Nusaka Kultura Hadir di Kendari, Perpaduan Warisan Budaya dan Kreativitas Generasi Muda

Sultranesia
6 Min Baca
Nusaka Kultura Hadir di Kendari, Perpaduan Warisan Budaya dan Kreativitas Generasi Muda
Festival budaya NUSAKA KULTURA: Jejak Warisan, Langkah Generasi siap digelar di Taman Budaya dan Museum Sulawesi Tenggara pada 22-24 Oktober 2026. Foto: Dok. Istimewa.

Kendari - Festival budaya NUSAKA KULTURA: Jejak Warisan, Langkah Generasi siap digelar di Taman Budaya dan Museum Sulawesi Tenggara pada 22-24 Oktober 2026. Selama tiga hari, festival ini akan mempertemukan tradisi, seni, edukasi, kuliner, kriya, hingga ekonomi kreatif dalam satu ruang kolaborasi lintas generasi.

Kegiatan yang digagas Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Tenggara bersama komunitas IDEA Project ini berangkat dari semangat merawat warisan budaya sekaligus membuka ruang bagi kreativitas generasi masa kini.

Ashari Amrullah Direktur Eksekutif IDEA Project menjelaskan, NUSAKA KULTURA lahir dari gagasan bahwa kebudayaan tidak cukup hanya dikenang atau ditampilkan dalam seremoni. Lebih dari itu, kebudayaan perlu dihidupkan melalui praktik sehari-hari, dipelajari lintas generasi, dikembangkan melalui kreativitas, serta diwariskan dengan melibatkan masyarakat sebagai pemilik sekaligus pelaku kebudayaan.

"Festival ini dirancang menjadi ruang perjumpaan bagi komunitas, seniman, budayawan, pelaku UMKM, akademisi, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk mengenali kekayaan budaya Sulawesi Tenggara sekaligus mendorong lahirnya inisiatif kebudayaan yang relevan dengan perkembangan zaman," jelas Ashari, Rabu (21/10/2026).

Sebagai inisiatif yang berangkat dari komunitas, NUSAKA KULTURA menempatkan partisipasi masyarakat sebagai kekuatan utama penyelenggaraan. Pemerintah daerah diharapkan berperan sebagai fasilitator yang membuka ruang kolaborasi, mempertemukan pemangku kepentingan, serta memperkuat ekosistem kebudayaan agar inisiatif masyarakat dapat berkembang secara berkelanjutan.

Warisan Budaya dan Langkah Generasi Muda

Tema “Jejak Warisan, Langkah Generasi” merepresentasikan hubungan antara akar budaya dan masa depan. Jejak warisan menggambarkan pengetahuan, nilai, tradisi, keterampilan, serta cerita yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Sementara langkah generasi mencerminkan peran anak muda dalam mempelajari, menginterpretasikan, dan mengembangkan warisan tersebut melalui pendekatan kreatif.

Sulawesi Tenggara memiliki keragaman budaya yang tercermin dalam tradisi masyarakat Moronene, Tolaki, Buton, Muna, hingga Sama-Bajau. Kekayaan tersebut meliputi pengetahuan lokal, ekspresi seni, tradisi lisan, pangan, kriya, serta praktik kehidupan agraris dan maritim yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.

Melalui NUSAKA KULTURA, keragaman tersebut akan dihadirkan dalam ruang yang inklusif, edukatif, dan partisipatif. Tradisi tidak sekadar ditempatkan sebagai tontonan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang perlu dipahami dengan menghormati konteks dan masyarakat pemiliknya.

Festival ini sekaligus ingin memperluas cara pandang masyarakat terhadap kebudayaan, bukan sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan modern, melainkan bagian penting dari identitas, kreativitas, dan masa depan daerah.

