Potensi Mete Sultra Dilirik, Cornhouse BV Kaji Pabrik Pengolahan Skala Besar

Sultranesia
2 Min Baca
Potensi Mete Sultra Dilirik, Cornhouse BV Kaji Pabrik Pengolahan Skala Besar
Pertemuan Representative Cornhouse BV, Mohammad Andriza Syarif dengan Wali Kota Yusran Fahim di ruang kerja Wali Kota Baubau Rabu (2/9/2026). Foto: Pemkot Baubau.

Kendari – Potensi komoditas mete di Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai dilirik perusahaan perdagangan global asal Rotterdam, Belanda, Cornhouse BV.

Perusahaan tersebut kini tengah melakukan studi kelayakan untuk mengukur potensi pasokan dan kualitas mete di Sultra sebelum merealisasikan rencana pembangunan pabrik pengolahan mete skala besar.

Representative Cornhouse BV, Mohammad Andriza Syarif, mengatakan studi awal dilakukan dengan memetakan potensi mete di sejumlah wilayah, mulai dari Baubau, Muna, Buton hingga Kendari.

Kajian tersebut mencakup kualitas komoditas, keberlanjutan pasokan, hingga keterkaitannya dengan program penanaman mete yang dijalankan Kementerian Pertanian di sejumlah wilayah.

"Hasil studi ini menjadi bahan pengambilan keputusan kami untuk melanjutkan proses pembangunan pabrik. Jika pabrik sudah beroperasi, petani bisa langsung menjual hasil panennya ke pabrik tanpa harus melalui pengepul yang selama ini mengirimnya ke Vietnam sebelum berakhir di Belanda," ujar Andriza kepada awak media usai menemui Wali Kota Baubau, Yusran Fahim di ruang kerjanya, Rabu (2/9/2026).

Andriza mengungkapkan, kebutuhan pasar terhadap mete saat ini terus tumbuh. Cornhouse BV mencatat pengiriman mete mencapai enam kontainer per hari dengan pertumbuhan pasar sekitar 7 persen setiap tahun.

Untuk mengantisipasi kebutuhan tersebut, pabrik yang direncanakan dibangun di Sultra akan memiliki kapasitas pengolahan hingga 30 ribu ton bahan baku per tahun.

Pabrik tersebut nantinya dipusatkan di satu lokasi terpadu di Sultra.

Dari kapasitas bahan baku tersebut, produksi mete olahan diproyeksikan mencapai sekitar 8 ribu ton per tahun atau sekitar 1.800 ton per bulan.

Untuk menjaga keberlangsungan produksi, pasokan bahan baku akan mengandalkan hasil panen petani Sultra. Saat panen raya, perusahaan akan menerapkan mekanisme penyimpanan stok untuk menjaga ketersediaan bahan baku ketika produksi petani menurun.

Jika pasokan dari Sultra belum mencukupi kebutuhan pabrik, bahan baku akan didatangkan dari wilayah sekitar, seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah hingga Flores.

Rencana pembangunan pabrik juga dinilai berpotensi mengubah pola rantai pasok mete di tingkat petani.

Cornhouse BV memproyeksikan harga pembelian mete mentah dari petani lokal dapat mencapai Rp35.000 per kilogram.

Menurut Andriza, harga tersebut masih memungkinkan perusahaan bersaing dengan harga mete di pasar Vietnam. Perhitungan itu menggunakan asumsi rendemen sekitar 285 gram per kilogram bahan baku.

Produk olahan yang dihasilkan dari Sultra pun dinilai memiliki daya saing karena rantai pasok yang lebih pendek.

"Dengan kalkulasi harga beli Rp35.000 di tingkat petani, kita masih sanggup bersaing dengan harga mete di Vietnam. Rantai pasok yang lebih pendek ini membuat pabrik bisa meraih untung, dan di saat yang sama teman-teman petani juga mendapatkan keuntungan yang adil," kata Andriza.

Jika rencana tersebut terealisasi, pembangunan pabrik pengolahan mete tidak hanya membuka peluang hilirisasi komoditas perkebunan di Sultra, tetapi juga berpotensi memperpendek jalur distribusi dari petani menuju pasar pengolahan.

Dengan begitu, mete yang selama ini dipasarkan melalui sejumlah mata rantai perdagangan dapat diproses lebih dekat dengan sumber bahan bakunya di Sultra.


Editor: Andise SL

Berita BerikutnyaHarga Naik, Pengeluaran Meningkat, Sultra Inflasi 3,35 Persen, Kendari Tertinggi
Bagikan:

Baca Juga