58 Siswa Pondok Pesantren Al Aksar Kendari Keracunan MBG

Sultranesia
3 Min Baca
58 Siswa Pondok Pesantren Al Aksar Kendari Keracunan MBG
Sejumlah siswa Al-Askar Kendari menjalani perawatan di fasilitas kesehatan setelah mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi menu MBG, Jumat (18/9/2026). Foto: Dok. Istimewa.

Kendari – Sebanyak 58 siswa Madrasah Al-Askar Kendari mengalami keracunan setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Kendari Baruga Watubangga, Jumat (18/9/2026).

Puluhan siswa tersebut terdiri dari siswa Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Askar Kendari yang terpaksa menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, seperti Puskesmas Lepo-Lepo, Rumah Sakit Dewi Sartika, dan Puskesmas Ranomeeto.

Berdasarkan pembaruan data hingga Jumat (18/9) malam pukul 21.17 WITA, sebanyak 51 orang masih menjalani perawatan, sementara tujuh lainnya telah diperbolehkan pulang.

Sekretaris Satgas MBG Kota Kendari, Abdul Rauf, mengatakan pemerintah langsung turun tangan setelah menerima laporan adanya siswa yang mengalami keluhan kesehatan.

“Yang penting menjadi tanggung jawab pemerintah. Kita akan sampai dia benar-benar pulih,” kata Abdul Rauf saat dijumpai wartawan.

Ia mengatakan para korban tersebar di tiga fasilitas kesehatan dan pemerintah memastikan kebutuhan penanganan mereka terpenuhi.

“Kita pemerintah kota menangani anak-anak kita yang menjadi korban,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kendari, Ellfi, mengatakan sebagian besar anak yang mendapat penanganan mulai menunjukkan kondisi membaik.

“Sebagian besar anak-anak pada umumnya sudah semakin membaik,” kata Ellfi.

Menurut Ellfi, keluhan yang dirasakan anak-anak antara lain mual, muntah, dan pusing. Namun, hingga saat itu tidak ditemukan kasus dengan kondisi berat seperti kehilangan kesadaran.

“Alhamdulillah sampai dengan hari ini kita tidak mendapatkan kasus anak-anak yang sampai serius, seperti hilang kesadaran,” ujarnya.

Kasus tersebut bermula setelah SPPG mendistribusikan menu MBG yang salah satunya berupa tuna balado.

Dalam laporan kejadian SPPG, sekitar pukul 14.00 WITA, pihak SD Negeri 92 Kendari melaporkan adanya gejala gatal pada bibir setelah melakukan uji organoleptik terhadap makanan.

SPPG kemudian menginstruksikan agar makanan tidak dibagikan kepada siswa dan menarik seluruh paket MBG dari pengantaran tahap terakhir.

Namun, makanan di MA Al-Askar Kendari dan MTs Al-Askar Kendari disebut telah terlanjur dikonsumsi.

Sekitar pukul 14.30 WITA, pihak sekolah melaporkan seorang siswa mengalami pusing dan mual. Siswa tersebut kemudian dijemput dan dibawa ke Puskesmas Lepo-Lepo.

Jumlah korban kemudian bertambah hingga mencapai 58 orang.

Ellfi mengatakan pihaknya kini telah mengamankan sampel makanan untuk pemeriksaan laboratorium.

“Sampel makanan anak-anak yang dikonsumsi itu sudah kita amankan dan sudah disiapkan untuk pemeriksaan,” katanya.

Hasil pemeriksaan tersebut nantinya akan menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan pada para siswa.

“Nanti hasil pemeriksaannya akan dirilis oleh teman-teman dari laboratorium kesehatan,” ujar Ellfi.

Dalam laporan internal SPPG, terdapat analisis awal mengenai proses penyimpanan ikan tuna yang digunakan dalam menu MBG.

Disebutkan, ikan yang telah dimarinasi ditumpuk dalam satu freezer. Ikan yang berada di bagian bawah dan diolah pada tahap produksi terakhir diduga berpotensi mengalami kondisi suhu yang tidak aman.

Namun, temuan tersebut masih berupa analisis internal dan belum dapat disebut sebagai penyebab pasti sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

Selain itu, laporan SPPG juga menyebut adanya persoalan pada pelaksanaan uji organoleptik oleh pihak sekolah.

Ellfi sendiri belum menyimpulkan penyebab keluhan tersebut dan menegaskan pemeriksaan sampel masih berjalan.

Untuk sementara, Dinas Kesehatan Kota Kendari memastikan pemantauan terhadap siswa lainnya tetap dilakukan. Jika ditemukan siswa lain dengan gejala serupa, mereka diminta segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan.

“Silakan langsung dibawa ke puskesmas kesehatan, bisa mendapatkan pertolongan secepatnya,” kata Ellfi.

Hingga pembaruan terakhir, tidak ada rencana pemindahan pasien secara massal ke rumah sakit. Pemindahan akan dilakukan apabila kondisi pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut atau kapasitas fasilitas kesehatan tidak lagi memadai.


Editor: Denyi Risman

Berita BerikutnyaTiga Desa Pesisir Muna Barat Butuh Daya Listrik Lebih Besar, Ini Langkah DPRD
Bagikan:

Baca Juga