Waspada Uang Palsu Sasar UMKM, Kendari dan Baubau Terbanyak

Sultranesia
2 Min Baca
Waspada Uang Palsu Sasar UMKM, Kendari dan Baubau Terbanyak
Ilustrasi. Foto: Wiwid Abid Abadi/Sultranesia.com.

Kendari - Peredaran uang palsu masih menjadi perhatian di Sulawesi Tenggara (Sultra). Sepanjang tahun 2025, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sultra mencatat temuan sebanyak 397 lembar uang palsu yang beredar di masyarakat.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Sultra, Thathit Suryono, mengatakan temuan tersebut didominasi pecahan besar, terutama uang Rp 100 ribu.

Meski demikian, jumlah yang ditemukan pada 2025 ini menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 465 lembar.

“Secara umum ada tren penurunan. Namun peredarannya masih paling banyak ditemukan di Kota Kendari dan Kota Baubau,” ujar Thathit, Kamis (21/1), dilansir dari Antara.

Berdasarkan hasil pemetaan BI Sultra, uang palsu tersebut paling sering beredar dalam transaksi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Modus ini kerap memanfaatkan tingginya aktivitas transaksi tunai di sektor tersebut.

Selain itu, waktu peredaran uang palsu cenderung meningkat pada momentum hari besar keagamaan nasional, seperti Ramadan, Idul Fitri, serta perayaan Natal dan Tahun Baru, saat perputaran uang di masyarakat berlangsung sangat cepat.

Menyikapi kondisi tersebut, BI Sultra tidak hanya melakukan penindakan, tetapi juga memperluas pengawasan hingga ke warung-warung kecil. Upaya ini dilakukan melalui koordinasi intensif dengan aparat penegak hukum untuk menekan ruang gerak pelaku peredaran uang palsu.

Di sisi lain, langkah pencegahan terus digencarkan melalui edukasi kepada masyarakat lewat program Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah. Edukasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih mengenal dan mencintai rupiah sebagai alat pembayaran yang sah.

“Upaya BI kami bagi menjadi dua, penindakan dan pencegahan. Untuk pencegahan, kami terus mengedukasi masyarakat agar mampu mengenali uang asli menggunakan metode 3D, yakni Dilihat, Diraba, dan Diterawang,” jelas Thathit.

Edukasi tersebut menyasar berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga pelaku usaha. BI berharap, melalui sosialisasi CBP Rupiah yang masif, masyarakat semakin waspada dan memiliki kemampuan mendeteksi keaslian uang secara mandiri.

Dengan peningkatan pemahaman tersebut, BI Sultra optimistis potensi kerugian akibat peredaran uang palsu di Sulawesi Tenggara dapat ditekan seminimal mungkin.


Editor: Muh Fajar

Berita BerikutnyaLansia Hilang di Hutan Buton Ditemukan Selamat Setelah Dua Hari Pencarian
Bagikan:

Baca Juga