Danau Poso Menyusut Akibat Kemarau, Sultra Kena Dampak Pemadaman Listrik Bergilir

Sultranesia
3 Min Baca
Danau Poso Menyusut Akibat Kemarau, Sultra Kena Dampak Pemadaman Listrik Bergilir
Danau Poso di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Foto: Dok. Istimewa.

Kendari - Penyusutan debit air Danau Poso di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), akibat fenomena El Nino mulai menjadi ancaman bagi keandalan pasokan listrik di sejumlah wilayah Sulawesi, termasuk Sulawesi Tenggara (Sultra).

Danau Poso merupakan salah satu sumber energi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dikelola PT Poso Energy. Pembangkit tersebut memasok listrik untuk empat provinsi di Sulawesi melalui sistem kelistrikan PLN.

Manager PT Poso Energy Asmaruddin mengatakan kondisi kemarau pada semester II 2026 menyebabkan tinggi muka air Danau Poso mengalami penurunan secara signifikan.

"Kami memasok energi listrik dari PLTA Poso untuk empat provinsi di Sulawesi, sehingga perlu dilakukan pengaturan porsi sebagai strategi menjaga keandalan pasokan listrik," kata Asmaruddin, Kamis (3/9/2026) dilansir dari Kompas.

Penurunan muka air tersebut membuat pengelola harus memangkas target produksi listrik harian. Langkah itu dilakukan untuk menghemat ketersediaan air agar operasional pembangkit tetap dapat dipertahankan.

Wilayah yang mendapat pasokan dari pembangkit ini mencakup Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat hingga Sulawesi Tenggara. Jika kondisi kemarau terus berlanjut, kawasan industri hingga permukiman warga berpotensi terkena dampak pengurangan daya.

PLTA Poso memiliki kapasitas terpasang mencapai 515 megawatt (MW), menjadi salah satu pembangkit dengan kapasitas terbesar di wilayah tersebut. Ketersediaan air Danau Poso menjadi faktor utama untuk menggerakkan turbin pembangkit.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, pola produksi listrik kini disesuaikan dengan perubahan musim. Porsi operasional saat musim kemarau ditetapkan sebesar 45 persen, sedangkan pada musim hujan mencapai 55 persen.

"Pengaturan porsi energi melihat kondisi nyata di lapangan dengan berbagai pertimbangan dan perhitungan teknis," ujar Asmaruddin.

Selain mengurangi produksi pada periode kemarau, jadwal produksi utama juga digeser ke penghujung 2026. Kebijakan tersebut telah mendapat persetujuan dari PLN sebagai bagian dari langkah antisipasi menjaga pasokan listrik.

Periode September hingga Oktober diperkirakan menjadi masa paling krusial karena merupakan puncak kemarau. Produksi listrik kemudian akan lebih diarahkan pada November hingga Desember, saat curah hujan diproyeksikan mulai meningkat.

"Jika akhir Oktober sampai Desember sudah masuk musim penghujan dengan intensitas di atas normal, produksi energi masih bisa terpenuhi sesuai rencana. Namun jika intensitas hujan di bawah normal, pasokan listrik berpotensi berkurang," kata Asmaruddin.

Pemantauan terhadap daerah tangkapan air di sekitar danau juga terus dilakukan. Tinggi muka air Danau Poso diukur secara berkala setiap hari untuk menentukan pola operasi pembangkit.

Penyesuaian produksi dilakukan berdasarkan data cuaca dan kondisi air secara riil. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah turbin berhenti beroperasi secara mendadak akibat kekurangan air.

Dengan demikian, kondisi pasokan listrik dalam beberapa bulan ke depan sangat bergantung pada intensitas curah hujan. Jika musim hujan tidak segera datang atau curah hujan berada di bawah normal, kemampuan pembangkit memasok energi ke sistem kelistrikan Sulawesi berpotensi ikut tertekan.
Sultra Mulai Kena Dampak Pemadaman Bergilir

Dampak kondisi sistem kelistrikan tersebut mulai dirasakan di Sulawesi Tenggara. PLN memberlakukan pengaturan beban yang menyebabkan pemadaman listrik secara bergilir di sejumlah wilayah.

Di Kota Kendari, pemadaman listrik mulai dirasakan masyarakat dalam beberapa hari terakhir. Pemadaman dilakukan secara bergilir dengan durasi sekitar 2 hingga 4 jam di setiap wilayah.

PLN menyebut pengaturan beban dilakukan akibat adanya pemeliharaan infrastruktur ketenagalistrikan yang berdampak pada berkurangnya pasokan listrik bagi sebagian pelanggan dalam sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel).

"Saat ini dilakukan pengaturan beban akibat adanya pemeliharaan pada infrastruktur ketenagalistrikan. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya pasokan listrik di sebagian pelanggan di sistem kelistrikan Sulbagsel," tulis keterangan resmi PLN Kendari.

PLN juga memastikan seluruh laporan dan pengaduan pelanggan akan ditangani secepat mungkin.

"Guna menjaga kestabilan sistem serta mencegah meluasnya dampak pemeliharaan tersebut, PLN melakukan pengaturan beban dengan estimasi durasi manajemen beban sekitar 4 jam, menyesuaikan perkembangan kondisi di lapangan," imbuhnya.


Editor: Andise SL

Berita BerikutnyaMomen Bersejarah Apel Perdana Polres Konawe Kepulauan di Tengah Keterbatasan Fasilitas
Bagikan:

Baca Juga