Dua Ruang, Satu Gerak Kebudayaan

NUSAKA KULTURA dirancang berlangsung selama tiga hari dengan memanfaatkan ruang dalam dan luar ruangan. Ruang indoor berfokus pada penelusuran serta pemahaman warisan budaya, sedangkan ruang outdoor menghadirkan eksplorasi kreatif dan interaksi antargenerasi.

Pada ruang indoor, program Nusaka Rasa mengangkat pangan lokal sebagai bagian dari identitas dan ingatan kolektif masyarakat. Melalui demonstrasi pengolahan sagu, singkong, jagung, ubi, dan bahan lokal lainnya, pengunjung diajak mengenali pengetahuan kuliner yang diwariskan lintas generasi.

Program ini juga membuka kesempatan bagi pelaku UMKM untuk mengeksplorasi sajian tradisional dalam format yang lebih kontemporer. Salah satu kegiatan yang dirancang adalah masonggi bersama, yang menghadirkan pengalaman memasak dan menikmati pangan lokal sebagai praktik kebersamaan.

Selanjutnya, Nusaka Pertunjukan-Gema Rumpun Sultra menjadi ruang ekspresi seni yang mempertemukan tradisi dan pendekatan kontemporer. Monolog mantra, fusi musik gambus, hip-hop etnik, tari berbasis tradisi, hingga sastra tutur dirancang untuk menunjukkan keberagaman cara kebudayaan diekspresikan dan diwariskan kepada generasi masa kini.

Ada pula Nusaka Future, program lokakarya etnografi visual melalui fotografi, film, dan video. Program ini mendorong generasi muda mendokumentasikan kehidupan masyarakat, praktik kebudayaan, serta pengetahuan lokal secara kreatif dan bertanggung jawab.

Dokumentasi tersebut diharapkan menjadi sarana pembelajaran sekaligus memperluas akses terhadap pengetahuan budaya, dengan tetap menghormati persetujuan dan hak komunitas yang menjadi subjek dokumentasi.

Sementara itu, Nusaka Wicara akan menghadirkan forum dialog bertema “Ketika Budaya Menjadi Ruang Bersama: Peran Komunitas dan Pemangku Kepentingan dalam Ekosistem Kebudayaan”.

Forum ini dirancang mempertemukan pegiat seni dan budaya, guru, dosen, peneliti, komunitas, serta unsur pemerintah untuk membahas kolaborasi, regenerasi pelaku budaya, dan keberlanjutan inisiatif kebudayaan di Sulawesi Tenggara.

Eksplorasi Seni dan Kriya di Ruang Terbuka

Di ruang outdoor, pengunjung akan diajak mengalami kebudayaan secara lebih dekat melalui instalasi seni, kriya, dan kegiatan belajar bersama.

Nusaka Rupa - Instalasi Seni Agraris dan Maritim mengangkat hubungan masyarakat dengan lingkungan serta pengetahuan tradisional melalui pendekatan seni instalasi. Gagasan visualnya mengeksplorasi benda dan simbol yang berkaitan dengan kehidupan agraris masyarakat Moronene dan Tolaki serta tradisi maritim masyarakat Buton dan Muna.

Pengembangan instalasi akan melibatkan penelusuran konteks budaya dan konsultasi dengan pelaku tradisi agar setiap representasi memiliki dasar pengetahuan yang tepat.

Program lainnya, Nusaka Kriya - Tangan-Tangan Penjaga Tradisi, menghadirkan eksplorasi kerajinan anyaman berbahan serat dan tumbuhan lokal, termasuk nentu, melalui pameran dan ruang belajar.

Pengunjung dapat mengenali material, proses pengerjaan, keterampilan, serta pengetahuan yang menyertai penciptaan karya kriya. Program ini juga menjadi kesempatan bagi para perajin untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik sekaligus memperluas apresiasi terhadap kerajinan berbasis potensi lokal.

Melalui kedua ruang tersebut, NUSAKA KULTURA berupaya menjadikan festival sebagai pengalaman kebudayaan yang dapat dilihat, didengar, dipelajari, dan dialami secara langsung.

