Vale Siap Rampungkan Dua Proyek Smelter Nikel Rp130 Triliun di 2026

Alat berat beroperasi di area tambang nikel PT Vale Indonesia Tbk di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Foto: Dok. Istimewa.

Kendari – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memastikan dua proyek smelter nikel berteknologi high-pressure acid leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan Morowali, Sulawesi Tengah, akan rampung pada kuartal IV tahun 2026. Proyek ini merupakan bagian dari strategi hilirisasi nasional dan pengembangan industri nikel terintegrasi senilai hampir Rp130 triliun.

“Pomalaa HPAL itu akan selesai di Q4 2026. Jadi nanti pas banget waktunya. Tambang Pomalaa akan selesai tahun depan di kuartal kedua (2026). Sementara HPAL akan selesai di kuartal keempat tahun 2026. Jadi sudah siap satu rangkaian integrasi,” ujar Manajer Corporation Finance & Investor Relations Vale Indonesia, Andaru Brahmono Adi, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (19/7).

Meskipun harga nikel global tengah terkoreksi, Vale bersama mitra strategis seperti Zhejiang Huayou Cobalt Co (Huayou) dan GEM Co Ltd tetap berkomitmen melanjutkan proyek, sembari melakukan penyesuaian aspek keekonomian.

“Kalau kita lihat dengan harga nikel yang sedang terkoreksi sekarang ini, itu memang berpengaruh pada nilai return di levelnya smelter HPAL. Tapi kami sepakat, kami dengan para partner, contohnya Huayou, kita sepakat untuk melakukan improvisasi,” jelas Andaru.

Improvisasi yang dimaksud bertujuan menekan belanja modal (capital expenditure/capex) melalui peningkatan efisiensi dan pengembangan teknologi. Vale dan mitra sepakat bahwa keberhasilan proyek hanya dapat dicapai lewat efisiensi menyeluruh.

“Karena mereka sadar supaya kita bisa bertahan, proyek ini bisa berhasil adalah caranya dengan melakukan improvisasi teknologi, efisiensi biaya, segala macam. Dan mereka sepakat semua,” katanya.

Andaru menambahkan, penyesuaian nilai investasi menjadi konsekuensi logis dari pendekatan teknologi tersebut.

“Kalau dibilang mungkin investasi iya. Tapi awalnya dari improvisasi atau improvement di teknologi. Jadi itu yang dikerjakan oleh partner teknologi kita seperti Huayou dan GEM Co Ltd. Jadi mereka melakukan improvement dari sisi teknologi sehingga capex-nya bisa turun. Ujung-ujungnya nilai keekonomisannya pun bisa lebih tinggi,” terangnya.

Dalam menghadapi tekanan harga nikel global, Vale mengandalkan tiga strategi utama: efisiensi biaya, diversifikasi produk, dan penyesuaian investasi.

“Yang bisa kita lakukan adalah melakukan efisiensi biaya. Itu yang sudah kita lakukan sejak akhir tahun lalu hingga sekarang. Masih terus melakukan itu,” ujar Andaru.

Ia juga mengungkapkan bahwa Vale mulai menjual produk nikel lain selain nikel matte untuk pasar domestik.

“Selama 50 tahun terakhir kita hanya jualan nikel matte ekspor ke Jepang. Tapi alhamdulillah mulai tahun ini kita bisa melakukan penjualan nikel ore suprolite untuk pertama kalinya secara domestik. Itu bisa menambah revenue untuk kita,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Direktur Vale Indonesia Febriany Eddy pada Maret 2025 menegaskan total nilai investasi untuk ketiga proyek smelter yang sedang digarap mencapai USD 9 miliar atau setara Rp130 triliun.

Ekspansi tambang nikel dan HPAL di Pomalaa bernilai USD 4,6 miliar dengan mitra Huayou dan Ford, sedangkan proyek HPAL Morowali digarap bersama GEM Co Ltd. Di sisi lain, proyek Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) di Morowali senilai USD 2,6 miliar melibatkan Tisco dan Xinhai, dan juga ditargetkan rampung pada 2026.


Editor: Redaksi

error: Content is protected !!