Gagal Panen Akibat Kekeringan, Petani di Konawe Jadikan Tanaman Padi sebagai Pakan Sapi

Sultranesia
2 Min Baca
Gagal Panen Akibat Kekeringan, Petani di Konawe Jadikan Tanaman Padi sebagai Pakan Sapi
Sejumlah sapi memakan tanaman padi di lahan persawahan yang mengalami puso akibat kekeringan di Kecamatan Asinua, Kabupaten Konawe, Kamis (17/9/2026). Foto: Dok. Istimewa.

Konawe – Ratusan hektare sawah di Kecamatan Asinua, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), terancam gagal panen akibat kekeringan yang melanda wilayah tersebut.

Kondisi terparah terjadi di sejumlah desa hingga membuat petani terpaksa merelakan tanaman padi yang sudah tidak dapat diselamatkan untuk dijadikan pakan ternak sapi.

Petugas Penyuluh Pertanian Kecamatan Asinua, Jufri, mengatakan kekeringan saat ini berdampak pada lahan pertanian di lima desa, yakni Desa Awua Sari, Awua Jaya, Lasada, Asipako, dan Asinua Jaya.

“Kami dari jajaran petugas penyuluh pertanian Kecamatan Asinua melaporkan kondisi lahan pertanian milik warga Desa Awua Jaya sudah tidak dapat diselamatkan alias puso,” kata Jufri, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat para petani tidak memiliki banyak pilihan. Tanaman padi yang sebelumnya diharapkan bisa dipanen kini justru dimanfaatkan sebagai pakan sapi.

Para petani bahkan melepas ternak mereka ke lahan persawahan yang tanaman padinya sudah dinyatakan puso.

“Padi-padi tersebut sudah puso alias gagal panen. Para petani pasrah dan merelakan tanaman mereka menjadi konsumsi ternak,” jelasnya.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Desa Awua Jaya, Dirman, menyebut luas lahan persawahan di wilayah tersebut mencapai sekitar 292,6 hektare.

Dari total luasan tersebut, sekitar 84 hektare sawah dipastikan mengalami gagal panen atau puso.

Dirman mengatakan kondisi kekeringan sebenarnya sudah dilaporkan sejak pertengahan Agustus 2026. Namun, kondisi tersebut terus memburuk hingga akhirnya tanaman padi tidak lagi dapat diselamatkan.

“Pada tanggal 14 Agustus 2026 kami laporkan kondisi kekeringan di level sedang, dan pada tanggal 24 Agustus 2026 kondisinya memburuk alias puso,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab utama gagal panen adalah debit air yang selama ini menjadi sumber pengairan sawah masyarakat mengalami penurunan akibat kekeringan.

Selain itu, hujan juga tidak turun selama kurang lebih tiga hingga empat bulan di wilayah Kecamatan Asinua.

Kondisi tersebut membuat petani mengalami kerugian besar karena biaya, tenaga, dan waktu yang telah dikeluarkan selama proses budidaya padi tidak dapat kembali.

“Petani kami hancur, Pak. Tenaga, materi habis, rugi. Kami hanya berharap pihak-pihak terkait untuk hadir memberikan solusi dan bantuan bagi petani kami,” harap Dirman.

Jufri menambahkan, para penyuluh bersama masyarakat Kecamatan Asinua berharap pemerintah, DPR, maupun pihak terkait lainnya dapat segera memberikan solusi serta bantuan kepada petani yang terdampak kekeringan.

Bantuan tersebut dinilai penting untuk meringankan beban petani yang harus kehilangan hasil panen akibat kondisi cuaca dan kekeringan yang berkepanjangan.


Editor: Denyi Risman

Berita BerikutnyaHonda Brio Tabrak Dua Pemotor hingga Tewas di Kolaka, Sopir Remaja Positif Sabu-sabu
Bagikan:

Baca Juga