Tiga Bayi di Kendari Terinfeksi HIV, Tertular dari Ibu saat Kehamilan

Sultranesia
2 Min Baca
Tiga Bayi di Kendari Terinfeksi HIV, Tertular dari Ibu saat Kehamilan
Kantor Dinas Kesehatan Kota Kendari. Foto: Dok. Istimewa.

Kendari - Tiga anak berusia di bawah empat tahun di Kota Kendari ditemukan mengidap HIV. Ketiganya diduga tertular virus dari ibu mereka saat masih dalam masa kehamilan.

Temuan tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kendari di tengah masih ditemukannya kasus HIV sepanjang 2026.

Dinkes Kota Kendari mencatat sebanyak 147 kasus HIV ditemukan sepanjang Januari hingga Juli 2026. Kasus tersebut terungkap setelah petugas melakukan pemeriksaan terhadap sekitar 8 ribu orang yang masuk dalam kelompok berisiko HIV.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kendari, Ellfi, mengatakan dari 147 kasus tersebut, 121 kasus ditemukan pada laki-laki dan 26 kasus pada perempuan.

Berdasarkan kelompok usia, kasus HIV paling banyak ditemukan pada rentang usia 25-49 tahun dengan jumlah 82 kasus.

Sementara itu, tiga kasus ditemukan pada anak berusia di bawah empat tahun. Penularan pada anak tersebut diduga terjadi dari ibu saat kehamilan.

“Untuk anak ini sebenarnya sudah kami sasar dari ibu hamilnya. Tidak boleh ada ibu hamil di Kendari yang tidak mengetahui status HIV-nya,” kata Ellfi saat diwawancarai, Kamis (3/9/2026).

Menurut Ellfi, pemeriksaan HIV terhadap ibu hamil menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah penularan virus kepada bayi.

Jika status HIV diketahui sejak awal kehamilan, ibu dapat segera mendapatkan pengobatan. Petugas juga dapat menyiapkan langkah-langkah pencegahan saat proses persalinan sehingga risiko bayi tertular dapat ditekan.

Dinkes Kota Kendari, kata Ellfi, memberikan pengobatan kepada ibu hamil yang terdeteksi positif HIV. Sejumlah ibu hamil yang ditemukan mengidap HIV juga telah mendapatkan pengobatan dan berhasil mencegah bayi yang mereka lahirkan ikut terinfeksi.

Namun, upaya pencegahan tersebut masih menghadapi kendala. Salah satunya karena sebagian ibu hamil tidak mengakses layanan kesehatan selama masa kehamilan.

Kondisi tersebut terutama ditemukan pada ibu hamil yang berasal dari luar Kota Kendari.

“Biasanya ketahuan saat akan melahirkan. Ada yang tidak pernah datang ke layanan kesehatan selama kehamilan atau bisa juga menyembunyikan status HIV-nya,” ujarnya.

Ellfi mengatakan sebagian ibu hamil juga merasa tidak memiliki risiko tertular HIV. Padahal, menurutnya, petugas tidak dapat mengetahui riwayat pasangan seseorang tanpa dilakukan pemeriksaan.

Karena itu, Dinkes Kota Kendari terus memperluas penemuan kasus dengan tidak hanya mengandalkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan.

Petugas kini melakukan penjangkauan langsung kepada kelompok sasaran di luar fasilitas kesehatan. Dalam kegiatan tersebut, Dinkes menggandeng sejumlah pihak eksternal yang dinilai memiliki akses kepada kelompok masyarakat yang sulit dijangkau.

Langkah tersebut dilakukan karena masih ada masyarakat yang enggan terbuka mengenai kondisi atau status kesehatannya.

Menurut Ellfi, kerja sama dengan pihak yang memiliki akses langsung kepada kelompok sasaran membantu petugas menemukan kasus HIV lebih cepat.

“Kalau kami dibantu pihak-pihak yang bisa mendekatkan dengan sasaran, insyaallah pelaksanaannya akan lebih mudah. Alhamdulillah, kami sudah berprogres,” lanjutnya.

Di sisi lain, Dinkes Kota Kendari memastikan pemeriksaan HIV dapat dilakukan secara gratis bagi masyarakat.

Seluruh puskesmas dan rumah sakit di Kota Kendari telah dapat memberikan layanan pemeriksaan maupun deteksi dini HIV.

Selain pemeriksaan, terdapat tujuh fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan pengobatan HIV.

Ketujuh fasilitas tersebut yakni Puskesmas Perumnas, Puskesmas Lepo-Lepo, Puskesmas Kemaraya, Puskesmas Poasia, RSUD Kota Kendari, RSUD Bahteramas, dan RS Santa Anna.


Editor: Andis SL

Berita BerikutnyaNilai Ekspor Sultra Tembus Rp6,9 Triliun pada Juli 2026, Didominasi Besi dan Baja ke China
Bagikan:

Baca Juga