News  

Puluhan Jemaah Umrah asal Sultra Diduga Ditelantarkan Travel Tajak Ramadhan Group

Salah satu jamaah umrah yang berangkat melalui agen Travel Tajak Ramadhan Group terlihat tertidur di kursi tunggu Bandara Internasional Changi, Singapura. Foto: Dok. Istimewa.

Kendari – Perjalanan ibadah yang seharusnya menjadi momen paling khusyuk dan membahagiakan justru berubah menjadi pengalaman pahit bagi ratusan jemaah umrah asal Sulawesi Tenggara (Sultra).

Mereka diduga ditelantarkan oleh pihak travel Tajak Ramadhan Grup (TRG) Kendari sejak proses keberangkatan hingga kepulangan.

US (31), warga Kabupaten Kolaka, Sultra, yang keluarganya umrah menggunakan jasa travel TRG tak kuasa menahan kekecewaannya.

Ia menceritakan dua anggota keluarga intinya berangkat umrah pada Januari 2026. Bukan hanya keluarganya, hampir 50 orang tetangganya turut dalam rombongan yang sama, ditambah jemaah lain dari berbagai wilayah di Sultra. Mereka berangkat secara bertahap dengan harapan dapat beribadah dengan tenang di Tanah Suci.

Namun setibanya di Jakarta, cobaan mulai datang. Para jemaah diminta membayar tambahan biaya oleh pihak travel dengan alasan untuk melobi pengurusan visa.

Sebagian jemaah yang visanya lebih dulu terbit langsung diberangkatkan, sementara yang lain harus menunggu tanpa kepastian.

Hari-hari mereka di Jakarta dipenuhi kecemasan. Mereka menginap seadanya sambil menanti kabar yang tak kunjung jelas, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Penderitaan belum berakhir. Jemaah yang diberangkatkan melalui Malaysia juga sempat terlantar. Mereka harus keluar masuk hotel karena biaya sewa tidak lagi dibayarkan. Beberapa bahkan diminta meninggalkan hotel lantaran pihak penginapan belum menerima pembayaran.

Di negeri orang, dengan bahasa dan situasi yang asing, mereka hanya bisa saling menguatkan di tengah ketidakpastian.
Setibanya di Makkah, kondisi disebut tak jauh berbeda. Makanan menjadi persoalan, akomodasi tidak menentu, dan komunikasi dengan pihak travel semakin sulit.

Ketika waktu kepulangan tiba, kenyataan pahit kembali menghantam. Sebagian jemaah tidak memiliki tiket pulang ke Indonesia. Bahkan ada yang terpaksa bermalam di area Bandara Internasional Changi, Singapura, karena tidak dapat segera melanjutkan perjalanan.

Tangis pun pecah di bandara. Ada yang kebingungan, ada pula yang hanya bisa pasrah. Demi dapat kembali ke Tanah Air, para jemaah terpaksa meminjam uang, bahkan meminta bantuan keluarga di kampung halaman.

US mengaku harus mengirimkan dana hingga Rp 20 juta untuk membantu keluarganya yang terlantar. Uang tersebut digunakan untuk membeli tiket dari Makkah dan Jakarta, sekaligus memenuhi kebutuhan makan selama menunggu kepulangan.

“Keluarga kami berangkat dengan niat ibadah. Tetapi yang mereka rasakan justru ketakutan dan kebingungan,” ujar US, Rabu (11/2).

Yang lebih menyakitkan, lanjut dia, pihak TRG Kendari tak lagi memberikan kabar maupun kejelasan. Telepon dan pesan sulit direspons.


Editor: Muh Fajar

error: Content is protected !!