Uang Rp401 Miliar Sudah Kembali, IMES Pertanyakan Tersangka Kasus CNI


Jakarta – Indonesia Mining and Energy Studies (IMES) menyoroti penanganan dugaan korupsi dalam tata kelola nikel PT Ceria Nugraha Indotama (CNI).
Sorotan tersebut muncul setelah Kejaksaan Agung menyita uang sekitar Rp401,65 miliar dalam perkara tersebut. Di sisi lain, hingga perkara diumumkan ke publik pada 31 Agustus 2026, belum ada tersangka yang ditetapkan.
IMES menilai kondisi itu perlu mendapat penjelasan lebih lanjut, mengingat penyidikan perkara telah berjalan sejak April 2025.
Selain penyitaan uang, proses penyidikan disebut telah melibatkan pemeriksaan terhadap 116 saksi dan tiga ahli serta penyitaan 143 dokumen. Kerugian negara dalam perkara tersebut juga disebut telah dihitung oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Direktur Eksekutif IMES, Erwin Usman, mengatakan pengembalian atau penyitaan uang negara merupakan bagian penting dalam upaya pemulihan kerugian negara. Namun, menurutnya, proses hukum juga harus mengungkap pihak yang diduga bertanggung jawab atas terjadinya kerugian tersebut.
“Rp401 miliar sudah kembali, tapi siapa yang harus bertanggung jawab belum jelas. Ini yang harus dijawab Kejagung. Kerugian negara sebesar itu tentu lahir dari tindakan dan keputusan orang. Ada yang memakai dokumen, memberi rekomendasi, dan menggunakan kewenangan negara,” kata Erwin di Jakarta.
IMES juga menyoroti keterangan Kejaksaan Agung mengenai dugaan proses ekspor nikel oleh PT CNI.
Dalam perkara tersebut, penyidik menduga PT CNI memperoleh rekomendasi ekspor ketika belum memiliki RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya).
Selain itu, penyidik juga menduga terdapat pengaturan atau manipulasi dokumen hasil uji kadar nikel yang memungkinkan komoditas tersebut diekspor.
Dalam keterangan yang menjadi sorotan IMES, dugaan tersebut disebut melibatkan korporasi bersama pihak yang disebut sebagai penyelenggara negara.
Atas dasar itu, IMES mendesak Kejagung menelusuri lebih jauh pihak-pihak yang diduga terlibat dalam proses pemeriksaan, pemberian rekomendasi hingga persetujuan ekspor.
IMES meminta apabila penyidik telah menemukan indikasi keterlibatan penyelenggara negara, maka peran masing-masing pihak harus ditelusuri berdasarkan alat bukti dan ketentuan hukum yang berlaku.
“Uangnya sudah kembali. Jutaan ton nikel sudah lama keluar negeri. Sekarang publik menunggu siapa pejabat dan pihak lain yang akhirnya diminta bertanggung jawab. Kasus sebesar ini jangan berhenti pada penyitaan uang tanpa tersangka,” tegas Erwin.
Menurut IMES, penanganan perkara tersebut menjadi penting bukan hanya dari sisi pemulihan kerugian negara, tetapi juga untuk memastikan dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam tata kelola dan kegiatan ekspor nikel dapat diungkap secara menyeluruh.
IMES berharap Kejaksaan Agung membuka perkembangan penyidikan secara transparan, termasuk menjelaskan konstruksi perkara, pihak-pihak yang diduga terlibat dan perkembangan penetapan tersangka apabila alat bukti telah memenuhi ketentuan hukum.
Editor: Andise SL
Berita BerikutnyaHarga Pangan Lebih Murah, GPM di TVRI Sultra Jadi Pilihan Warga Kendari
Baca Juga
Dua Jurnalis Jadi Terlapor Usai Liput Demo, AJI Desak Kapolresta Kendari Dicopot
Kendari – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Sulawesi Tenggara (Sultra) mendesak Kapolresta Kendari Kombes Pol. Safi’i Nafsikin dan Kasat Reskrim Kompol Welliwanto Malau…
Sudah Disegel dan Didenda Rp590 Juta, Dua Galangan Kapal di Konsel Diduga Masih Beroperasi
Kendari – Dua galangan kapal di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), kembali disorot setelah diduga masih beroperasi meski telah disegel dan dikenai denda administratif total Rp590…
Pekerja Mundur, Progres Lambat, Proyek RSUD Muna Barat Rp158,3 Miliar Disorot KSP
Muna Barat – Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muna Barat, Sulawesi Tenggara, senilai Rp158,3 miliar menghadapi persoalan serius. Progres pekerjaan fisik yang diperkirakan belum mencapai 25 persen,…
KUHP Baru Perluas Peran PK, IPKEMINDO Sultra Siapkan Strategi
Kendari – Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru memperluas peran Pembimbing Kemasyarakatan (PK) dalam sistem peradilan pidana. Ikatan Pembimbing Kemasyarakatan Indonesia (IPKEMINDO) Sulawesi Tenggara (Sultra) menyiapkan penguatan…
Ombudsman: Ridwan Badallah Banyak Sebar Ujaran Kebencian di TikTok
Kendari – Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara (Sultra), Ridwan Badallah, disorot Ombudsman RI Perwakilan Sultra setelah ditemukan banyak ujaran kebencian dalam konten TikTok pribadinya, @eRBe#bersuara. Ujaran tersebut tidak…
Ruksamin Menang Sengketa Mesin Crusher, Jalil Siapkan Perlawanan di Pengadilan Tinggi
Kendari – Sengketa kepemilikan satu unit mesin crusher antara mantan Bupati Konawe Utara (Konut), Ruksamin, dan Jalil berlanjut ke tingkat banding. Kuasa hukum Jalil, Imam Rifaldi memastikan pihaknya…







