turun langsung meninjau sejumlah lokasi peternakan ayam petelur di Muna Barat, Selasa (16/12).
Kunjungan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa program yang selama ini berjalan dinilai memiliki dampak nyata dan prospek jangka panjang.
Data yang dihimpun menunjukkan, dari total 28.000 ekor ayam petelur yang telah diadakan melalui program Pemda, produksi telur kini telah mencapai 14.000 hingga 15.000 butir per hari.
Bupati Muna Barat, La Ode Darwin, secara terbuka menyampaikan ambisi daerahnya untuk tidak sekadar memenuhi kebutuhan lokal, tetapi menjadi daerah penyuplai telur utama di Sultra. Namun, ia tidak menutup mata terhadap tantangan utama yang dihadapi peternak.
“Target kita jelas, Muna Barat harus menjadi penghasil dan penyuplai telur di Sultra. Tapi kendala paling serius saat ini adalah harga pakan yang cukup mahal dan ini bisa menurunkan semangat peternak kalau tidak segera kita antisipasi,” ujar Darwin.
Temuan di lapangan menunjukkan, ketergantungan peternak pada pakan pabrikan masih sangat tinggi.
Kondisi ini membuat biaya produksi membengkak dan berpotensi menggerus keuntungan peternak, meski produksi telur terus meningkat.
Menyikapi persoalan tersebut, Pemda Muna Barat mulai menyiapkan langkah struktural.
“Maka harus ada inovasi baru yang kita lakukan. Salah satunya adalah program produksi pakan rumahan. Ini akan mulai kita jalankan tahun 2026 dan kita didampingi langsung oleh Balai Besar Veteriner Maros,” tegas Darwin.
Tak berhenti di situ, Pemda juga membuka jalur kolaborasi dengan Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, di bawah pengawasan BBVet Maros.
Langkah ini ditujukan agar pengembangan peternakan ayam petelur di Muna Barat mendapat perhatian dan pendampingan khusus dari pemerintah pusat.
“Kita ingin program ini tidak berjalan sendiri. Harus ada sinergi dengan Kementerian Pertanian agar pengembangan ayam petelur di Muna Barat berkelanjutan dan terukur,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Veteriner Maros, Agustia, mengakui bahwa program ayam petelur di Muna Barat tergolong progresif dan jarang dilakukan daerah lain dalam skala besar.
“Ini terobosan yang sangat positif. Program ayam petelur yang dikucurkan sampai 28.000 ekor tentu bukan jumlah kecil. Dari sisi teknis dan kesehatan hewan, ini wajib kami dampingi,” kata Agustia.
Ia menegaskan, keterlibatan Balai Besar Veteriner Maros bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan bentuk tanggung jawab institusi terhadap program strategis peternakan daerah.
“Kami dari Kementerian Pertanian, dan saya dari Balai Besar Veteriner Maros, wajib hukumnya untuk mendampingi. Ini bidang kami dan kami akan dukung sampai program ini benar-benar berhasil,” pungkasnya.
Editor: Redaksi








