Pancasila Diuji di Tengah Hoaks dan Krisis Etika, Mahasiswa Sultra Diajak Ambil Peran

Sultranesia
4 Min Baca
Pancasila Diuji di Tengah Hoaks dan Krisis Etika, Mahasiswa Sultra Diajak Ambil Peran
Anggota Komisi XIII DPR RI, Ali Mazi saat hadir membuka kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Bersama Masyarakat yang kembali digelar BPIP bersama Komisi XIII DPR RI di salah satu hotel di Kota Kendari, Kamis (27/8/2026). Foto: Dok. Sultr

Kendari - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Komisi XIII DPR RI mendorong generasi muda di Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk tidak sekadar memahami dan menghafal lima sila Pancasila, tetapi juga membumikan nilai-nilainya melalui gerakan nyata di tengah masyarakat.

Dorongan tersebut mengemuka dalam kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Bersama Masyarakat yang kembali digelar BPIP bersama Komisi XIII DPR RI di salah satu hotel di Kota Kendari, Kamis (27/8/2026).

Ratusan peserta dari berbagai kalangan mengikuti kegiatan tersebut. Mayoritas di antaranya merupakan mahasiswa yang diharapkan dapat menjadi bagian dari penggerak nilai-nilai kebangsaan di lingkungan kampus maupun masyarakat.

Kegiatan dibuka oleh Anggota Komisi XIII DPR RI, Ali Mazi. Turut hadir Analis Kebijakan Ahli Madya BPIP, Galuh Ibrahim, serta sejumlah akademisi dari Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari.

Galuh Ibrahim mengatakan Pancasila telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan menjadi pijakan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga menjadi landasan bersama yang menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa.

“Pancasila telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat. Pancasila juga memberikan kita pijakan yang kokoh, atau bahasa Bung Karno, philosophische grondslag atau filsafat dasar,” ujar Galuh.

Ia mengatakan, keberadaan Pancasila menjadi penting sebagai pemersatu bangsa sekaligus pijakan bersama untuk menjaga stabilitas dan kerukunan masyarakat agar tidak mudah terpecah oleh berbagai isu sektarian.

Menurut Galuh, nilai-nilai tersebut sangat relevan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara yang memiliki keberagaman suku, budaya dan agama.

“Pancasila merupakan pandangan hidup, penuntun etika, dan moral dalam kehidupan bermasyarakat di tengah keragaman suku, budaya, agama di Sulawesi Tenggara,” katanya.

Lebih jauh, Galuh menyebut Pancasila juga harus menjadi “bintang penuntun” atau leitstar yang mengarahkan perjalanan masyarakat menuju kehidupan yang lebih maju, sejahtera, bermartabat dan berkeadilan.

Namun, di tengah perkembangan zaman dan pesatnya digitalisasi, tantangan dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan juga semakin kompleks.

Arus informasi yang berkembang cepat memang membawa dampak positif. Namun di sisi lain, masyarakat juga dihadapkan pada maraknya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perjudian online, peredaran narkoba hingga persoalan merosotnya etika di kalangan generasi muda.

Karena itu, Galuh menegaskan relawan Gerakan Kebajikan Pancasila tidak boleh hanya berhenti pada pemahaman teoritis atau sekadar menghafal lima sila.

“Tugas relawan bukan sekadar menghafal lima sila dalam Pancasila, tetapi membumikan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata,” tegasnya.

Ia mencontohkan, relawan harus mampu hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan, menjadi bagian dari upaya meredam potensi konflik sosial, serta menciptakan ruang positif bagi generasi muda.

“Ketika ada warga tertimpa musibah, relawan hadir membawa senyum. Ketika ada potensi konflik atau gesekan sosial, relawan hadir membawa kedamaian dan energi toleransi,” ujarnya.

Selain itu, relawan juga diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya pembinaan karakter generasi muda melalui kegiatan-kegiatan yang kreatif dan positif.

BPIP bahkan mendorong agar semangat tersebut tidak berhenti setelah kegiatan berlangsung.

Galuh mengajak organisasi kepemudaan dan mahasiswa yang hadir untuk membentuk semacam posko atau pusat penggerak kebangsaan yang dapat menjadi ruang aksi gotong royong sekaligus pusat perlindungan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Kami dari BPIP berharap mari kita jadikan pertemuan hari ini bukan sekadar seremoni, melainkan awal gerakan perubahan yang berdampak nyata,” katanya.

Sementara itu, Anggota Komisi XIII DPR RI, Ali Mazi, mengatakan proses belajar dan mengamalkan Pancasila tidak boleh berhenti.

Menurut politikus Partai NasDem tersebut, nilai-nilai Pancasila telah melekat dalam kehidupan seluruh warga negara dan menjadi fondasi dalam menjaga keutuhan Indonesia yang memiliki keberagaman.

“Kita belajar Pancasila, mengamalkan Pancasila tentu tidak boleh bosan-bosan. Karena itu ada di dalam kehidupan semua warga bangsa,” ujar Ali Mazi.

Ia mengatakan Pancasila menjadi perekat yang menjaga kedaulatan, harmonisasi dan persatuan bangsa dari Sabang sampai Merauke, meski masyarakat Indonesia memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda.

“Saya kira semua sepakat Pancasila ini menjaga kedaulatan bangsa dan negara, menjaga harmonisasi, menjaga kehidupan, dari Sabang sampai Merauke, berbeda-beda budaya, berbeda-beda bahasa tetapi tetap satu di dalam Pancasila,” katanya.

Ali Mazi juga menyebut para peserta, khususnya kalangan mahasiswa dan generasi muda yang hadir dalam kegiatan tersebut, secara langsung telah menjadi bagian dari relawan Pancasila.

Menurutnya, peran generasi muda sangat penting, terutama dalam memastikan nilai-nilai Pancasila tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi dasar dalam mengambil peran dan menghadapi berbagai persoalan pembangunan.

Ia kemudian menyinggung potensi besar yang dimiliki Sulawesi Tenggara, mulai dari sumber daya manusia hingga kekayaan alam seperti sektor pertambangan, kehutanan, kelautan, perikanan dan pariwisata.

Menurut Ali Mazi, kekayaan tersebut harus dikelola dengan baik dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.

“Di Sulawesi Tenggara adalah negeri yang paling kaya. Kita punya sumber daya manusia, kita punya sumber daya alam, kita memiliki tambang, hutan, laut, pariwisata, perikanan, semua ada di Sulawesi Tenggara,” ujarnya.

“Tinggal sekarang bagaimana kita menghayati dan mengamalkan Pancasila, sehingga semuanya dikelola dan dimanajemen secara baik dan benar. Itulah tujuan kita hari ini datang ke sini,” sambungnya.

Melalui kegiatan tersebut, BPIP dan Komisi XIII DPR RI berharap lahir relawan-relawan yang mampu menjadi penggerak kebajikan di lingkungan masing-masing.

Tidak hanya menyebarkan pemahaman mengenai Pancasila, para relawan juga diharapkan hadir secara langsung dalam berbagai persoalan sosial, menjaga toleransi, memperkuat gotong royong serta menjadi bagian dari pembentukan karakter generasi muda di Bumi Anoa.

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan sejumlah akademisi UHO Kendari, di antaranya Dr. Idaman Alwi dan Irwansyah dari Fakultas Hukum UHO.


Editor: Redaksi

Berita BerikutnyaBelajar dari Pembangunan Tiongkok, Data Desa Presisi Jadi Fondasi Transformasi
Bagikan:

Baca Juga