Opini  

OPINI: Kelor Sebagai Terapi Penyakit Diabetes

Kelor. Foto: Dok. Istimewa.

Oleh: La Ode Muhammad Anwar, S.Farm., M.Pharm.Sci

Tanaman kelor merupakan tanaman yang tidak asing di mata masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah Indonesia, tanaman kelor sudah dimanfaatkan sebagai pakan sehari hari bahkan dikembangan menjadi produk kosmetik.

Untuk di daerah Sulawesi Tenggara, tanaman kelor digunakan sebagai makanan sayur utama. Diabetes sendiri ditandai dengan peningkatan glukosa dalam darah.

Dimana berbagai literatur membagi tipe DM (Diabetes miitus) menjadi : DM Tipe 1 , DM Tipe 2, lain-lain dan DM gestasional (tidak dibahas pada artikel ini).

Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004).

Sedangkan hasil Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8% dan masih bisa naik .

Yang menarik, kandungan protein yang terdapat pada kelor mempunyai kemiripan dengan insulin.

Insulin merupakan sebuah protein dalam tubuh, dengan berat molekul 5808 pada manusia.

La Ode Muhammad Anwar, S.Farm., M.Pharm.Sci.

Insulin mengandung 51 asam amino. Insulin dalam darah dapat mengaktivasi tranporter glukosa yaitu GLUT 4 kemembran sel, sehingga meningkatkan up take (ambilan) glukosa ke dalam sel. Terapi insulin telah lama digunakan terutama untuk penyakit DM Tipe 1 (dependen-insulin).

Diabetes Tipe 1 merupakan penyakit diabetes dimana sudah tidak menghasilkan insulin dalam tubuh sehingga memerlukan terapi insulin eksternal. Sayangnya, insulin itu sendiri kurang terjangkau dan kurang nyaman pada sebagian orang untuk penggunaanya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan ternyata protein pada kelor dapat menurunkan kadar glukosa, dimana ekstrak protein kelor diuji secara praklinis mendapatkan hasil yang signifikan.

Pada pemberian ekstrak protein kelor menunjukan hasil yang sangat baik, dimana pada waktu 3 jam sampai 5 jam pemberian, menunjukan penuruan nilai glukosa darah.

Bahkan pada jam 5 efek tanaman kelor lebih baik ketimbang insulin yang diberikan. Penelitian prakliinis tersebut memerikan gambaran bahwa kemiripan strukrur protein menyebabkan reseptor insulin dapat berikatan dengan protein tanaman kelor akibatnya dapat meningkatkan up take glukosa melalui aktivasi GLUT 4.

Penelitian tersebut merupakan terobosan yang sangat luar biasa. Kemiripan struktur insulin dan protein pada kelor dibuktikan dengan kemurnian protein yang diperoleh yaitu protein pada kelor yaitu sekitar 5,6 kDa (serupa dengan insulin, sekitar 5,8 kDa). Hasil yang sangat baik sekali.

Sehingga pemanfaatan kelor sebagai obat alternatif untuk penyakit diabetes bisa dimanfaatkan dimasyarakat bahkan bisa dikembangkan sebagai pengobatan penyakit diabetes.

Tentunya pengembangan penelitian tanaman kelor masih sangat dibutukan. Menyadari bahwa banyak istilah-istilah yang kurang dipahami, oleh karena itu perlu kebijakan dalam membaca artikel ini.

Semoga saudara saudari yang masih mengidap penyakit diabetes tidak bekecil hati dan dapat diberikan kesembuhan.


*) Penulis adalah Dosen Universitas Medika Suherman, Bekasi, Jawa Barat.

error: Content is protected !!
Exit mobile version