Media di Indonesia Darurat Insentif Pajak


Kendari - Indonesia merupakan salah satu negara di kawasan ASEAN dengan Pajak Penambahan Nilai (PPn) tertinggi untuk sumber pengetahuan, yaitu mencapai 11 hingga 12 persen untuk media, buku, publikasi ilmiah dan bahan pengetahuan lainnya.
Sementara, negara-negara di kawasan ASEAN seperti Vietnam dan Singapura menerapkan tarif pajak yang lebih kecil.
Dewan Pakar PWI Pusat, Agus Sudibyo menyatakan Indonesia termasuk salah satu negara yang terlambat menerapkan #NoTaxForKnowledge, karena industri yang memberikan pengetahuan yang meaningful kepada masyarakat, seharusnya mendapatkan privilege atau keringanan pajak. Indonesia sudah terlambat, karena negara lain sudah melakukan itu.
“Ini harus segera di kejar, biar menjadi satu kebijakan yang real dan kebetulan media massa sedang sangat membutuhkan, kita tidak mungkin bisa berkompetisi dengan platform kalau tidak ada insentif, tidak ada privilege," ungkap Agus dalam keterangan pers, Selasa (13/1).
"Karena, monopoli mereka sudah semakin kuat, jadi harus ada perlakuan-perlakuan khusus kepada industri media massa yang jelas-jelas memberikan pengetahuan yang bermakna buat masyarakat," imbuh Agus.
Agus menambahkan, tahun 2021 hal serupa pernah dilakukan terkait maraknya pandemi Covid 19, dimana pemerintah memberikan beberapa insentif berupa pengurangan pajak. Namun saat Covid berakhir, gerakan ini ikut menghilang padahal seharusnya insentif pajak bagi media harus terus digaungkan.
Apalagi sejak 2025, perusahaan media terus dihantam badai PHK akibat menyusutnya revenue iklan yang diambil alih platform media sosial.
Belanja iklan di media massa terus menyusut. Di tahun 2025, pendapatan melalui iklan turun 25 hingga 30 persen.
Menurut data dari Wavemaker yang merupakan agensi periklanan, porsi belanja iklan untuk media atau publisher terus berkurang.
Walaupun tren permintaan iklan secara keseluruhan masih positif, bahkan diproyeksikan naik dari Rp 71,5 triliun pada 2024 menjadi sekitar Rp 75 triliun pada 2025, namun dari total belanja iklan tersebut, hanya sekitar 20 persen yang masuk ke publisher atau perusahaan media, sisanya masuk ke platform-platform digital. Rilis.
Editor: Muh Fajar
Berita BerikutnyaWarga Konawe Selatan Tangkap Buaya Raksasa Sepanjang 4,6 Meter
Baca Juga
Promo 11.11 Gadget Day Blibli Histeria, Ini Kelebihan iPhone 18 Pro Max yang Semakin Canggih!
Kendari - Pernah membayangkan memiliki smartphone dengan performa tinggi, kamera profesional, dan baterai yang mampu menemani aktivitas sepanjang hari? Kehadiran Promo 11.11 dari Blibli Histeria bisa menjadi momen…
Mantan Karutan Kendari Herianto Raih Doktor dengan IPK Sempurna 4,00 di UHO
Kendari – Mantan Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Kendari, Herianto, berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen di Program Pascasarjana Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara,…
Darwin Ajak Empat Pilar Budaya Bersatu, Peringatkan Provokasi Antarsuku di Sultra
Kendari – Ketua Umum Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara (Sultra), La Ode Darwin, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi isu-isu yang berpotensi memicu konflik antarsuku dan…
Mahasiswa Geruduk Rektorat UHO, Desak Audit Dana Penelitian dan Evaluasi Dekan FISIP
Kendari – Aliansi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) mendesak Rektor UHO, Prof. Takdir Saili, mengaudit pengelolaan dana penelitian mahasiswa tahun anggaran…
La Ode Darwin Sapa Warga Muna di Morowali, Ini Pesan Pentingnya untuk Perantau
Morowali – Ketua Umum Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara (Sultra) periode 2026–2031, La Ode Darwin, menyapa masyarakat Muna di Kabupaten Morowali dalam perayaan Hari Ulang Tahun…
Basarnas Kendari Latih 70 Pegawai dan Warga Binaan Lapas Perempuan Hadapi Bencana
Kendari – Sebanyak 70 pegawai dan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Kendari mengikuti simulasi penanggulangan bencana dan evakuasi darurat bersama Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas)…







