Berita  

Ribuan Warga Gunung Jati Kendari Krisis Air Bersih, Harga Air Tembus Rp120 Ribu per Tandon

Warga mengantri mendapatkan air bersih. Foto: Dok. Kompas.com.

Kendari – Ribuan warga Kelurahan Gunung Jati, Kecamatan Kendari, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), kini menghadapi krisis air bersih akibat kemarau panjang.

Dilansir dari Kompas.com, sejak akhir Agustus 2026, lebih dari 5.000 warga di wilayah tersebut kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sejumlah sumber mata air di kawasan pegunungan Taman Hutan Raya (Tahura) Nipa Nipa mengalami penurunan debit hingga membuat aliran air yang selama ini menjadi tumpuan warga ikut terhenti.

Kondisi tersebut memaksa warga mencari berbagai cara untuk mendapatkan air bersih. Bagi masyarakat yang tidak memiliki sumber air alternatif, membeli air menjadi pilihan, meski harus mengeluarkan biaya cukup besar.

Lurah Gunung Jati, Hikmah Sakti Aris mengatakan, harga air yang dibeli warga saat ini dapat mencapai Rp120.000 per tandon.

“Sungai kering, jadi masyarakat setengah mati dapat air dari gunung. Tidak ada sumur bor di sini, begitu juga dengan air PDAM karena sumbernya dari gunung semua,” kata Hikmah dilansir Kompas.com, Jumat (2/10/2026).

Selama ini, warga Gunung Jati mengandalkan sumber mata air dari kawasan pegunungan yang dialirkan ke permukiman menggunakan jaringan pipa.

Namun, kemarau panjang membuat debit air terus menyusut. Akibatnya, aliran air yang selama ini digunakan warga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Warga yang memiliki kemampuan finansial terpaksa mencari sumber air lain dan memasang jaringan pipa dari lokasi yang lebih jauh. Sementara mereka yang tidak mampu membeli air atau memperpanjang jaringan pipa harus menghadapi kondisi kekurangan air.

“Warga memasang pipa sama pengusaha air bersih. Tapi sekarang debit air di sungai kering. Kalau yang mampu menyambung dari hulunya seperti dari Soropia, dapat air. Kalau yang tidak bisa, ya kering,” ujar Hikmah.

Krisis air tersebut juga membuat warga dan pengusaha air bersih mencari sumber mata air baru yang lokasinya cukup jauh dari permukiman.

Menurut Hikmah, sebagian warga bahkan harus menyambungkan pipa hingga sekitar 6 kilometer menuju sumber mata air di wilayah Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe.

“Sudah tidak ada mi debit air. Mereka menyambung pipa lagi di hulu yang jaraknya sampai sekitar 6 kilometer dari Gunung Jati sampai Soropia,” katanya.

Kondisi ini membuat pemenuhan kebutuhan air bersih semakin sulit, terutama bagi warga yang tidak memiliki kemampuan untuk memasang jaringan pipa hingga ke sumber air yang berada jauh dari permukiman.

Hikmah menyebut kondisi kekurangan air seperti ini bukan kali pertama terjadi. Warga Gunung Jati pernah mengalami situasi serupa pada 2004.

Namun, kekeringan yang kembali terjadi tahun ini membuat masyarakat harus kembali bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Pihak Kelurahan Gunung Jati masih memantau perkembangan kondisi di lapangan, termasuk ketersediaan bantuan air bagi warga.

Jika kondisi semakin parah dan kebutuhan air masyarakat tidak lagi dapat terpenuhi, pihak kelurahan berencana meminta bantuan dari PDAM.

“Saya lihat dulu kalau memang sudah tidak ada bantuan, terpaksa bersurat ke PDAM,” kata Hikmah.


Editor: Muh Fajar

error: Content is protected !!