Kolaborasi, Kunci Menjaga Biodiversitas Pulau Wawonii Hingga Hari Ini


Kendari - Upaya menjaga biodiversitas di pulau kecil seperti Wawonii tidak dapat
dibebankan pada satu pihak semata. Kompleksitas ekosistem, keterbatasan daya dukung lingkungan, serta beragam tekanan pemanfaatan ruang menuntut pendekatan kolaboratif yang melibatkan dunia akademik, pelaku usaha, masyarakat, dan pemerintah.
Pendekatan inilah yang tercermin dalam kegiatan pemantauan biodiversitas darat dan laut di Pulau Wawonii, khususnya wilayah Wawonii Tenggara, yang dilakukan secara berkelanjutan sejak 2023 hingga 2025.
Pemantauan ini dilakukan oleh salah satu Peneliti Biodiversitas PT Erdas Dwi Konsultan sekaligus Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Haluoleo (UHO), Prof. Faisal Danu Tuheteru, bekerja sama dengan PT Gema Kreasi Perdana (GKP).
Menurut Prof Danu, Wawonii merupakan wilayah dengan karakter ekologi yang unik dan kompleks. Dalam satu bentang alam, pulau kecil ini memiliki ekosistem mangrove, hutan dataran rendah, hingga
hutan ultramafik yang secara geologi kaya mineral dan relatif jarang ditemukan di tempat lain.
"Kondisi seperti ini membutuhkan pengelolaan yang hati-hati dan berbasis data. Tidak cukup hanya dengan asumsi atau narasi sederhana. Di sinilah kolaborasi riset menjadi penting", ujar Prof. Danu.
Riset Kolaboratif, Basis Pengelolaan Lingkungan
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman hayati di sejumlah titik pengamatan berada dalam kondisi stabil, bahkan meningkat di beberapa lokasi.
Dari kelompok fauna, tercatat 27 jenis
burung endemik Sulawesi, dengan 16 di antaranya merupakan catatan baru di Pulau Wawonii.
Pada kelompok kelelawar, enam dari 11 jenis yang teridentifikasi juga merupakan temuan baru dibandingkan data penelitian sebelumnya Buku: Daftar Jenis Tumbuhan di Pulau Wawonii Sulawesi Tenggara dan Pulau Wawonii: Keanekaragaman Ekosistem, Flora, dan Fauna yang diterbitkan oleh LIPI tahun 2015.
Temuan ini memperlihatkan bahwa biodiversitas Wawonii selama ini belum sepenuhnya terdokumentasi, sekaligus menegaskan pentingnya pemantauan jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan terbuka.
“Tanpa kolaborasi, data-data ini tidak akan muncul. Perusahaan menyediakan dukungan program, akademisi memastikan metodologi ilmiah, dan hasilnya bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung jawab,” jelas Prof. Danu.
Selain inventarisasi hayati, tim peneliti juga melakukan analisis kualitas air sungai, air laut, sedimen, serta kandungan logam berat pada biota ikan.
Hasilnya menunjukkan seluruh parameter berada di bawah ambang batas baku mutu yang ditetapkan regulasi nasional dan standar internasional.
Bagi PT GKP, kolaborasi ini menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan pengelolaan lingkungan, khususnya kegiatan reklamasi pasca-tambang.
Environment & Forestry Superintendent PT GKP, Badrus Soleh, menyampaikan bahwa data hasil pemantauan biodiversitas digunakan sebagai rujukan utama dalam menentukan pendekatan reklamasi yang lebih adaptif dan kontekstual.
“Reklamasi bukan sekadar kewajiban regulasi. Dengan dukungan data ilmiah, kami dapat memilih jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan, termasuk tanaman pionir, tanaman pakan satwa, hingga jenis yang berpotensi mengembalikan fungsi ekosistem secara bertahap. Dari sekitar 114 jenis tumbuhan yang teridentifikasi, data tersebut kini menjadi basis pengembangan persemaian (nursery) perusahaan untuk mendukung reklamasi jangka panjang,” ujarnya.
Kolaborasi tidak berhenti pada level perusahaan dan akademisi. Kesadaran masyarakat setempat juga menjadi elemen penting dalam menjaga keseimbangan ekologi pulau kecil. Rilis.
Editor: Muh Fajar
Berita BerikutnyaKominfo Konsel Kunjungi Command Center Kendari, Pelajari Layanan Call Center 112
Baca Juga
Promo 11.11 Gadget Day Blibli Histeria, Ini Kelebihan iPhone 18 Pro Max yang Semakin Canggih!
Kendari - Pernah membayangkan memiliki smartphone dengan performa tinggi, kamera profesional, dan baterai yang mampu menemani aktivitas sepanjang hari? Kehadiran Promo 11.11 dari Blibli Histeria bisa menjadi momen…
Mantan Karutan Kendari Herianto Raih Doktor dengan IPK Sempurna 4,00 di UHO
Kendari – Mantan Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Kendari, Herianto, berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen di Program Pascasarjana Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara,…
Darwin Ajak Empat Pilar Budaya Bersatu, Peringatkan Provokasi Antarsuku di Sultra
Kendari – Ketua Umum Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara (Sultra), La Ode Darwin, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi isu-isu yang berpotensi memicu konflik antarsuku dan…
Mahasiswa Geruduk Rektorat UHO, Desak Audit Dana Penelitian dan Evaluasi Dekan FISIP
Kendari – Aliansi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) mendesak Rektor UHO, Prof. Takdir Saili, mengaudit pengelolaan dana penelitian mahasiswa tahun anggaran…
La Ode Darwin Sapa Warga Muna di Morowali, Ini Pesan Pentingnya untuk Perantau
Morowali – Ketua Umum Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara (Sultra) periode 2026–2031, La Ode Darwin, menyapa masyarakat Muna di Kabupaten Morowali dalam perayaan Hari Ulang Tahun…
Basarnas Kendari Latih 70 Pegawai dan Warga Binaan Lapas Perempuan Hadapi Bencana
Kendari – Sebanyak 70 pegawai dan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Kendari mengikuti simulasi penanggulangan bencana dan evakuasi darurat bersama Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas)…







