Kendari – Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Kendari menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di Gedung DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Senin (1/9).
Mereka menggelar aksi dengan membawa sejumlah tuntutan, di antaranya pembatalan kenaikan gaji dan tunjangan DPR, pengesahan Undang-undang perampasan aset, hingga menuntut agar kasus kematian Affan Kurniawan, Ojol yang meninggal dunia saat demo di Jakarta diusut tuntas.
Massa juga menyuarakan agar penghapusan tindakan represif aparat kepolisian dalam menangani massa yang menggelar demonstrasi.
Aksi demonstrasi yang digelar sejak pagi hingga sore ini berlangsung kondusif, meski beberapa kali sempat terjadi ketegangan. Namun ketegangan bisa diredam.
Di tengah ribuan massa pengunjuk rasa, ada pemandangan unik yang bisa diulik. Yaitu, kehadiran sejumlah pedagang cendol, es dawet, dan minuman dingin.
Mereka nampak ‘menyusup’ di tengah-tengah ribuan massa untuk memanfaatkan momen tersebut menjajakan dagangannya kepada para demonstran.
Mereka nampak berjualan di pinggir jalan, sesekali mereka berkeliling menawarkan minuman dingin langsung ke para demonstran.
Suripan, salah seorang penjual cendol, menuturkan, bahwa dirinya berjualan saat aksi unjuk rasa bukanlah yang pertama kali baginya.
Ia mengaku pernah berdagang asinan pada saat aksi demonstrasi besar pada 26 September 2019 silam. Padahal, demonstrasi saat itu berubah jadi kerusuhan besar yang menewaskan Yusuf dan Randi, mahasiswa Universitas Haluoleo Kendari.
Suripan menuturkan, jika ada demonstrasi di Kendari, justru ia datang ke tempat itu.
“Kalau ada demo, saya malah ke situ untuk menjual. Tadi saya ke Polda Sultra, tapi sepi, jadi ke sini,” ungkapnya di tengah kerumunan massa di DPRD Sultra.
Meski sudah memasuki usia paruh baya, 53 tahun, Suripan mengaku tak takut sama sekali.
Sambil memantau kondisi pedemo selama berjualan, ia tetap waspada. Ia mengaku bisa merasakan jika aksi demonstrasi akan berubah rusuh.
“Kalau sudah mau rusuh, baru mulai tinggalkan tempat menjual,” ungkapnya.
Bukan tanpa alasan Suripan berani menjual di tengah kerumunan. Kata dia, dagangan cepat laku ketimbang hari biasanya.
“Bedanya kalau jualan pas demo, bisa habis lebih cepat. Siang sudah bisa pulang. Kalau hari biasa, sore pulangnya,” ungkapnya.
Dia mengungkapkan, selama musim demo, dagangannya habis terjual dan bisa mendapatkan omzet hingga Rp 850 ribu.
Editor: Muh Fajar








