Sindrom Nimby Sampah di Kota Kendari


Oleh: Ishak Bafadal
Sampah merupakan masalah bagi semua kota. Setiap hari kita selalu dihadapkan dengan persoalan sampah, yang seolah menjadi masalah yang tak terpecahkan.
Salah satu penyebab persoalan sampah ini ialah sikap tidak peduli warga. Dalam kehidupan kita ada sindrom Not In My Backyard atau Nimby yang terjadi saat kita diperhadapkan dengan masalah sampah. Nimby berarti boleh buang sampah asal bukan di rumah atau tanahku.
Sindrom Nimby ini terjadi dalam perilaku sebagian masyarakat Kota Kendari yang semaunya saja membuang sampah di sembarang tempat, buktinya sering kita lihat tumpukan sampah di sejumlah tempat di Kota Kendari yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggungjawab.
Saat ini memang Pemkot Kendari masih terkendala dalam menyiapkan sarpras yang berdampak pada pengangkutan sampah. Tetapi hal ini tidak lantas membenarkan perilaku membuang sampah seenaknya, antara lain di kali, saluran drainase, dan ruang publik.
Dalam setiap ajaran agama dan kepercayaan menjunjung tinggi sikap peduli antar sesama kita dan lingkungan sekitar. Membuang sampah sembarang berarti kita sudah berbuat jahat sesama mahluk ciptaan Tuhan.
Masalah lainnya, sampah sering dianggap barang tidak berharga, yang harus segera dibuang dan bukan urusan kita lagi. Sejatinya sampah kita adalah tanggungjawab kita.
Tidaklah benar kita melempar tanggungjawab sepenuhnya kepada pemerintah, seharusnya kita juga mengambil peran dalam memecahkan masalah sampah.
Paradigma berpikir sampah adalah sesuatu yang masih mempunyai nilai seharusnya ada dalam diri kita, keluarga, sekolah, tempat kerja, dan rumah ibadah.
Cukup banyak inovasi teknologi dalam mengolah sampah, selain itu banyak sekolah, universitas, dan lembaga kemasyarakatan yang peduli dengan isu lingkungan hidup dan aksi nyata.
Harapannya rasa memiliki dan peduli telah menjadi mindset kita bersama, Kota Kendari ini adalah tempat kita tinggal bersama, kita seharusnya malu apabila masih membuang sampah sembarangan.
Ruang publik yang ada di kota tercinta ini bukan sesuatu di luar rumah kita atau Not In My Backyard, tetapi menjadi tanggungjawab kita.
*) Penulis adalah pengamat lingkungan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Berita BerikutnyaKejati Didesak Usut Keterlibatan PT Carsurin di Kasus Korupsi Tambang Nikel Kolaka
Baca Juga
Di Balik Asap Sumatera dan Kalimantan: Pasar Global, Keuntungan, dan Tanggung Jawab Negara
Oleh: Ridwan Dhani Wirianata Setiap kali kebakaran hutan melanda Sumatera dan Kalimantan, perhatian publik biasanya tertuju pada kepulan asap dan upaya pemadaman. Namun, ada pertanyaan mendasar: mengapa kebakaran…
Nikel Kabaena dan Ujian Akuntabilitas Pemerintah Daerah
Oleh: Karno Kendaraan listrik kerap dipromosikan sebagai solusi utama dalam mengatasi krisis iklim global. Namun, di balik ambisi dunia mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, terdapat lonjakan kebutuhan…
Menakar Konstruksi Hukum Penambangan di Pulau-pulau Kecil Berdasarkan UU Nomor 27/2007
Oleh: Dr Jamal Aslan, SH, MH Hakikat penguasaan negara atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya sebagaimana termaktub dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar…
Ketika Masa Lalu Pencalonan Kembali Disoal: Kepastian Hukum Vs Keadilan Substantif dalam PHPU
Oleh: Dr. Jamal Aslan, S.H., M.H Sebagai praktisi dan akademisi hukum yang berpegang pada prinsip negara hukum, momentum gugatan yang diajukan oleh Prof Denny Indrayana beserta para pemohon…
Kemerdekaan, Politik Kehadiran, dan Cinta
Oleh: Jaelani, S.IP., M.Si SETIAP kali bulan Agustus menyapa, ruang-ruang publik kita dipenuhi oleh warna merah putih, kibaran bendera, serta gaung pekik "Merdeka!" yang menggema dari pinggiran desa…
Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Siska-Sudirman: Fondasi Kuat, Optimisme Berlanjut
Oleh: LM Rajab Jinik D, S.Sos., M.Hum Di awal fase kepemimpinan, publik selalu dihadapkan pada dua pilihan, menunggu dengan ragu, atau mengawal dengan keyakinan. Satu tahun perjalanan Siska-Sudirman…







