Kasus ISPA di Kota Baubau Meningkat Pesat Akibat Asap Karhutla

Sultranesia
2 Min Baca
Kasus ISPA di Kota Baubau Meningkat Pesat Akibat Asap Karhutla
Kondisi Kota Baubau diselimuti asap pada 13 Oktober 2026. Foto: Dok. Kompas.com.

Kendari - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), meningkat tajam akibat paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Baubau menerapkan pembelajaran dalam jaringan (daring) bagi siswa jenjang TK, SD, hingga SMP mulai Selasa (20/10/2026).

Kebijakan ini diambil menyusul memburuknya kualitas udara yang dinilai berisiko terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak sekolah.

Wali Kota Baubau, H Yusran Fahim, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah pemerintah memantau kondisi kesehatan warga di sejumlah puskesmas.

Hasil pemantauan menunjukkan jumlah pasien ISPA yang diduga berkaitan dengan paparan asap karhutla mengalami peningkatan signifikan.

"Kondisi ini sudah merupakan keadaan yang tidak sehat untuk masyarakat. Setelah kita pantau di beberapa puskesmas, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat asap ini meningkat tajam, bahkan di satu puskesmas ada yang menangani hingga 100 pasien per hari," kata Yusran Fahim dilansir dari Antarasultra.

Berdasarkan hasil pengujian Dinas Kesehatan Kota Baubau per 19 Oktober 2026, konsentrasi partikel debu tercatat mencapai 101 mikrogram per meter kubik.

Sementara itu, angka tertinggi ditemukan di Kelurahan Lowu-Lowu, Kecamatan Lea-Lea, dengan konsentrasi mencapai 114 mikrogram per meter kubik.

Lonjakan kasus ISPA dan kondisi udara tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pengalihan pembelajaran dari tatap muka ke daring dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk mengurangi risiko paparan kabut asap terhadap para siswa.

Yusran menegaskan, kebijakan tersebut bukan berarti siswa diliburkan sepenuhnya. Seluruh murid tetap diwajibkan mengikuti kegiatan belajar dari rumah, sedangkan para guru tetap menjalankan tugas seperti biasa.

"Siswa dialihkan belajar daring dari rumah, bukan libur total. Kebijakan ini mencakup jenjang TK, SD, dan SMP di bawah kewenangan Pemkot Baubau. Untuk jenjang SMA/SMK, keputusannya berada di bawah wewenang Pemerintah Provinsi," ujarnya.

Pemkot Baubau akan terus memantau dan mengevaluasi perkembangan kualitas udara sebelum memutuskan kembali menerapkan pembelajaran tatap muka. Aktivitas belajar di sekolah baru akan dibuka kembali setelah kondisi udara dinilai membaik dan aman bagi kesehatan anak-anak.

Di tengah situasi tersebut, Yusran juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan karena berpotensi memicu munculnya titik api baru dan memperburuk kabut asap.

Ia meminta warga segera melaporkan setiap potensi maupun kejadian kebakaran kepada petugas pemadam kebakaran agar dapat ditangani dengan cepat.


Editor: Muh Fajar

Berita BerikutnyaDitreskrimsus Polda Sultra Tuntaskan Kasus 'Passobis' Asal Koltim yang Korbannya hingga Malaysia
Bagikan:

Baca Juga