Komunitas Jadi Penggerak, Pemerintah Fasilitator

NUSAKA KULTURA menempatkan inisiatif komunitas sebagai titik awal pengembangan program kebudayaan. Komunitas dinilai memiliki kedekatan dengan praktik budaya di masyarakat, sekaligus ruang untuk mengembangkan gagasan, membangun partisipasi, dan menghadirkan pendekatan kreatif yang sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini.

Dalam pelaksanaannya, dukungan pemerintah daerah menjadi bagian penting untuk memperkuat ekosistem kolaborasi. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui komunikasi lintas sektor, fasilitasi sesuai kewenangan dan program yang tersedia, pembukaan akses jejaring, serta penguatan hubungan antara komunitas, lembaga pendidikan, pelaku budaya, dan sektor ekonomi kreatif.

Pendekatan ini menempatkan pemerintah dan komunitas dalam hubungan kemitraan yang saling melengkapi. Komunitas mengembangkan gagasan dan menggerakkan partisipasi, sedangkan pemerintah berperan menciptakan kondisi yang memungkinkan inisiatif kebudayaan tumbuh, menjangkau lebih banyak masyarakat, dan berkelanjutan.

Bagi NUSAKA KULTURA, kolaborasi bukan sekadar kebutuhan teknis penyelenggaraan acara, melainkan cara membangun tanggung jawab bersama dalam memajukan kebudayaan dengan tetap menghormati peran masyarakat dan komunitas pemilik tradisi.

Buka Peluang Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

Selain memperluas apresiasi terhadap kebudayaan, NUSAKA KULTURA juga dirancang untuk membuka peluang penguatan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Keterlibatan UMKM kuliner, perajin, seniman, dan pelaku kreatif diharapkan memberikan ruang untuk memperkenalkan produk, karya, serta keterampilan kepada masyarakat. Pada saat yang sama, lokakarya dan program edukasi membuka kesempatan bagi pelajar, mahasiswa, dan generasi muda untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran kebudayaan.

Festival ini juga diharapkan memastikan pengetahuan tradisional tidak berhenti pada generasi yang telah menguasainya. Melalui perjumpaan, praktik bersama, dokumentasi, dan pengembangan karya, pengetahuan tersebut dapat terus dipelajari dan diteruskan dalam bentuk yang sesuai dengan perkembangan masyarakat.

Keberhasilan NUSAKA KULTURA nantinya tidak hanya diukur dari penyelenggaraan festival selama tiga hari, tetapi juga dari tumbuhnya jejaring antarkomunitas, meningkatnya keterlibatan generasi muda, terbukanya peluang bagi pelaku budaya, serta munculnya gagasan kolaboratif yang dapat diteruskan setelah kegiatan berakhir.

Direktur Eksekutif IDEA Project, Ashari Amrullah, melalui inisiatif ini mengajak masyarakat melihat kebudayaan sebagai ruang bersama yang terus berkembang. Warisan budaya menjadi pijakan identitas masyarakat, sementara kreativitas generasi muda membuka peluang baru untuk menjaga relevansi dan keberlanjutannya.

NUSAKA KULTURA diharapkan menjadi langkah awal memperkuat hubungan antara komunitas, pemerintah, lembaga pendidikan, seniman, budayawan, pelaku usaha, dan masyarakat dalam membangun ekosistem kebudayaan Sulawesi Tenggara yang lebih terbuka dan partisipatif.

NUSAKA KULTURA bukan hanya tentang menampilkan apa yang diwariskan, tetapi juga membangun kesempatan agar warisan tersebut terus dipelajari, dikembangkan, dan diteruskan. Rilis.


Editor: Muh Fajar

Berita BerikutnyaLedakan Smelter PT OSS Picu Sorotan, BEM FH UHO Desak Pertanggungjawaban Jika Ada Kelalaian
Bagikan:

Baca Juga