Puskesmas Ranomeeto Bantah Tersangka Pencabulan Anak Idap TBC: Hanya Gangguan Lambung


Kendari - Polemik penangguhan penahanan AYP (42), tersangka kasus dugaan pencabulan dan persetubuhan terhadap anak di bawah umur, kembali memanas.
Kali ini, Puskesmas Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan, membantah informasi bahwa tersangka mengidap Tuberkulosis (TBC) seperti yang sebelumnya menjadi alasan penangguhan penahanan oleh Polresta Kendari.
Kepala Puskesmas Ranomeeto, Dadang Lameuru, menegaskan AYP tidak didiagnosis menderita TBC. Menurutnya, saat datang ke fasilitas kesehatan, pasien hanya mengeluhkan muntah akibat gangguan lambung.
"Bukan TBC, masuk UGD keluhan muntah, gangguan lambung," kata Dadang saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Senin (6/7).
Ia juga memastikan kondisi kesehatan AYP telah membaik dan pasien sudah dipulangkan dari Puskesmas Ranomeeto.
"Sudah pulang kemarin, kondisi baik," ujarnya.
Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan alasan yang sebelumnya disampaikan Polresta Kendari saat memutuskan menangguhkan penahanan AYP.
Kepolisian menyebut penangguhan diberikan karena tersangka mengidap penyakit Tuberkulosis (TBC) berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan dikhawatirkan berpotensi menularkan penyakit di lingkungan tahanan.
Atas pertimbangan itu, penyidik memberikan status wajib lapor kepada tersangka.
Keputusan tersebut sejak awal menuai protes dari keluarga korban.
Kuasa hukum korban, Andre Darmawan, mempertanyakan dasar medis yang digunakan sebagai alasan penangguhan penahanan.
Menurut Andre, berdasarkan keterangan ibu korban, AYP selama ini tidak pernah memiliki riwayat penyakit kronis ataupun menjalani pengobatan rutin.
"Kemarin, tanggal 3 Juli, dia baru dirawat di Puskesmas. Ini memicu pertanyaan besar, kenapa baru sekarang dirawat. Jika benar-benar sakit parah, seharusnya rekam medis dan riwayat pengobatannya sudah ada sejak lama sebelum kasus ini mencuat," ujar Andre, Minggu (5/7).
Ia menegaskan penyakit tidak dapat direkayasa karena harus didukung rekam medis yang jelas.
"Sakit itu tidak bisa direkayasa karena pasti ada rekam medisnya. Tiba-tiba saja muncul alasan ini setelah ada upaya penangguhan penahanan. Apakah ini hanya taktik untuk mencari pembenaran," tegasnya.
Selain mempertanyakan alasan kesehatan, pihak korban juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi psikologis korban.
Menurut Andre, keberadaan tersangka di luar tahanan berpotensi memperparah trauma korban dan membuka peluang terjadinya intimidasi maupun pengulangan tindak pidana.
Karena itu, pihak korban mendesak Polresta Kendari meninjau kembali keputusan penangguhan penahanan terhadap AYP.
"Kami meminta Polresta Kendari untuk meninjau ulang dan mencabut penangguhan penahanan ini. Menurut kami, pelaku sama sekali tidak layak mendapatkannya. Mewakili ibu korban, kami sangat berharap pelaku segera ditahan kembali dan diadili secepatnya," pungkas Andre.
Editor: Redaksi
Berita BerikutnyaLuas Hutan Lindung Sultra Capai 1,07 Juta Hektare, Konawe Miliki Kawasan Terluas
Baca Juga
Dua Jurnalis Jadi Terlapor Usai Liput Demo, AJI Desak Kapolresta Kendari Dicopot
Kendari – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Sulawesi Tenggara (Sultra) mendesak Kapolresta Kendari Kombes Pol. Safi’i Nafsikin dan Kasat Reskrim Kompol Welliwanto Malau…
Sudah Disegel dan Didenda Rp590 Juta, Dua Galangan Kapal di Konsel Diduga Masih Beroperasi
Kendari – Dua galangan kapal di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), kembali disorot setelah diduga masih beroperasi meski telah disegel dan dikenai denda administratif total Rp590…
Pekerja Mundur, Progres Lambat, Proyek RSUD Muna Barat Rp158,3 Miliar Disorot KSP
Muna Barat – Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muna Barat, Sulawesi Tenggara, senilai Rp158,3 miliar menghadapi persoalan serius. Progres pekerjaan fisik yang diperkirakan belum mencapai 25 persen,…
KUHP Baru Perluas Peran PK, IPKEMINDO Sultra Siapkan Strategi
Kendari – Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru memperluas peran Pembimbing Kemasyarakatan (PK) dalam sistem peradilan pidana. Ikatan Pembimbing Kemasyarakatan Indonesia (IPKEMINDO) Sulawesi Tenggara (Sultra) menyiapkan penguatan…
Ombudsman: Ridwan Badallah Banyak Sebar Ujaran Kebencian di TikTok
Kendari – Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara (Sultra), Ridwan Badallah, disorot Ombudsman RI Perwakilan Sultra setelah ditemukan banyak ujaran kebencian dalam konten TikTok pribadinya, @eRBe#bersuara. Ujaran tersebut tidak…
Ruksamin Menang Sengketa Mesin Crusher, Jalil Siapkan Perlawanan di Pengadilan Tinggi
Kendari – Sengketa kepemilikan satu unit mesin crusher antara mantan Bupati Konawe Utara (Konut), Ruksamin, dan Jalil berlanjut ke tingkat banding. Kuasa hukum Jalil, Imam Rifaldi memastikan pihaknya…







