Kendari – RSUD Bahteramas Sulawesi Tenggara (Sultra) didatangi aksi demonstrasi pada Jumat (9/1). Massa menuntut agar dilakukan seleksi ulang terhadap perusahaan pemenang pekerjaan jasa kebersihan dan sekuriti tahun 2026.
Para demonstran menduga adanya praktik kongkalikong antara Kelompok Kerja (Pokja) pemilihan dengan perusahaan pelaksana, yakni PT Anugerah Cinta Aman (ACA) sebagai penyedia jasa kebersihan dan PT Satya Perkasa Mandiri (SPM) untuk jasa sekuriti.
Dugaan tersebut menguat setelah terungkap fakta bahwa proses penetapan pemenang tender diduga tidak disertai pengecekan lapangan secara menyeluruh. Tim seleksi e-katalog RSUD Bahteramas disebut tidak melihat langsung kondisi tenaga kerja yang dimiliki oleh perusahaan pemenang.
Salah satu anggota Pokja Seleksi e-katalog RSUD Bahteramas, Dedi Hardianto, mengakui dirinya tidak melakukan pengecekan langsung ke lapangan. Ia hanya menerima laporan dari rekan-rekannya terkait kondisi perusahaan.
“Saya tidak lihat langsung. Teman-teman yang turun cek ke lapangan,” ujar Dedi saat dikonfirmasi, Jumat (9/1).
Ia juga mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah tenaga kerja yang dimiliki PT ACA maupun PT SPM karena tidak melakukan verifikasi langsung.
Gunakan Website sebagai Penentu
Dedi menjelaskan, salah satu indikator utama dalam menentukan pemenang tender adalah tampilan produk yang ditampilkan perusahaan melalui platform Inaproc.
Dalam sistem tersebut, penyedia jasa wajib menampilkan kondisi riil, mulai dari jumlah tenaga kerja, peralatan, hingga fasilitas pendukung.
Pihak RSUD Bahteramas, kata dia, memilih penyedia jasa berdasarkan data yang ditampilkan di website, disertai pengecekan dan dokumentasi kondisi kantor serta tenaga kerja masing-masing perusahaan.
Namun, hasil penelusuran awak media di platform Inaproc menemukan kejanggalan pada PT ACA. Perusahaan pemenang tender jasa kebersihan tahun 2026 itu diduga menggunakan foto milik perusahaan lain sebagai display produk.
Foto-foto tersebut diketahui pernah digunakan oleh PT Magenta Pertama Jaya, perusahaan pelatihan manajemen dan pengembangan sumber daya manusia. Bahkan, gambar serupa juga digunakan oleh sejumlah perusahaan lain di dalam dan luar negeri, termasuk yang berbasis di Australia dan India.
Penelusuran lanjutan menggunakan aplikasi pemeriksa fakta menunjukkan bahwa foto tersebut pertama kali diunggah di situs jual beli foto internasional Freepik.com, platform asal Malaga, Spanyol, yang berdiri sejak 2010.
Selain persoalan administrasi dan visual promosi, muncul pula dugaan bahwa PT ACA akan kembali menggunakan tenaga kerja lama dari perusahaan sebelumnya, PT PAC, yang mengelola jasa kebersihan RS Bahteramas pada tahun sebelumnya.
Informasi dari internal rumah sakit menyebutkan jumlah pekerja tersebut mencapai sekitar 93 orang, terdiri dari petugas kebersihan dan sekuriti.
Dugaan ini menguat setelah puluhan petugas kebersihan dipanggil ke RS Bahteramas pada Kamis (1/1). Mereka diminta hadir untuk bertemu dengan “bos baru” di lobi depan rumah sakit.
Dena, salah satu petugas kebersihan yang telah bekerja sejak awal 2025, mengaku dipanggil namun belum menandatangani kontrak kerja baru.
“Kami dipanggil untuk datang, tapi sampai sekarang belum ada tanda tangan kontrak,” ujarnya.
Pekerja lain yang berstatus ibu rumah tangga juga mengungkap adanya tekanan psikologis. Mereka diminta tetap bekerja seperti biasa, namun belum mendapatkan kejelasan terkait besaran gaji.
Menanggapi hal tersebut, Dedi Hardianto membenarkan bahwa masih ada puluhan pekerja lama yang rencananya akan kembali dikontrak oleh PT ACA. Menurutnya, sebagian besar pekerja tersebut telah mengabdi selama 6 hingga 12 tahun, bahkan ada yang lebih lama.
“Mereka ini pekerja sosial. Kalau diberhentikan, kasihan. Mayoritas ibu-ibu rumah tangga, ini sumber penghidupan utama mereka. Makanya setiap pergantian perusahaan, biasanya kontrak mereka diperpanjang,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur CV ACA, All, menegaskan bahwa perusahaannya bukan pemain baru dalam jasa kebersihan di Sulawesi Tenggara. Ia menyebut CV ACA memiliki rekam jejak panjang, termasuk pernah menangani kebersihan di Kantor Gubernur Sultra selama tiga tahun, serta Rumah Jabatan Wakil Gubernur dan Sekda.
“Tidak mungkin kami ditunjuk sebagai pemenang tender jika tidak memiliki personel dan peralatan yang memadai. Kami tetap menjaga standar kerja profesional,” tegas All dikutip dari Fokusnews.id.
Terkait proses tender yang disorot, ia memastikan seluruh tahapan telah dijalani sesuai mekanisme yang berlaku. Dari sekitar 20 perusahaan peserta, CV ACA dinilai memenuhi kriteria yang dibutuhkan oleh pihak rumah sakit.
“All menegaskan, tidak ada praktik permainan dalam proses tersebut,” katanya.
Editor: Redaksi








