Pelosika Disiapkan Jadi Bendungan Terbesar di Sultra, Layani Irigasi 20.458 Hektare

Sultranesia
3 Min Baca
Pelosika Disiapkan Jadi Bendungan Terbesar di Sultra, Layani Irigasi 20.458 Hektare
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah menyiapkan pembangunan Bendungan Pelosika di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara sebagai salah satu proyek infrastruktur sumber daya air. Foto: Dok. Kementerian PU.

Konawe – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan pembangunan Bendungan Pelosika di Sulawesi Tenggara (Sultra) sebagai salah satu proyek infrastruktur sumber daya air dalam target pembangunan 2025–2029.

Bendungan yang berada di Kabupaten Konawe tersebut dirancang sebagai infrastruktur multiguna untuk memperkuat ketahanan pangan dan air, mengurangi risiko banjir, sekaligus mendukung pengembangan energi.

Kementerian PU menyebut Bendungan Pelosika diproyeksikan menjadi bendungan terbesar di Sultra dan masuk dalam jajaran bendungan berkapasitas besar di Indonesia.

Pembangunannya saat ini berada pada tahap proses pemrograman dan disiapkan untuk masuk proses lelang. Masa pelaksanaan konstruksi direncanakan berlangsung pada 2026–2030.

Salah satu manfaat utama Bendungan Pelosika adalah penyediaan air untuk sektor pertanian.

Bendungan tersebut dirancang untuk mendukung layanan irigasi seluas 20.458 hektare, terdiri atas 12.678 hektare daerah irigasi fungsional dan 7.780 hektare daerah irigasi potensial.

Dengan dukungan pasokan air dari bendungan, indeks pertanaman ditargetkan meningkat dari 220 persen menjadi 300 persen.

Artinya, lahan pertanian yang sebelumnya berpotensi ditanami dua kali dalam setahun diharapkan dapat ditingkatkan menjadi tiga kali tanam.

Menteri PU, Dody Hanggodo mengatakan pembangunan bendungan harus diikuti dengan pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi agar air yang ditampung dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pertanian.

“Suplai air yang berkelanjutan menjadi kunci peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani,” kata Menteri Dody dikutip daril laman Kementerian PU.

Dengan konsep tersebut, Bendungan Pelosika tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan air, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pendukung produktivitas pertanian di Sultra.

Selain mengairi lahan pertanian, Bendungan Pelosika juga dirancang untuk memenuhi kebutuhan air baku masyarakat di Kabupaten Konawe.

Kapasitas penyediaan air baku yang direncanakan mencapai 750 liter per detik.

Air tersebut nantinya dapat diolah melalui instalasi pengolahan air (IPA) dan disalurkan melalui jaringan perpipaan untuk memenuhi kebutuhan air bersih hingga sekitar 540.000 jiwa.

Bendungan ini memiliki total kapasitas tampung mencapai 1,117 miliar meter kubik, dengan tampungan efektif sebesar 808 juta meter kubik.

Luas genangan diperkirakan mencapai 5.451,56 hektare, sedangkan luas daerah tangkapan air mencapai 2.780,93 kilometer persegi.

Fungsi Bendungan Pelosika juga diarahkan untuk mengurangi risiko banjir di Kabupaten Konawe.

Kementerian PU memperkirakan luas wilayah yang berpotensi terdampak banjir dapat ditekan dari sekitar 19.330 hektare menjadi 6.301 hektare.

Wilayah tersebut mencakup 10 kecamatan, yakni Asinua, Abuki, Lambuya, Uepai, Unaaha, Konawe, Anggaberi, Wawotobi, Wonggeduku, dan Pondidaha.

Dengan fungsi tersebut, keberadaan bendungan diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap wilayah yang selama ini memiliki risiko terdampak banjir.

Manfaat Bendungan Pelosika juga tidak berhenti pada sektor pangan, air baku dan pengendalian banjir.

Infrastruktur tersebut dirancang untuk mendukung pengembangan energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 40 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 261,12 MW.

Artinya, satu proyek infrastruktur sumber daya air tersebut diarahkan untuk menjalankan sejumlah fungsi sekaligus, mulai dari menopang produksi pertanian, menyediakan air bersih, mengurangi risiko banjir hingga membuka potensi energi.

Untuk merealisasikan pembangunan Bendungan Pelosika, kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai sekitar Rp9,8 triliun.

Secara teknis, bendungan dirancang menggunakan tipe urugan inti clay dengan tinggi 63 meter.

Elevasi puncak bendungan mencapai 121 meter, panjang puncak total 404,26 meter dan lebar puncak 15 meter.

Untuk mendukung aspek keamanan konstruksi, desain bendungan dilengkapi pelimpah utama tipe ogee serta pelimpah darurat tipe broad-crest.

Pembangunan Bendungan Pelosika menjadi bagian dari agenda Kementerian PU dalam memperkuat infrastruktur sumber daya air di Sulawesi Tenggara.

Jika terealisasi sesuai rencana, bendungan ini akan memiliki fungsi strategis sekaligus bagi ketahanan pangan, penyediaan air, pengendalian banjir dan pengembangan energi di Sultra.


Editor: Andise SL

Berita BerikutnyaSuper Air Jet Diupayakan Terbang Lagi ke Baubau Oktober, Wings Air Tetap Layani Penerbangan Pagi
Bagikan:

Baca Juga