Kendari – Nilai ekspor Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Juli 2026 mencapai US$393,11 juta atau sekitar Rp6,9 triliun lebih. Angka tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan Juli 2025 yang tercatat US$296,32 juta atau Rp5,2 triliun lebih.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara yamg dirilis pada 1 September 2025, nilai ekspor pada Juli 2026 meningkat 32,66 persen secara tahunan.
Kenaikan nilai ekspor tersebut juga sejalan dengan peningkatan volume ekspor. Pada Juli 2026, volume ekspor Sultra tercatat sebesar 233,01 ribu ton, naik 8,00 persen dibandingkan Juli 2025 yang berada di angka 215,75 ribu ton.
Sepanjang Januari-Juli 2026, ekspor Sulawesi Tenggara masih didominasi kelompok komoditas besi dan baja dengan nilai mencapai US$2.277,45 juta.
Komoditas ikan dan udang berada di urutan kedua dengan nilai ekspor US$28,66 juta. Sementara kelompok komoditas daging dan ikan olahan menempati urutan ketiga dengan nilai US$6,53 juta.
Peningkatan terbesar ekspor Sultra pada Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya berasal dari komoditas besi dan baja. Nilainya meningkat US$97,35 juta atau tumbuh 33,41 persen.
Dominasi Besi dan Baja
Selama periode Januari-Juli 2026, lima golongan barang utama berdasarkan HS 2 digit memberikan kontribusi sebesar 99,97 persen terhadap total ekspor Sulawesi Tenggara.
Tingginya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekspor Sultra masih sangat bergantung pada sejumlah komoditas utama, terutama produk besi dan baja dari sektor industri pengolahan.
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok menjadi pasar ekspor utama Sulawesi Tenggara sepanjang Januari-Juli 2026. Selain Tiongkok, negara tujuan utama lainnya yakni India, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Puerto Rico.
Kelima negara tersebut secara keseluruhan menyumbang 99,75 persen dari total ekspor Sulawesi Tenggara pada periode Januari-Juli 2026.
Khusus Tiongkok, nilai ekspor Sultra mengalami peningkatan sebesar US$94,68 juta atau 32,84 persen dibandingkan periode sebelumnya. Komoditas utama yang dikirim ke negara tersebut adalah besi dan baja.
Industri Pengolahan Jadi Andalan
Jika dilihat berdasarkan sektor, ekspor Sulawesi Tenggara pada Januari-Juli 2026 masih sangat didominasi sektor industri pengolahan.
Nilai ekspor sektor industri pengolahan mencapai US$2.312,14 juta atau memberikan kontribusi sebesar 99,84 persen terhadap total ekspor Sultra.
Sementara sektor pertanian berada di posisi kedua dengan nilai ekspor US$3,71 juta atau sebesar 0,16 persen.
Pada Juli 2026, nilai ekspor sektor industri pengolahan meningkat 32,88 persen dibandingkan Juli 2025. Sebaliknya, sektor pertanian mengalami penurunan nilai ekspor sebesar 40,22 persen.
BPS mencatat, peningkatan total ekspor Sulawesi Tenggara pada Juli 2026 dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya sejalan dengan pertumbuhan nilai ekspor sektor industri pengolahan.
Dengan dominasi besi dan baja serta tingginya kontribusi sektor industri pengolahan, kinerja ekspor Sultra sepanjang 2026 masih menunjukkan tren positif, terutama ditopang permintaan dari pasar Tiongkok.
Editor: Andise SL








