Kendari – Sebanyak 103 titik panas (hotspot) terdeteksi di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam pemantauan BMKG pada Minggu (6/9/2026).
Dari jumlah tersebut, 18 titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi, 80 titik kategori menengah, dan lima titik kategori rendah.
Data tersebut dirilis BMKG Stasiun Klimatologi Sultra berdasarkan hasil pemantauan satelit pada periode pukul 00.00 WIB hingga 23.00 WIB.
Pemantauan dilakukan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar NOAA-20, S-NPP, TERRA, dan AQUA. Sensor tersebut mendeteksi anomali suhu permukaan bumi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah di sekitarnya.
Dari sejumlah daerah yang terpantau, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 31 titik.
Rinciannya terdiri dari satu titik kategori kepercayaan rendah, 21 titik kategori menengah, dan sembilan titik kategori tinggi.
Di posisi berikutnya terdapat Kabupaten Konawe dengan 26 titik panas, terdiri dari empat titik kategori rendah, 21 kategori menengah, dan satu kategori tinggi.
Sementara itu, Kabupaten Bombana mencatat 19 titik panas, disusul Kolaka Timur tujuh titik dan Muna empat titik.
Berikut sebaran hotspot di wilayah Sultra berdasarkan pemantauan BMKG:
- Konawe Selatan: 31 titik.
- Konawe: 26 titik.
- Bombana: 19 titik.
- Kolaka Timur: 7 titik.
- Muna: 4 titik.
- Buton Utara: 3 titik.
- Kolaka Utara: 3 titik.
- Wakatobi: 3 titik.
- Buton: 2 titik.
- Konawe Utara: 2 titik.
- Muna Barat: 2 titik.
- Kolaka: 1 titik.
Sementara Baubau, Buton Selatan, Buton Tengah, Kendari, dan Konawe Kepulauan tidak terdeteksi adanya titik panas atau nihil.
BMKG menjelaskan pemantauan hotspot menjadi salah satu langkah awal untuk mengidentifikasi wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, keberadaan titik panas tidak serta-merta berarti telah terjadi kebakaran. Hasil deteksi juga dapat dipengaruhi kondisi atmosfer dan kemampuan sensor satelit dalam menangkap anomali suhu di permukaan.
Deteksi hotspot dapat terhambat ketika wilayah tertutup awan tebal maupun berada di area yang disebut blank zone.
Masyarakat dan pihak terkait pun diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang terpantau memiliki hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya ketika terdapat aktivitas pembakaran terbuka yang dapat memicu meluasnya api.
Editor: Andise SL








